Skip to main content

Mood-ku Hari Ini Begitu Bergantung pada Keberadaannya


Pertemuan sore ini meninggalkan sesuatu yang tidak nyaman di dalam diriku.

Bukan karena terjadi pertengkaran. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan. Bahkan tidak ada percakapan sama sekali.

Justru karena tidak ada apa-apa itulah, semuanya terasa jauh lebih berat.

Kami datang hampir bersamaan.

Aku baru saja turun dari kendaraan dan masih sibuk meraih tasku yang terselip di jok ketika kulihat dia datang dari arah luar. Tanpa ragu ia melangkah lebih dulu memasuki gedung. Aku sengaja memperlambat gerakanku. Merapikan tas yang sebenarnya sudah rapi, memastikan pintu kendaraan terkunci, lalu berjalan menyusul beberapa saat kemudian.

Aku sudah tahu kemungkinan kami akan berpapasan.

Dan ternyata memang terjadi.

Ia berjalan melewatiku.

Aku juga melewatinya.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada anggukan kecil yang biasanya dilakukan orang-orang ketika saling mengenal.

Hanya dua orang yang saling mengetahui keberadaan masing-masing, tetapi memilih membiarkan jarak tetap utuh.

Aneh sekali.

Padahal dulu aku pernah memberanikan diri memulai semuanya.

Aku masih ingat betul bagaimana akhirnya aku mengirimkan sapaan itu melalui media sosial. Waktu itu aku benar-benar percaya, mungkin kecanggungan yang selama ini hanya diisi saling menatap dari kejauhan akan sedikit mencair jika salah satu dari kami lebih dulu membuka percakapan.

Aku memilih menjadi orang itu.

Kupikir, tidak ada salahnya menyapa.

Kupikir, paling tidak kami akan menjadi orang yang saling mengenal.

Kupikir, setelah itu semuanya akan terasa lebih mudah.

Ternyata tidak.

Pesan itu tidak pernah benar-benar mendapat jawaban yang kutunggu.

Sejak saat itu, setiap kali bertemu dengannya, rasa malu itu selalu datang lebih dulu dibandingkan rasa rinduku.

Malu karena pernah berharap.

Malu karena pernah merasa cukup berani.

Malu karena sekarang aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Mungkin itulah sebabnya aku memilih menutup diri.

Bukan karena tidak ingin berbicara dengannya.

Justru karena terlalu ingin, tetapi tidak lagi memiliki keberanian yang sama seperti dulu.

Sepanjang hari kami berada dalam ruangan yang sama, tetapi rasanya seperti hidup di dua dunia yang berbeda.

Sesekali mata kami bertemu.

Hanya sebentar.

Lalu masing-masing kembali pada aktivitasnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tatapan itu masih ada.

Namun tidak pernah berkembang menjadi kata.

Dan aku mulai lelah hidup di antara tatapan-tatapan yang tidak pernah selesai itu.

Sore harinya, sebenarnya ada satu kesempatan lagi.

Aku hendak menuju loker untuk mengambil barang.

Ketika langkahku hampir sampai, aku melihat dia berada di sana.

Seketika aku berhenti.

Pikiranku mendadak kosong.

Kalau aku tetap berjalan, kami pasti akan berdiri sangat dekat.

Lalu apa?

Haruskah aku menyapa?

Haruskah aku tersenyum?

Atau cukup diam seperti biasanya?

Semakin kupikirkan, semakin canggung rasanya.

Akhirnya aku melakukan hal yang paling sering kulakukan akhir-akhir ini.

Aku berbalik arah.

Aku membatalkan niatku sendiri.

Aku memilih mencari alasan lain agar tidak perlu berada sedekat itu dengannya.

Sesederhana itu.

Dan sesedih itu.

Beberapa saat kemudian, entah ke mana dia pergi.

Aku tidak menemukannya lagi.

Aku beberapa kali tanpa sadar mencarinya di sudut-sudut ruangan. Berharap melihat siluetnya, jaketnya, atau sekadar mendengar suaranya dari kejauhan.

Namun tidak ada.

Entah dia berpindah ruangan.

Entah sudah pulang.

Entah memang aku yang terlambat mencarinya.

Yang tersisa hanya rasa kosong yang perlahan merusak suasana hatiku.

Aku baru sadar, ternyata mood-ku hari ini begitu bergantung pada keberadaannya.

Kalau dia ada, hari terasa sedikit lebih ringan.

Kalau dia menghilang, entah kenapa semua terasa hambar.

Kesadaran itu justru membuatku takut.

Takut karena perasaanku mulai bergantung pada seseorang yang bahkan belum tentu memikirkan aku seperti aku memikirkannya.

Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri, mungkin sudah waktunya semua ini diakhiri.

Mungkin aku harus berhenti menunggu.

Berhenti mencari.

Berhenti berharap.

Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, selalu ada pertanyaan lain yang datang sesudahnya.

Bagaimana caranya?

Bagaimana seseorang menghentikan perasaan yang tidak pernah ia minta untuk tumbuh?

Bagaimana seseorang melupakan wajah yang hampir setiap hari ditemuinya?

Bagaimana seseorang berhenti menunggu, sementara sebagian kecil dari dirinya masih berharap suatu hari nanti semua kecanggungan ini akan berubah menjadi sebuah percakapan?

Aku tidak menemukan jawabannya.

Yang kutemukan hanya diriku sendiri, masih berdiri di tempat yang sama, di antara rasa malu karena pernah ditolak, rasa rindu yang tak kunjung reda, dan harapan yang pelan-pelan mulai belajar menerima bahwa mungkin tidak semua perasaan memang ditakdirkan untuk memiliki akhir yang jelas.

Comments

Popular posts from this blog

I am Proud to be Scout

Alhamdulillah.... Lagi-lagi harus sering memuji nama Tuhan karena tak henti-hentinya memberi nikmat kepada hambanya yang haus kasih sayang ini. *ehm.. Seperti biasa, kalau postinganku diawali dengan kata-kata seperti itu, berarti ada 'sesuatu' yang aku terima dan ingin aku bagikan ceritanya di sini. *cerita doang? garing, ah! Iya, seperti yang sudah aku bilang tadi, bahwa hari ini ada sesuatu yang akan aku ceritakan dalam blog ini. Tapi sebelum itu, aku ceritain dulu bahwa seharian ini aku lagi merasa gak enak banget. Capek pikiran, capek badan. Kalo dah begitu, bawaanya badmood. Kalo dah badmood, statusnya pasti  berubah jadi "Senggol, bacok!". *Sadis Untungnya gak lama-lama status "Senggol, bacok!"nya. Agak sorean, abis dhuhur mungkin, status itu berubah menjadi agak mendingan. Tentu bisa ditebak, sedang gimana kalo tiba-tiba status bisa berubah sedemikian rupa kayak githu. Yup, ada kabar gembira. Apakah itu? Pertama, aku dinyatakan sebagai ...

Arti Lagu JUDAS - Lady Gaga

Setelah sebelumnya gw berhasil posting tentang arti lagu dari Lady Gaga - Born This Way yang ternyata banyak dibaca oleh pengunjung blog ini, maka pada kesempatan ini gw juga ingin memposting lagu kedua dari penyanyi super nyentrik ini, JUDAS.  Judas ini kalau dilihat dari lyrics secara keseluruhan, maka Judas ini bercerita tentang cinta dan pengampunan. Atau juga tentang jatuh cinta pada cinta yang salah (Yudas bukan Yesus), namun lagu ini jauh lebih dalam dari itu. Percaya atau tidak, Gaga adalah seorang Kristen. Meski ada juga yang meragukannya. Tapi yang jelas, dia percaya Tuhan dan  mengasihi semua orang tanpa memandang siapa mereka.  Dalam lyrics pertama ia mengatakan ia akan membasuh kakinya (ada dalam praktik Kristen Ortodoks) dan meminta agar ia diampuni/dimaafkan bahkan setelah dia mengkhianati. Namanya orang, pasti pernah melakukan kesalahan. Jadi wajar kalau ada kesalahan, pasti mengharap belas kasihan. Dalam lyrics kedua, ia mengatakan dia tid...

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...