Aku Hanya Menunggu Keberadaannya, Bukan Sapaannya
Kadang aku sendiri bingung dengan apa sebenarnya yang kuinginkan. Berkali-kali ketika dia mencoba mendekat, aku justru yang mundur. Ada kesempatan untuk melihatnya lebih lama, aku malah mencari alasan untuk memalingkan wajah. Ada kemungkinan untuk menyapa, aku memilih diam. Seolah-olah aku sedang berusaha menjaga jarak dari sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kujauhi. Tetapi hari ini, ketika kesempatan untuk bertemu dengannya justru sangat sedikit, aku baru sadar bahwa mungkin aku tidak benar-benar ingin sejauh itu darinya.
Hari ini aku hanya melihatnya sekilas. Bahkan mungkin terlalu sekilas untuk disebut sebagai pertemuan. Ketika aku datang dan hendak masuk ruangan, dari sudut kanan mataku aku melihat sosoknya melintas ke arah kiri di depan kantor. Hanya itu. Tidak ada kesempatan untuk memperhatikan wajahnya. Tidak ada tatapan mata yang biasanya membuatku sibuk menerka-nerka. Tidak ada gerakan kecil yang bisa kusimpan sebagai bahan cerita malam ini. Dia hanya lewat, sementara aku masuk ke dalam ruangan seperti biasa, membawa pekerjaanku dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian aku mencoba melihat lagi. Barangkali dia masih di sekitar sana. Barangkali aku bisa melihatnya sekali lagi, sekadar untuk memastikan bahwa tadi aku tidak salah melihat. Tetapi ketika aku mengecek, dia sudah tidak ada.
Dan entah kenapa, ada sesuatu yang terasa hilang.
Padahal bukankah selama ini aku sendiri yang sering menghindarinya? Bukankah aku yang memilih tidak menyapa? Aku yang kadang pura-pura tidak melihat ketika dia berada terlalu dekat? Bahkan ketika dia berusaha mencari perhatian, aku sering hanya membalasnya dengan tatapan sebentar lalu kembali pada kesibukanku. Kalau begitu, kenapa hari ini ketika dia tidak memberiku cukup kesempatan untuk melakukan semua itu, aku justru merasa kehilangan?
Mungkin karena ternyata aku tidak hanya menunggu sebuah percakapan.
Aku menunggu keberadaannya.
Ada perbedaan yang sangat tipis, tetapi mungkin justru di situlah letak kebingunganku. Aku bisa saja tidak ingin mendekatinya, tetapi tetap ingin melihatnya. Aku bisa saja tidak ingin hubungan ini menjadi lebih jauh, tetapi tetap merasa hari menjadi sedikit lebih lengkap ketika dia ada di sekitar. Aku bisa saja mengatakan bahwa aku ingin berhenti berharap, tetapi ketika sosoknya tidak muncul, mataku tetap mencari.
Barangkali aku memang tidak membutuhkan apa-apa darinya hari ini. Tidak perlu sapaan. Tidak perlu tatapan. Tidak perlu tanda-tanda yang selama ini membuatku sibuk menerka. Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja.
Dan bahkan itu pun tidak kudapatkan.
Lucu juga. Seseorang yang selama ini berusaha kuhindari ternyata bisa meninggalkan ruang kosong hanya karena tidak muncul cukup lama di hadapanku.
Mungkin inilah yang selama ini tidak mau kuakui, aku tidak selalu ingin mendekatinya, tetapi aku juga belum benar-benar siap kehilangan keberadaannya.
Hari ini aku hanya melihatnya lewat dari kanan ke kiri.
Tidak ada tatapan.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada apa-apa.
Tapi entah kenapa, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan sejak awal belum pernah benar-benar menjadi milikku.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!