Tambah Satu Alasan Lagi Kenapa Aku Menyukainya
Ada satu momen kecil yang beberapa hari ini terus berputar di kepalaku. Masalahnya, aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa. Aku bahkan kesulitan mencari istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Yang kutahu, orang-orang biasanya menyebut ekspresi seperti itu sebagai sok imut. Entah benar atau tidak, aku juga tidak yakin.
Yang masih kuingat hanya sepotong gambar yang terekam sangat singkat.
Wajahnya sedikit manyun. Bibirnya maju beberapa senti ke depan, seperti anak kecil yang sedang merajuk atau berpura-pura kesal. Bukan ekspresi yang berlebihan. Sangat tipis, sangat sebentar, nyaris hilang sebelum sempat benar-benar kupahami. Mungkin kalau aku berkedip sedikit lebih lama, momen itu sudah terlewat begitu saja.
Masalahnya, aku memang tidak pernah benar-benar berani memperhatikannya secara langsung.
Setiap kali kami berada dalam jarak yang cukup dekat, keberanianku justru menghilang. Aku hanya berani mencuri pandang sepersekian detik, lalu buru-buru mengalihkan mata seolah tidak sedang melihat apa pun. Kadang aku memanfaatkan pantulan kaca, kadang menunggu saat ia sedang sibuk dengan aktivitasnya, kadang hanya mengandalkan penglihatan dari sudut mata. Lucu juga, bagaimana seseorang bisa mengingat begitu banyak detail dari sesuatu yang bahkan tidak pernah dilihatnya dengan utuh.
Karena itulah aku tidak bisa memastikan apakah yang kulihat memang benar seperti itu.
Mungkin hanya ilusi sesaat.
Mungkin hanya sudut pandang yang membuat ekspresinya tampak berbeda.
Atau mungkin memang ia sedang memasang wajah seperti orang yang sedikit merajuk.
Aku tidak tahu.
Namun anehnya, ketidakpastian itu tidak mengurangi kesan yang tertinggal di kepalaku. Justru karena hanya terlihat sekilas, memorinya terasa semakin hidup. Pikiranku sibuk mengulang adegan itu berkali-kali, mencoba melengkapi bagian-bagian yang tidak sempat kutangkap.
Dan di situlah aku mulai menyadari sesuatu yang sedikit membuatku putus asa.
Ternyata alasan aku menyukainya semakin bertambah.
Padahal sebelumnya aku sudah merasa cukup kewalahan dengan hal-hal sederhana yang membuatku jatuh hati, cara ia menguncir rambut, cara ia tertawa, nada bicaranya yang sesekali terdengar lembut, atau kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin bahkan tidak ia sadari. Sekarang, entah bagaimana, sebuah ekspresi singkat yang bahkan belum tentu benar-benar kulihat dengan jelas ikut masuk ke dalam daftar itu.
Aku sampai menggelengkan kepala sendiri.
Bagaimana mungkin hati bekerja seperti ini?
Ia tidak memilih sesuatu yang luar biasa. Ia justru mengumpulkan hal-hal kecil yang nyaris tidak berarti bagi orang lain, lalu menyusunnya menjadi alasan-alasan baru untuk tetap bertahan.
Kadang aku berharap semua ini lebih sederhana.
Akan lebih mudah jika aku hanya menyukai satu hal. Dengan begitu, mungkin akan lebih mudah pula melupakannya. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Setiap pertemuan yang singkat selalu meninggalkan detail baru. Detail yang begitu kecil hingga sulit dijelaskan, tetapi cukup besar untuk menetap di dalam ingatan.
Dan setiap detail itu membuat langkahku untuk menjauh terasa semakin berat.
Aku sering mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku harus belajar mengurangi rasa ini. Bahwa suatu saat nanti aku harus bisa kembali melihatnya sebagai orang biasa. Namun setiap kali tekad itu mulai terasa kokoh, selalu ada saja hal kecil yang membuatnya retak lagi.
Mungkin sebuah tawa.
Mungkin cara ia merapikan rambut.
Mungkin sebuah ekspresi yang hanya berlangsung beberapa detik.
Atau mungkin hanya bibir yang sedikit menonjol ke depan, seperti seseorang yang sedang merajuk tanpa kata.
Entahlah.
Yang jelas, aku mulai khawatir. Bukan karena perasaan ini semakin besar, melainkan karena aku semakin sulit menemukan alasan untuk melepaskannya. Rasanya setiap hari selalu ada hal baru yang diam-diam mengajarkanku cara jatuh cinta lagi, padahal yang sedang kucoba pelajari justru bagaimana caranya perlahan melupakan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!