Mungkin Kisah Ini Memang Akan Berhenti Sampai di Sini
Akhir-akhir ini aku mulai merasa bahwa mungkin kisah ini memang akan berhenti sampai di sini.
Bukan karena rasa itu sudah hilang.
Justru sebaliknya.
Perasaan itu masih ada, masih tinggal dengan tenang di sudut yang sama, masih mampu membuatku tersenyum hanya karena melihat sosoknya lewat beberapa detik yang kebetulan. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh lebih besar daripada rasa suka. Kelelahan.
Aku lelah menunggu sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar dimulai.
Aku lelah hidup di antara kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah berubah menjadi kepastian.
Aku lelah menjadi penafsir bagi setiap tatapan, setiap kebetulan, setiap pertemuan singkat yang selalu kucoba susun menjadi sebuah cerita. Barangkali memang sejak awal semua ini hanya hidup di dalam kepalaku. Atau mungkin memang ada sesuatu yang sama-sama kami rasakan, tetapi sama-sama tidak pernah cukup berani untuk diucapkan. Aku tidak tahu. Dan mungkin, pada titik ini, aku mulai tidak lagi memiliki tenaga untuk terus mencari jawabannya.
Yang membuatku semakin bingung adalah kenyataan bahwa aku pun bukan orang yang berani.
Aku selalu berharap keadaan bergerak lebih dulu agar aku tidak perlu mengambil risiko. Aku memilih menunggu daripada memulai. Aku memilih diam daripada menerima kemungkinan ditolak sekali lagi. Di sisi lain, dari apa yang kulihat selama ini, semuanya juga terasa menggantung. Ada banyak momen yang menurutku seperti isyarat, ada banyak kejadian yang seolah mengajakku percaya bahwa aku tidak sendirian merasakan semua ini. Namun semua itu tetap berhenti sebagai dugaan. Tidak pernah melangkah menjadi percakapan. Tidak pernah berubah menjadi keberanian.
Akhirnya kami hanya menjadi dua orang yang, setidaknya dari sudut pandangku, sama-sama berdiri di tepi jurang keraguan.
Saling mengirim isyarat.
Saling menunggu.
Lalu sama-sama pulang tanpa membawa apa pun selain cerita yang terus berulang.
Mungkin memang begitulah akhir dari sebagian kisah. Tidak hancur oleh penolakan, melainkan habis dimakan oleh kebisuan.
Aku juga mengenal diriku sendiri.
Aku bukan tipe orang yang mampu mempertahankan rasa hanya karena rasa itu pernah besar. Aku mudah bosan. Mudah kehilangan minat ketika sesuatu terlalu lama berjalan di tempat. Yang sering kucari bukan semata-mata seseorang, melainkan sensasi hidup yang muncul ketika ada sesuatu yang membuat hari-hariku berbeda.
Barangkali terdengar egois.
Tetapi itulah kenyataannya.
Aku pernah mengatakan bahwa semua ini, tanpa kusadari, menjadi semacam suntikan endorfin di tengah hidup yang sedang terasa berat. Di sela-sela tekanan pekerjaan, keinginan untuk resign, dan berbagai hal yang membuat napas terasa pendek, kehadirannya menjadi alasan kecil untuk tetap datang ke kantor. Ada semangat yang muncul setiap kali berharap bisa bertemu, meski hanya sebentar. Ada rasa penasaran yang membuat hari-hari terasa tidak terlalu datar.
Karena itulah aku bertahan cukup lama.
Bukan semata karena cinta.
Tetapi karena kisah yang tidak selesai ini memberiku sesuatu untuk dinanti.
Namun bahkan endorfin pun tidak bekerja selamanya.
Tubuh akan terbiasa.
Hati juga demikian.
Yang dulu mampu membuatku berdebar, perlahan berubah menjadi rutinitas. Yang dulu terasa seperti kejutan, kini mulai bisa kutebak arahnya. Dan ketika rasa penasaran mulai kalah oleh rasa lelah, mungkin memang sudah waktunya aku mengakui bahwa cerita ini telah mencapai batasnya.
Aku tidak marah.
Tidak kecewa kepada siapa pun.
Aku hanya mulai merasa bahwa mungkin aku perlu melangkah ke tempat lain. Bukan untuk mencari pengganti seseorang, melainkan mencari kembali diriku yang sempat menggantungkan terlalu banyak semangat pada sebuah kemungkinan yang tak pernah benar-benar lahir.
Kalau suatu hari nanti kisah ini memang berhenti, barangkali bukan karena aku berhenti menyukai.
Melainkan karena aku akhirnya memilih berhenti menunggu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!