Mungkin Sama-sama Menunggu untuk Memulai


 Semakin kupikirkan, sebenarnya ada begitu banyak kesempatan yang mungkin bisa mengubah arah cerita ini.

Bukan kesempatan yang luar biasa. Bukan pula peristiwa dramatis seperti yang sering ada di film-film. Hanya kesempatan sederhana. Berpapasan di lorong. Berdiri berdekatan di depan loker. Sama-sama menunggu sesuatu. Atau sekadar berada dalam ruangan yang sama tanpa terlalu banyak orang di sekeliling.

Rasanya, pada momen-momen seperti itu, satu kalimat saja sudah cukup.

"Halo."

"Apa kabar?"

Atau bahkan pertanyaan receh yang sebenarnya tidak penting.

Barangkali itu sudah mampu memecahkan kebekuan yang selama ini kami pelihara.

Namun, dari apa yang kulihat, semua kesempatan itu selalu berakhir dengan cara yang sama. Ia tampak mendekat, berada dalam jarak yang cukup untuk kusadari kehadirannya, lalu berhenti sampai di sana. Tidak ada sapaan. Tidak ada percakapan. Hanya keberadaan yang menggantung, seolah memang sengaja dibiarkan menjadi teka-teki.

Mungkin aku salah menafsirkan semuanya.

Mungkin memang tidak ada maksud apa pun.

Atau mungkin memang ada sesuatu yang membuatnya mengurungkan niat setiap kali kesempatan itu datang. Aku tidak tahu. Aku hanya bisa melihat apa yang tampak di hadapanku, sementara alasan yang sesungguhnya tetap tersembunyi di dalam dirinya.

Kadang aku bertanya-tanya sendiri, jika memang ia ingin lebih dekat, mengapa keberaniannya seolah berhenti hanya sampai di sana? Mengapa cukup puas berada di sekitarku, tetapi tidak pernah benar-benar melangkah melewati batas yang paling sederhana: menyapa.

Lalu aku tertawa kecil.

Sebab pertanyaan itu ternyata pantas pula kutujukan kepada diriku sendiri.

Bukankah aku juga melakukan hal yang sama?

Bukankah aku pun berkali-kali memiliki kesempatan untuk membuka percakapan, tetapi memilih diam?

Bedanya mungkin hanya satu.

Kalau dia—setidaknya menurut dugaanku—berhenti pada jarak tertentu, aku justru sengaja menciptakan jarak itu. Aku memilih menjadi pengamat. Memperhatikan dari kejauhan. Mengumpulkan potongan-potongan momen, lalu membiarkannya hidup sebagai kenangan tanpa pernah mencoba mengubahnya menjadi kenyataan.

Aku sebenarnya mampu memulai percakapan.

Aku tahu itu.

Bahkan berkali-kali aku sudah menyusun kalimat di dalam kepala. Menyiapkan berbagai kemungkinan jawaban. Membuat skenario tentang bagaimana pembicaraan itu akan dimulai, berkembang, lalu berakhir dengan biasa saja.

Namun ketika kesempatan benar-benar datang, semua naskah itu hilang begitu saja.

Yang tersisa hanya diam.

Diam yang lama-kelamaan berubah menjadi kebiasaan.

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa aku memilih bersikap seperti ini?

Apakah ini bentuk balas dendam kecil karena sapaan yang pernah kukirim tidak pernah mendapat balasan?

Apakah egoku masih terlalu besar untuk kembali membuka pintu yang dulu sempat kututup sendiri?

Ataukah sebenarnya aku sudah terlalu lelah berharap, sehingga tanpa kusadari aku memilih menjadi penonton daripada pemain?

Aku tidak memiliki jawaban yang pasti.

Mungkin sedikit karena ego.

Mungkin sedikit karena takut.

Mungkin juga karena aku mulai sadar bahwa mempertahankan harapan yang tidak pernah bergerak ternyata jauh lebih melelahkan daripada melepaskannya.

Yang ironis, kami mungkin sama-sama menunggu seseorang untuk memulai.

Dan jika benar demikian, cerita ini barangkali memang ditakdirkan berhenti bukan karena tidak ada rasa, melainkan karena keberanian kami selalu datang terlambat, atau bahkan tidak pernah datang sama sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)