Skip to main content

Menunda Pulang


Sebenarnya, sore itu aku sudah berhenti berharap.

Sejak siang aku tidak melihatnya sama sekali. Jam demi jam berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadirannya. Lama-kelamaan aku mulai menerima kenyataan bahwa mungkin hari itu akan berakhir seperti hari-hari lain ketika kami tidak sempat berpapasan. Tidak apa-apa, kataku pada diri sendiri. Toh dunia tidak akan berhenti hanya karena hari ini aku tidak melihat wajahnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

Berkas-berkas yang berserakan di meja mulai kurapikan satu per satu. Botol minum kumasukkan ke dalam tas. Laptop sudah kututup. Meja kerja kembali bersih seperti semula. Semua tanda menunjukkan bahwa hari ini benar-benar selesai.

Setidaknya, begitulah yang kukira.

Saat aku hampir melangkah meninggalkan ruangan, tanpa sengaja pandanganku mengarah ke pintu.

Dan di sanalah dia.

Entah sejak kapan datangnya.

Aku hanya melihat sosoknya melintas di samping pintu, lalu berjalan pelan menuju loker.

Sesederhana itu.

Namun entah mengapa, pemandangan yang hanya berlangsung beberapa detik itu mampu membuat seluruh rencana pulangku mendadak berantakan.

Untuk kesekian kalinya, otakku seperti kehilangan kemampuan berpikir.

Aku mematung.

Bukan karena terkejut melihatnya, melainkan karena aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Tetap pulang?

Atau menunggu sebentar?

Menyapanya?

Atau kembali berpura-pura sibuk seperti biasanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bersamaan, saling bertabrakan, hingga tak satu pun berhasil kutemukan jawabannya.

Akhirnya aku mengambil keputusan yang paling sering kupilih selama ini.

Menunda pulang.

Aku mencari-cari alasan kecil agar tetap berada di ruangan itu beberapa menit lebih lama. Barangkali masih ada pekerjaan yang bisa dibereskan. Barangkali masih ada sesuatu yang perlu dicek sebelum benar-benar meninggalkan kantor.

Padahal aku tahu, alasannya bukan itu.

Aku hanya ingin melihatnya sedikit lebih lama.

Kemarin aku tidak sempat bertemu dengannya. Hari ini rasanya sayang jika kesempatan itu kulewatkan begitu saja.

Tentu saja aku tetap menjaga jarak.

Aku tidak ingin terlihat terlalu sering memandang ke arahnya.

Tatapanku kubagi ke banyak arah. Kadang ke layar komputer yang sebenarnya sudah tidak kukerjakan apa-apa. Kadang ke orang-orang yang lalu-lalang. Kadang ke arah lain, sebelum akhirnya diam-diam kembali memastikan bahwa dia masih berada di sana.

Aku belajar mencuri pandang tanpa terlihat sedang mencuri pandang.

Setidaknya begitulah yang ingin kupercayai.

Sesekali aku merasa ia juga bergerak ke area yang sama, seolah ada beberapa momen ketika jarak kami kembali menjadi lebih dekat. Bisa jadi itu hanya kebetulan. Bisa jadi memang aktivitas sore hari membuat lintasan kami beberapa kali bersinggungan. Namun pikiranku, seperti biasa, selalu sibuk menerjemahkan setiap peristiwa kecil menjadi kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu benar.

Dan di situlah letak lucunya.

Aku berkali-kali membayangkan bagaimana jika akhirnya kami benar-benar berdiri berhadapan.

Lalu apa?

Aku akan mengatakan apa?

Semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa aku sebenarnya tidak punya banyak pertanyaan lagi tentang dirinya.

Sedikit demi sedikit aku sudah mengenal banyak hal tentangnya. Kebiasaannya. Cara berjalannya. Waktu-waktu ketika ia biasanya datang. Bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah ia sadari telah terekam begitu saja di dalam ingatanku.

Yang belum pernah kutemukan jawabannya hanya satu.

Apa sebenarnya yang ia rasakan?

Pertanyaan itu selalu menjadi pusat dari semua kebingunganku.

Namun ironisnya, justru pertanyaan itulah yang paling tidak mungkin sanggup kuucapkan.

Aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya.

Bukan karena aku takut mendengar jawaban yang jujur.

Aku justru takut jika jawaban itu mengakhiri semua ruang yang selama ini masih bisa kuisi dengan harapan.

Selama tidak pernah ditanyakan, selama tidak pernah dijawab, perasaan ini akan tetap hidup di wilayah yang abu-abu.

Melelahkan, memang.

Tetapi mungkin justru karena abu-abunya itulah aku masih bisa bertahan, menikmati setiap pertemuan yang singkat, setiap tatapan yang samar, dan setiap sore yang selalu berhasil membuatku pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Comments

Popular posts from this blog

Cody Simpson - La Da Dee (Arti Lagu)

Kalo ngomong soal lagu, dari beberapa lagu yang beberapa hari ini sudah terposting, kayaknya lagu inilah yang cocok denganku. Dari segi lirik, kayaknya mampu menggambarkan seperti apakah jalan pikiranku selama beberapa bulan ini. Biasalah, seperti postinganku sebelumnya, aku memang tipe laki-laki pemuja masa lalu. Selalu saja ingin mengulang masa lalu, karena rasa nyaman yang aku dapatkan dari masa lalu itulah aku ingin mengulangnya selalu. Baiklah, kali ini bukan bercerita tentang curhatanku, tapi postingan kali ini untuk mengartikan lagu-lagu yang menurutku memang enak didengarkan dalam minggu-minggu ini.  Kali ini yang mampu menggambarkan suasana hatiku adalah lagunya Cody Simpson - La Da Dee. There's no way to say this song's about someone else Every time you're not in my arms I start to lose myself Someone please pass me my shades Don't let 'em see me down You have taken over my days So tonight I'm going out Dalam bait ini menjel...

Was a Story Only I Didn’t Know

Kamu benar-benar telah melupakan segalanya Terlihat dari caramu menyapaku Sambutmu melukaiku Samar-samar, mulai mengiris, mulai terasa sadis. Berpisah baik-baik Itu katamu Karena bagiku aku tak tahu Was a Story Only I Didn’t Know Apa itu namanya? Hanya cinta sesaat? Samar-samar kini aku mulai mengerti Kenapa hanya kata maaf selesaikan semua Tangisku mungkin tak lagi datang Karena bagiku itu tak penting lagi Perpisahan itu hanya cerita lama Tak perlu diungkit lagi Was a story only I didn’t know

The Raid, Kerennya Naudzubillah!

Tak banyak film Indonesia yang aku tonton. Kalau pun disuruh untuk menyebutkan satu persatu, mungkin aku bisa menyebutkan judul-judulnya. Yah, jarang-jarang lho aku nonton film Indonesia. Meski aku bangga dengan produk dalam negeri, tapi untuk menonton hasil kerja dari sineas Indonesia, kayaknya tunggu dulu deh! Aku belum yakin dengan karya mereka, apalagi harus duduk manis di depan layar menyaksikan film-film buatan dalam negeri.    Meski aku sudah yakin tidak akan nonton film dalam negeri, Tapi itu tidak berlaku dengan film The Raid ini. Asal tahu aja, tiga film yang pernah aku tonton di bioskop, pertama Laskar Pelangi, kedua Sang Pemimpi, dan yang ketiga adalah The Raid ini.   Bukan, bukan karena film ini mendapat pujian dan beberapa penghargaan di beberapa ajang yang pernah diadakan di beberapa dunia yang membuatku menonton film ini. Aku menonton film ini karena ajakan seseorang yang baru aku kenal di dunia maya. Itu pun aku tidak mau berespektasi terlalu t...