Lucu ya.
Ketika banyak orang mengeluhkan hari Senin, aku justru diam-diam menunggunya datang.
Mereka membenci alarm yang berbunyi terlalu pagi, kemacetan jalan yang kembali penuh, tumpukan pekerjaan yang mulai menggunung, dan rutinitas yang kembali mengikat setelah libur sehari. Hari Senin bagi banyak orang adalah awal dari kelelahan.
Sedangkan bagiku, hari Senin adalah kemungkinan.
Kemungkinan untuk kembali melihatnya.
Mungkin terdengar berlebihan. Bahkan aku sendiri kadang menertawakan cara pikirku yang seperti ini. Hanya karena satu orang, kalender seolah memiliki makna yang berbeda. Hari-hari yang biasanya terasa biasa saja mendadak memiliki urutan yang kutunggu. Sabtu, Minggu, lalu Senin.
Seakan-akan dua hari libur itu hanyalah jeda yang harus kulewati sebelum akhirnya semesta kembali mempertemukan kami.
Padahal aku tahu, ketika hari Senin benar-benar datang, belum tentu ada sesuatu yang istimewa.
Kemungkinan besar kami hanya akan saling berpapasan.
Mungkin hanya bertemu beberapa detik.
Mungkin hanya saling melihat tanpa sengaja.
Mungkin bahkan tidak ada tatapan sama sekali.
Apalagi sapaan.
Itu rasanya masih terlalu jauh untuk kami.
Kami tetap akan menjadi dua orang yang berjalan pada lintasannya masing-masing, sibuk dengan pekerjaan sendiri, sesekali berada dalam ruangan yang sama, lalu pulang tanpa pernah benar-benar berbicara.
Aneh sekali.
Aku mengetahui semua kemungkinan itu.
Aku sadar tidak ada janji bahwa Senin akan menghadiahkan momen yang indah.
Namun tetap saja aku menunggunya.
Yang lebih aneh lagi, ternyata bagian yang paling kunikmati bukanlah saat bertemu dengannya.
Melainkan masa sebelum pertemuan itu terjadi.
Masa menunggu.
Masa ketika imajinasi mulai bekerja tanpa diminta.
Aku mulai membayangkan bagaimana ia akan datang.
Baju warna apa yang akan dikenakannya.
Apakah ia datang lebih pagi atau justru terlambat seperti biasanya.
Apakah kami akan berpapasan di parkiran.
Atau mungkin di depan loker.
Atau hanya saling melihat sekilas ketika sama-sama sibuk berjalan menuju ruangan masing-masing.
Semua kemungkinan itu berputar pelan di kepalaku, seperti potongan-potongan adegan yang belum pernah terjadi tetapi terasa begitu nyata.
Dan anehnya, khayalan itu sudah cukup membuatku tersenyum.
Padahal kenyataannya sering kali jauh lebih sederhana.
Kadang aku hanya melihatnya berjalan beberapa menit.
Kadang ia sudah pulang ketika pekerjaanku belum selesai.
Kadang kami hanya berada dalam ruangan yang sama tanpa satu pun alasan untuk saling berbicara.
Namun sebelum semua kenyataan itu datang, khayalanku selalu lebih dahulu membangun dunia yang jauh lebih indah.
Mungkin memang begitulah cara rindu bekerja.
Ia tidak selalu meminta pertemuan.
Kadang ia hanya membutuhkan harapan bahwa pertemuan itu mungkin terjadi.
Dan selama harapan itu masih ada, hati ini akan terus menemukan alasan untuk menunggu.
Aku jadi berpikir, jangan-jangan yang selama ini membuatku bahagia bukan semata-mata kehadirannya.
Melainkan harapan akan kehadirannya.
Sebab harapan selalu memiliki cara yang lembut untuk menghidupkan hari-hari yang sebenarnya biasa saja.
Entahlah.
Mungkin suatu hari nanti aku akan kembali menganggap hari Senin sama seperti orang-orang lain, melelahkan, penuh pekerjaan, dan terlalu cepat datang setelah akhir pekan.
Namun selama masih ada seseorang yang diam-diam kutunggu berada di balik pintu masuk kantor itu, sepertinya hari Senin akan tetap menjadi hari yang paling ingin segera tiba.
Bukan karena akan terjadi sesuatu yang luar biasa.
Melainkan karena di dalam khayalanku, pertemuan yang hanya berlangsung beberapa detik pun mampu terasa lebih panjang daripada seluruh akhir pekan yang kulewati tanpanya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!