Semakin lama bekerja, semakin sering aku memperhatikan satu pola yang berulang setiap kali ada seseorang tersandung masalah. Entah itu kesalahan kecil, persoalan pekerjaan, atau kasus yang kemudian menjadi pembicaraan banyak orang, selalu saja ada orang-orang yang tiba-tiba muncul seolah memiliki peran penting di dalamnya.
Padahal sebelumnya mereka nyaris tidak terdengar.
Namun ketika sebuah kasus mulai ramai dibicarakan, mereka datang. Ada yang bercerita seolah-olah dirinya adalah saksi utama. Ada yang mengaku paling tahu duduk perkaranya. Ada yang berbicara dengan penuh keyakinan meski sebagian ceritanya hanya berasal dari potongan-potongan kabar yang belum tentu utuh. Bahkan ada yang tanpa sadar menambahkan bumbu di sana-sini sehingga persoalan yang awalnya kecil berubah menjadi cerita yang jauh lebih dramatis.
Aku benar-benar tidak habis pikir melihatnya.
Entah kenapa, setiap kali ada orang yang sedang jatuh, selalu ada penonton yang ingin berdiri paling depan. Seolah-olah musibah orang lain adalah panggung untuk menunjukkan bahwa dirinya paling peduli, paling tahu, atau paling berjasa.
Kadang aku bertanya dalam hati, kenapa tidak diam saja?
Bukankah ketika seseorang sedang menghadapi masalah, hal yang paling dibutuhkan justru ruang agar persoalan itu bisa diselesaikan dengan tenang? Bukankah semakin sedikit orang yang ikut menyulut keadaan, semakin besar peluang masalah itu selesai tanpa meninggalkan luka yang lebih dalam?
Aku mungkin terlalu sederhana memandang persoalan ini.
Menurutku, kalau sebuah masalah masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan, mengapa harus didorong menjadi konsumsi banyak orang? Kalau masih bisa dibicarakan baik-baik, mengapa harus dibesarkan seolah-olah seluruh dunia harus ikut menjadi hakim?
Karena semakin besar sebuah perkara, biasanya semakin banyak pula orang yang ikut terluka.
Bukan hanya orang yang sedang tersandung kasus.
Keluarganya ikut menanggung beban.
Teman-temannya ikut terkena imbas.
Lingkungan kerja ikut menjadi tidak nyaman.
Bahkan nama institusi tempat ia bekerja pun sering ikut terseret, meskipun sebenarnya persoalan itu bisa saja diselesaikan dengan lebih bijaksana.
Aku percaya, setiap orang pasti memiliki kemungkinan mengalami hari terburuk dalam hidupnya.
Tidak ada seorang pun yang bangun pagi sambil berkata, "Hari ini aku ingin membuat kesalahan."
Hari sial tidak pernah tertulis di kalender. Ia datang tanpa pemberitahuan. Kadang karena kelalaian sendiri, kadang karena keadaan yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan, kadang pula karena rangkaian peristiwa yang tidak pernah direncanakan.
Cepat atau lambat, hampir semua orang akan merasakannya.
Karena itulah aku selalu berpikir, ketika melihat orang lain sedang jatuh, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah tambahan suara yang memperbesar kegaduhan. Yang dibutuhkan justru adalah orang-orang yang mampu menahan diri agar api tidak semakin membesar.
Jangan menjadi bensin ketika yang dibutuhkan adalah air.
Sayangnya, dunia sering berjalan sebaliknya.
Semakin besar masalah, semakin banyak orang ingin ikut berbicara.
Semakin ramai sebuah kasus, semakin banyak yang ingin terlihat memiliki andil di dalamnya. Ada yang ingin dianggap sebagai penyelamat. Ada yang ingin terlihat paling benar. Ada yang seolah mencari pengakuan karena merasa menjadi bagian penting dari penyelesaian persoalan.
Padahal belum tentu kehadiran mereka benar-benar membantu.
Kadang yang mereka tinggalkan justru kepanikan baru, prasangka baru, dan luka yang semakin sulit disembuhkan.
Mungkin karena itulah aku lebih memilih menjaga jarak dari gosip dan keramaian semacam itu. Bukan karena merasa lebih baik daripada orang lain, tetapi karena aku tahu bagaimana rasanya berada di posisi orang yang sedang disorot. Aku tahu betapa beratnya menghadapi satu kesalahan yang terus diperbesar oleh banyak mulut. Aku tahu bagaimana satu cerita bisa berubah bentuk setiap kali berpindah dari satu orang ke orang berikutnya.
Pengalaman itu membuatku belajar satu hal sederhana.
Kalau aku tidak bisa membantu menyelesaikan masalah seseorang, setidaknya jangan menjadi bagian yang membuat masalah itu semakin rumit.
Karena dunia ini sudah cukup keras bagi orang-orang yang sedang jatuh.
Tidak semua api harus kita kipasi agar terlihat lebih besar. Kadang, sikap paling dewasa justru adalah memilih diam, memberi ruang, dan membiarkan penyelesaian berjalan tanpa perlu menjadikan penderitaan orang lain sebagai panggung bagi diri sendiri.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!