Seperti Rindu yang Harus Dibayar Tuntas


 Ada perasaan yang sulit sekali kuberi nama.

Bukan sedih. Rasanya juga bukan rindu, setidaknya belum. Hanya seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitasku selama dua hari terakhir, tetapi aku sendiri tidak mampu menjelaskan apa sebenarnya yang hilang itu.

Mungkin bukan kehadirannya.

Mungkin hanya kebiasaan melihatnya.

Selama ini aku terbiasa menangkap sosoknya sesekali berseliweran di hadapanku. Kadang hanya lewat beberapa detik, kadang sekadar melintas di ujung lorong, kadang muncul begitu saja di sudut ruangan hingga tanpa sadar mataku mengikuti pergerakannya. Hal-hal kecil seperti itulah yang, rupanya, diam-diam menjadi bagian dari ritme hari-hariku.

Lalu dua hari ini semuanya berubah.

Aku tidak menemukannya.

Tidak ada sosok yang tiba-tiba melintas. Tidak ada pertemuan singkat yang biasanya hanya berlangsung beberapa detik. Tidak ada momen ketika aku harus pura-pura sibuk agar tidak terlalu jelas sedang memperhatikannya.

Kosong.

Dan justru kekosongan itulah yang membuatku bingung.

Entah ia sedang berada di mana. Entah sedang sibuk mengerjakan apa. Entah memang tidak masuk, sedang ada tugas di tempat lain, atau mungkin kami hanya tidak berada di waktu dan tempat yang sama. Ada terlalu banyak kemungkinan, tetapi tidak satu pun yang bisa kupastikan.

Beberapa kali muncul keinginan untuk mencari tahu.

Namun aku segera mengurungkannya.

Aku tidak cukup dekat dengan orang-orang di sekitarnya. Aku memang mengenali beberapa wajah, tetapi mengenal tidak selalu berarti akrab. Rasanya akan sangat aneh jika tiba-tiba aku bertanya, "Dia ke mana?" atau "Hari ini tidak masuk ya?" Pertanyaan sesederhana itu justru bisa memunculkan pertanyaan baru dari orang lain.

Mengapa aku bertanya?

Seberapa dekat hubunganku dengannya?

Apa pentingnya bagiku mengetahui keberadaannya?

Aku belum siap menjawab semua itu.

Karena itulah aku memilih diam.

Diam, lalu membiarkan pikiranku sibuk membuat dugaan-dugaan yang mungkin sama sekali tidak benar.

Yang paling menggangguku justru bukan ketidakhadirannya, melainkan kenyataan bahwa aku mulai sadar betapa terbiasanya diriku dengan keberadaan seseorang yang sebenarnya tidak pernah menjadi bagian dari hidupku secara utuh. Kami tidak pernah benar-benar berbincang. Tidak saling berkabar. Tidak memiliki janji untuk bertemu. Namun ketika rutinitas kecil itu menghilang selama dua hari, ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa begitu jelas.

Aku sempat bertanya kepada diriku sendiri, apakah ini rindu?

Anehya, jawabannya belum tentu.

Rindu biasanya memiliki arah. Ada keinginan kuat untuk bertemu, mendengar suara, atau sekadar memastikan seseorang baik-baik saja.

Sedangkan yang kurasakan sekarang lebih mirip kehilangan ritme. Seperti mendengarkan lagu yang tiba-tiba kehilangan satu instrumen penting. Melodinya masih sama, tetapi ada bagian yang terasa kurang, meski sulit menjelaskan bagian mana.

Barangkali aku bukan sedang merindukannya.

Barangkali aku hanya sedang merindukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa sadar telah menjadi bagian dari hari-hariku.

Atau mungkin aku hanya sedang berusaha menyangkal bahwa ternyata kehadirannya memang sudah mengambil porsi yang lebih besar daripada yang selama ini berani kuakui.

Entahlah.

Aku tidak tahu mana yang benar.

Yang kutahu hanya satu, dua hari ini terasa sedikit lebih sepi. Bukan karena dunia berubah, melainkan karena ada satu sosok yang biasanya muncul tanpa sengaja kini tidak lagi berada dalam jangkauan pandangku. Dan anehnya, justru dari ketidakhadiran itulah aku menyadari bahwa ada kekosongan yang selama ini tidak pernah kusadari keberadaannya. Mungkin besok ia akan muncul lagi seperti biasa, dan semua ini akan terasa berlebihan. Atau mungkin tidak. Untuk sementara, aku hanya bisa menerima bahwa ada perasaan yang belum mampu kuberi nama.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)