Di antara sekian banyak pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalaku, sepertinya aku mulai menemukan satu pola yang terus berulang.
Pola itu sederhana, tetapi baru kusadari setelah berbulan-bulan menjalani kisah yang tidak pernah benar-benar bergerak ke mana-mana.
Aneh sekali.
Setiap kali kami bertemu, justru tidak banyak yang kurasakan.
Tidak ada ledakan emosi yang dramatis. Tidak selalu ada jantung yang berlari lebih cepat. Bahkan belakangan ini, aku sering merasa biasa saja ketika berada dalam ruangan yang sama dengannya. Aku masih menyukainya, tentu saja. Aku masih beberapa kali mencarinya dengan pandangan. Aku masih diam-diam merasa senang ketika tahu ia datang. Namun ketika jarak kami begitu dekat, semua perasaan itu seperti mengendap begitu saja. Hening. Datar. Seolah ada sesuatu di dalam diriku yang sengaja mematikan seluruh gejolak agar aku tetap mampu berdiri dengan tenang di hadapannya.
Barangkali tubuhku sedang melindungi diriku sendiri.
Barangkali rasa gugup yang dulu terlalu besar kini memilih bersembunyi.
Atau mungkin, ketika benar-benar berhadapan dengannya, otakku justru terlalu sibuk memikirkan bagaimana harus bersikap. Haruskah aku menoleh? Haruskah aku tersenyum? Haruskah aku berpura-pura tidak melihat? Begitu banyak hal yang harus diproses dalam hitungan detik hingga tak ada ruang lagi bagi perasaan untuk ikut berbicara.
Lucunya, semuanya justru berubah ketika kami sudah berjauhan.
Ketika aku sudah berada di rumah.
Ketika malam mulai sunyi.
Ketika tidak ada lagi kemungkinan kami berpapasan di lorong atau saling melihat tanpa sengaja.
Saat itulah pikiranku mulai bekerja.
Satu demi satu potongan kejadian yang tadi terasa biasa, tiba-tiba diputar ulang dengan begitu jelas. Cara ia berjalan. Cara ia menoleh. Warna baju yang dikenakannya. Senyum yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Bahkan hal-hal kecil yang sempat kulewatkan ketika kejadian itu berlangsung, mendadak muncul kembali dengan detail yang tidak kusangka masih kuingat.
Lalu, tanpa aba-aba, rasa rindu itu datang.
Padahal beberapa jam sebelumnya aku merasa baik-baik saja.
Padahal ketika berada di dekatnya aku nyaris tidak merasakan apa-apa.
Mengapa justru setelah semuanya selesai, hatiku baru menyadari bahwa ternyata aku ingin melihatnya lebih lama?
Mengapa otakku selalu terlambat memahami apa yang sedang kurasakan?
Kadang aku membayangkan, mungkin perasaanku memang bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak pandai bereaksi pada saat kejadian berlangsung. Ia membutuhkan jarak. Membutuhkan kesunyian. Membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya, sebelum akhirnya mengirimkan satu kesimpulan sederhana kepadaku.
"Kamu ternyata merindukannya."
Dan setiap kali kesimpulan itu datang, semuanya sudah terlambat.
Hari telah berganti.
Pertemuan telah selesai.
Yang tersisa hanya ingatan yang terus berulang seperti film yang diputar berkali-kali.
Mungkin itulah mengapa aku selalu memiliki begitu banyak cerita untuk ditulis. Bukan karena setiap hari terjadi sesuatu yang luar biasa, melainkan karena setiap pertemuan baru benar-benar hidup setelah semuanya berakhir.
Aku tidak jatuh cinta ketika sedang menatapnya.
Aku justru jatuh cinta lagi ketika ia sudah tidak ada di hadapanku.
Barangkali itulah pola yang selama ini tidak kusadari.
Aku tidak merasakan rindu saat bersama dengannya.
Aku baru merindukannya ketika ia telah menjadi kenangan di hari itu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!