Merencanakan untuk Pindah

 


Akhir-akhir ini aku mulai memikirkan satu kemungkinan yang sebelumnya selalu kutolak.

Mungkin aku memang harus pergi.

Bukan karena aku membencinya. Bukan pula karena perasaanku telah hilang. Justru sebaliknya. Aku merasa perasaan ini berkembang terlalu jauh, sementara hubungan kami tidak bergerak ke mana-mana. Yang tumbuh hanya angan-angan. Yang bertambah hanya dugaan. Sedangkan kenyataannya tetap sama, kami masih dua orang yang lebih banyak saling memperhatikan daripada saling berbicara.

Dan mungkin, itu yang mulai membuatku takut.

Aku merasa terlalu lama hidup di dalam kisah yang tidak memiliki nama. Setiap pertemuan menjadi bahan renungan. Setiap tatapan berubah menjadi pertanyaan. Setiap kebetulan kucoba tafsirkan, lalu kupikirkan lagi ketika malam datang. Perlahan-lahan, pikiranku membangun cerita yang semakin panjang, sementara kenyataannya hampir tidak pernah berubah.

Aku khawatir jika terus seperti ini, suatu hari nanti aku akan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya hidup di dalam kepalaku.

Aku tidak ingin sampai sejauh itu.

Karena itulah, belakangan muncul keinginan untuk meminta dipindahkan ke kantor cabang.

Keputusan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya tidak mudah. Ada banyak hal yang harus kupikirkan. Lingkungan baru, ritme kerja baru, orang-orang baru. Namun di balik semua pertimbangan itu, sebenarnya hanya ada satu alasan yang terus menggangguku.

Aku ingin memutus mata rantai dari hubungan yang tidak pernah benar-benar dimulai ini.

Mungkin jarak adalah satu-satunya cara yang belum pernah kucoba.

Selama ini aku selalu mencoba mengelola perasaan sambil tetap berada di tempat yang sama, bertemu orang yang sama, dan menjalani rutinitas yang sama. Mungkin itulah sebabnya aku tidak pernah benar-benar selesai. Setiap kali merasa mulai bisa melupakan, aku kembali melihatnya. Lalu semua yang sudah susah payah kutata perlahan berantakan lagi.

Barangkali aku memang membutuhkan ruang.

Ruang untuk bernapas.

Ruang untuk mendengar isi kepalaku sendiri tanpa terus-menerus dipengaruhi oleh kehadirannya.

Aku bahkan membayangkan, jika nanti benar-benar pindah, mungkin suatu hari aku akan kembali lagi. Bukan untuk mengejarnya, melainkan untuk menguji diriku sendiri.

Apakah ketika bertemu lagi aku masih merasakan hal yang sama?

Apakah rasa ini tetap tinggal setelah dipisahkan oleh waktu dan jarak?

Ataukah ternyata selama ini aku hanya jatuh cinta pada kebiasaan melihatnya setiap hari?

Pertanyaan itu terasa penting.

Karena sampai hari ini pun aku belum benar-benar yakin dengan apa yang kurasakan.

Aku memang menyukainya. Tentang itu aku sudah berhenti menyangkal.

Tetapi apakah aku mencintainya sepenuh hati?

Ataukah aku hanya mengagumi sosoknya dari kejauhan?

Aku belum menemukan jawabannya.

Bisa jadi selama ini yang kurindukan bukan dirinya, melainkan perasaan yang muncul setiap kali melihatnya. Perasaan yang membuat hari-hariku lebih berwarna di tengah tekanan pekerjaan. Perasaan yang menjadi jeda dari rutinitas yang melelahkan. Jika demikian, maka rasa itu mungkin akan memudar ketika jarak mulai bekerja.

Namun jika setelah semua itu berlalu aku masih tetap mencarinya, masih tetap merindukannya, dan masih berharap bisa melihatnya lagi, mungkin saat itulah aku tahu bahwa perasaan ini memang lebih dalam daripada sekadar kekaguman.

Entahlah.

Untuk pertama kalinya, aku merasa pergi bukan berarti menyerah.

Mungkin justru dengan pergi aku sedang berusaha menyelamatkan diriku sendiri. Menjauh bukan karena membenci, melainkan agar aku tidak semakin larut dalam cerita yang seluruh arahnya masih ditentukan oleh dugaan.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)