Skip to main content

Sisa-sisa Pikiranku yang Terlalu Sering Memikirkannya


Semalam aku kembali bertemu dengannya.

Aneh rasanya mengatakan itu, sebab pertemuan ini bukan terjadi di lorong kantor, bukan pula di dekat loker, atau di antara kesibukan yang biasanya menjadi saksi bisu tatapan-tatapan singkat kami. Pertemuan itu terjadi di tempat yang bahkan tidak bisa kupilih untuk kudatangi. Tempat yang datang begitu saja ketika mataku terpejam.

Semuanya terasa begitu nyata.

Aku masih mengingat setiap detiknya dengan jelas.

Awalnya dia berjalan ke arahku.

Langkahnya pelan, tenang, seolah sudah tahu bahwa aku tidak akan ke mana-mana. Sementara aku justru berdiri mematung. Entah kenapa, seluruh keberanian yang sering kususun di dalam kepala mendadak lenyap. Otakku membeku. Tidak ada satu pun kalimat yang berhasil kususun. Mulutku kelu. Bahkan sekadar mengangkat tangan pun terasa sulit.

Semakin lama, jarak kami semakin dekat.

Aku sempat berpikir untuk mundur satu langkah.

Namun tidak sempat.

Dia sudah berada tepat di hadapanku.

Begitu dekat hingga aku dapat melihat sorot matanya dengan sangat jelas. Kami saling memandang dalam diam. Tidak ada senyum yang berlebihan. Tidak ada sapaan. Hanya keheningan yang terasa begitu panjang, meski mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Aneh sekali.

Dalam diam itu justru aku merasa jauh lebih gugup daripada ketika harus berbicara di depan banyak orang.

Lalu perlahan ia memiringkan kepalanya.

Wajahnya mendekat ke samping telingaku.

Dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti embusan napas, ia berbisik,

"Mau memelukku? Cepat... sebelum yang lain datang."

Aku bahkan tidak sempat berpikir.

Tidak sempat menimbang benar atau salah.

Seolah tubuhku bergerak lebih dulu daripada pikiranku.

Pelan-pelan aku mengangkat kedua tangan, lalu memeluknya.

Bukan pelukan yang erat.

Bukan pelukan yang penuh kepemilikan.

Hanya pelukan singkat, hati-hati, canggung, seolah aku takut jika sedikit saja bergerak lebih kuat, semuanya akan menghilang.

Di dalam pelukan yang begitu singkat itu justru ada ketenangan yang sulit kujelaskan.

Seperti rasa lelah yang tiba-tiba menemukan tempat untuk beristirahat.

Seperti seseorang yang selama ini hanya mampu menatap dari kejauhan akhirnya diberi kesempatan berdiri sedekat ini.

Beberapa detik kemudian ia kembali berbisik.

Kali ini suaranya terdengar sedikit lebih lirih.

"Mau menciumku?"

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menatapnya beberapa saat.

Jantungku berdegup begitu cepat hingga rasanya seluruh dunia menjadi sunyi.

Lalu dengan gerakan yang nyaris ragu, aku mendekat.

Aku memejamkan mata.

Kurasakan napasku sendiri yang mulai tidak teratur.

Aku mengecup bibirnya dengan sangat singkat, sekadar sebuah sentuhan yang nyaris seperti keraguan, bukan keberanian. Dalam sepersekian detik itu, yang paling kuingat justru bukan ciumannya, melainkan rasa tenang yang aneh, seolah semua kebisingan di kepalaku mendadak berhenti. Aku bahkan sempat menarik napas pelan, seperti ingin mengingat aroma yang samar-samar terasa begitu akrab.

Lalu...

Semuanya menghilang.

Aku membuka mata.

Langit-langit kamarku kembali terlihat.

Tidak ada dia.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada bisikan.

Hanya suara kipas angin yang berputar pelan, dan detak jantungku yang ternyata masih sedikit lebih cepat daripada biasanya.

Aku terbangun.

Barulah kusadari, semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi.

Ini bukan mimpi pertama.

Beberapa waktu yang lalu aku juga pernah memimpikannya. Anehnya, dalam mimpi yang pertama itu aku juga menciumnya. Detailnya sudah banyak yang hilang dari ingatanku, tetapi satu hal masih sangat jelas, perasaan yang kutinggalkan setelah bangun tidur. Rasanya jauh lebih dalam, lebih hangat, lebih intens dibandingkan mimpi semalam, seolah alam bawah sadarku sedang menuliskan sebuah cerita yang bahkan tidak pernah berani kutulis ketika sadar.

Mungkin memang hanya bunga tidur.

Mungkin hanya sisa-sisa pikiranku yang terlalu sering memikirkannya hingga ikut terbawa ke dalam mimpi.

Atau mungkin, mimpi memang memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan dua orang yang di dunia nyata masih terlalu takut mengucapkan satu kata sederhana kepada satu sama lain.

Comments

Popular posts from this blog

Cody Simpson - La Da Dee (Arti Lagu)

Kalo ngomong soal lagu, dari beberapa lagu yang beberapa hari ini sudah terposting, kayaknya lagu inilah yang cocok denganku. Dari segi lirik, kayaknya mampu menggambarkan seperti apakah jalan pikiranku selama beberapa bulan ini. Biasalah, seperti postinganku sebelumnya, aku memang tipe laki-laki pemuja masa lalu. Selalu saja ingin mengulang masa lalu, karena rasa nyaman yang aku dapatkan dari masa lalu itulah aku ingin mengulangnya selalu. Baiklah, kali ini bukan bercerita tentang curhatanku, tapi postingan kali ini untuk mengartikan lagu-lagu yang menurutku memang enak didengarkan dalam minggu-minggu ini.  Kali ini yang mampu menggambarkan suasana hatiku adalah lagunya Cody Simpson - La Da Dee. There's no way to say this song's about someone else Every time you're not in my arms I start to lose myself Someone please pass me my shades Don't let 'em see me down You have taken over my days So tonight I'm going out Dalam bait ini menjel...

Was a Story Only I Didn’t Know

Kamu benar-benar telah melupakan segalanya Terlihat dari caramu menyapaku Sambutmu melukaiku Samar-samar, mulai mengiris, mulai terasa sadis. Berpisah baik-baik Itu katamu Karena bagiku aku tak tahu Was a Story Only I Didn’t Know Apa itu namanya? Hanya cinta sesaat? Samar-samar kini aku mulai mengerti Kenapa hanya kata maaf selesaikan semua Tangisku mungkin tak lagi datang Karena bagiku itu tak penting lagi Perpisahan itu hanya cerita lama Tak perlu diungkit lagi Was a story only I didn’t know

I am Proud to be Scout

Alhamdulillah.... Lagi-lagi harus sering memuji nama Tuhan karena tak henti-hentinya memberi nikmat kepada hambanya yang haus kasih sayang ini. *ehm.. Seperti biasa, kalau postinganku diawali dengan kata-kata seperti itu, berarti ada 'sesuatu' yang aku terima dan ingin aku bagikan ceritanya di sini. *cerita doang? garing, ah! Iya, seperti yang sudah aku bilang tadi, bahwa hari ini ada sesuatu yang akan aku ceritakan dalam blog ini. Tapi sebelum itu, aku ceritain dulu bahwa seharian ini aku lagi merasa gak enak banget. Capek pikiran, capek badan. Kalo dah begitu, bawaanya badmood. Kalo dah badmood, statusnya pasti  berubah jadi "Senggol, bacok!". *Sadis Untungnya gak lama-lama status "Senggol, bacok!"nya. Agak sorean, abis dhuhur mungkin, status itu berubah menjadi agak mendingan. Tentu bisa ditebak, sedang gimana kalo tiba-tiba status bisa berubah sedemikian rupa kayak githu. Yup, ada kabar gembira. Apakah itu? Pertama, aku dinyatakan sebagai ...