Menunggu Sebuah Moment dan Kesempatan
Kadang, di tengah semua kebingungan ini, justru rasa kasihan yang lebih dulu datang.
Entah kenapa aku sering membayangkan, jika memang selama ini ada upaya-upaya kecil untuk menarik perhatianku, betapa melelahkannya berada di posisi itu. Betapa melelahkannya terus berusaha terlihat, sementara orang yang ingin dilihat justru memilih berpura-pura sibuk dengan dunianya sendiri.
Barangkali aku sedang terlalu banyak berasumsi.
Barangkali semua itu memang hanya cara pikirku yang gemar menyusun cerita dari potongan-potongan peristiwa. Namun, kalau pun dugaanku benar, aku kadang merasa tidak enak juga. Sebab aku tahu rasanya menunggu.
Aku sudah cukup lama menunggu dua pesan yang tak pernah mendapat balasan. Menunggu sebuah sapaan yang tak pernah benar-benar datang. Menunggu keberanian yang selalu terasa hanya tinggal selangkah lagi, tetapi tidak pernah sampai.
Menunggu ternyata melelahkan.
Dan kalau memang ia juga sedang menunggu sesuatu dariku, mungkinkah suatu hari nanti ia akan merasakan lelah yang sama?
Mungkinkah ia akhirnya menyerah, sebagaimana berkali-kali aku hampir menyerah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul begitu saja, lalu hilang sebelum sempat kujawab.
Sebenarnya, kalau hanya soal keberanian untuk berkata jujur, mungkin aku tidak sepenuhnya takut. Aku pernah membayangkan bagaimana jika suatu hari aku memilih mengakhiri semua teka-teki ini. Mengatakan apa adanya bahwa aku menyukainya, lalu membiarkan apa pun jawaban yang datang menjadi penutup cerita.
Setidaknya setelah itu aku tidak lagi sibuk menafsirkan tatapan, mengumpulkan isyarat, atau hidup di antara dugaan yang tak pernah selesai.
Masalahnya bukan pada keberanian.
Masalahnya selalu tentang waktu.
Aku tidak pernah menemukan momen yang terasa benar-benar tepat.
Di dalam kepala, semuanya terlihat sederhana. Aku bisa menyusun puluhan skenario. Kalimat pembuka, respons yang mungkin muncul, bahkan cara mengakhiri percakapan jika ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Di dalam pikiranku, semuanya tampak begitu rapi.
Namun kenyataan tidak pernah mengikuti naskah.
Begitu kami berada dalam ruang yang sama, semua rencana itu runtuh begitu saja.
Yang lebih sering terjadi justru kami saling lewat tanpa kata-kata.
Atau kami sama-sama berada dalam ruangan, tetapi selalu ada orang lain di antara kami.
Ia sering bersama teman-temannya. Tidak setiap saat memang, tetapi cukup sering hingga aku selalu merasa tidak punya ruang untuk mendekat. Ada rasa sungkan menyela obrolan mereka hanya demi memenuhi keinginanku sendiri. Rasanya aneh jika tiba-tiba menghampirinya, sementara aku bahkan belum pernah benar-benar berbincang dengannya.
Lalu muncul pikiran lain yang terdengar lebih masuk akal.
Bagaimana kalau suatu hari aku mengajaknya makan di luar saja?
Di tempat yang lebih tenang.
Tanpa keramaian.
Tanpa tatapan orang-orang.
Tanpa rasa canggung karena harus menjaga sikap di lingkungan kerja.
Setidaknya kami bisa berbicara sebagai dua orang yang sedang mencoba saling mengenal, bukan dua orang yang terus-menerus bersembunyi di balik keramaian.
Namun lagi-lagi, ide itu hanya berhenti sebagai ide.
Aku tidak pernah tahu kapan waktu yang tepat.
Besok terasa terlalu cepat.
Minggu depan mungkin sudah terlambat.
Dan selama aku masih sibuk mencari momen yang sempurna, waktu diam-diam terus berjalan, membawa kami pada hari-hari yang isinya hanya pengulangan.
Mungkin memang bukan keberanian yang kurang.
Mungkin yang belum pernah benar-benar kami miliki hanyalah kesempatan yang sama-sama berani kami ambil.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!