Aku Pernah Terlalu Lama Mengasihani Diri Sendiri

 


Ada masa ketika aku merasa hidup benar-benar tidak adil.

Aku melihat orang lain seperti berjalan dengan mudah. Ada yang kariernya baik, hidupnya tenang, dikelilingi orang-orang yang mendukung, sementara aku justru merasa harus berhadapan dengan masalah yang datang silih berganti.

Pada saat seperti itu, aku sering bertanya dalam hati:

“Kenapa harus aku?”

Aku tahu pertanyaan itu tidak akan menyelesaikan apa-apa. Tetapi anehnya, tetap saja pertanyaan itu kembali muncul.

Aku merasa kasihan kepada diriku sendiri.

Dan mungkin, kalau jujur, ada sedikit kenyamanan di dalamnya.

Ketika aku mengatakan kepada diri sendiri, “Aku memang sedang mengalami masa yang berat,” rasanya seperti ada pembenaran bahwa aku memang boleh lelah. Aku tidak harus langsung kuat. Tidak harus langsung mencari jalan keluar.

Aku hanya ingin mengakui bahwa aku sedang terluka.

Masalahnya, aku kemudian terlalu lama tinggal di sana.

Aku mengulang-ulang kejadian yang sama di kepala. Mengingat percakapan yang sudah lewat. Membayangkan bagaimana seharusnya sesuatu terjadi. Mengingat orang yang pernah menyakitiku. Menghubungkan satu kejadian buruk dengan kejadian buruk lainnya.

Sampai akhirnya semua terasa seperti satu cerita besar:

“Memang hidupku selalu seperti ini.”

Padahal mungkin tidak sesederhana itu.

Ada kejadian yang memang menyakitkan. Ada orang yang memang pernah berbuat tidak baik kepadaku. Ada keadaan yang memang tidak bisa kukendalikan.

Tetapi ketika semuanya kukumpulkan menjadi satu kesimpulan bahwa hidup selalu memusuhiku, mungkin aku sedang membuat diriku sendiri semakin sulit keluar dari keadaan itu.

Aku juga pernah membandingkan hidupku dengan orang lain.

Melihat seseorang berhasil, aku bertanya mengapa aku belum.

Melihat seseorang bahagia, aku merasa hidupku kurang.

Melihat orang lain mendapatkan dukungan, aku semakin sadar bahwa aku merasa sendirian.

Padahal aku tahu, aku sedang membandingkan kehidupan lengkapku dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat dari luar.

Aku tahu semua kekuranganku.

Aku tahu kegagalanku.

Aku tahu hal-hal yang kusesali.

Sementara tentang kehidupan orang lain, aku hanya melihat apa yang mereka pilih untuk diperlihatkan.

Tetapi ketika sedang kecewa, logika seperti itu sering tidak banyak membantu.

Aku juga mulai sadar bahwa ada perbedaan antara mengasihani diri sendiri dan menyayangi diri sendiri.

Dulu mungkin kupikir keduanya sama.

Ternyata tidak.

Mengasihani diri sendiri membuatku berkata:

“Kenapa aku harus mengalami semua ini?”

Sedangkan menyayangi diri sendiri mungkin lebih seperti:

“Aku memang sedang mengalami sesuatu yang berat. Lalu, apa yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri sekarang?”

Perbedaannya kecil, tetapi rasanya besar.

Yang pertama membuatku terus melihat luka.

Yang kedua membuatku mulai mencari jalan untuk merawat luka itu.

Aku tidak ingin lagi memaksa diriku untuk berpikir positif setiap saat. Aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa semua yang terjadi baik-baik saja.

Kalau memang sakit, ya sakit.

Kalau kecewa, ya kecewa.

Kalau marah, ya marah.

Kalau merasa diperlakukan tidak adil, aku tidak perlu menyangkal perasaan itu hanya agar terlihat kuat.

Tetapi aku juga mulai belajar mengatakan kepada diri sendiri:

“Sudah. Aku sudah cukup lama berada di sini.”

Bukan berarti aku melupakan apa yang terjadi.

Bukan berarti aku memaafkan semua orang.

Bukan berarti aku menganggap apa yang terjadi tidak penting.

Aku hanya tidak ingin kejadian itu terus mendapatkan ruang sebesar-besarnya dalam hidupku.

Aku mulai belajar memilah.

Mana yang memang kesalahan orang lain.

Mana yang merupakan bagian dari keadaan.

Mana yang memang tidak bisa kuubah.

Dan mana yang masih bisa kulakukan.

Mungkin aku tidak bisa mengubah masa lalu.

Aku tidak bisa mengendalikan apa yang orang pikirkan tentangku.

Aku tidak bisa memaksa seseorang memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Aku juga tidak bisa menghapus hari-hari buruk yang pernah kulewati.

Tetapi setidaknya aku masih bisa menentukan apa yang akan kulakukan setelah semuanya terjadi.

Dan mungkin di situlah letak perbedaannya.

Aku tidak harus terus-menerus menjadi orang yang paling kasihan dalam cerita hidupku.

Aku boleh mengakui bahwa aku pernah terluka.

Aku boleh mengakui bahwa aku pernah jatuh.

Aku bahkan boleh mengakui bahwa ada masa ketika aku merasa sendirian dan tidak berdaya.

Tetapi aku tidak ingin menjadikan semua itu sebagai identitasku.

Aku pernah berada di titik yang sangat buruk.

Tapi aku bukan titik terburuk itu.

Aku pernah gagal.

Tapi aku bukan kegagalan itu.

Aku pernah diperlakukan buruk.

Tapi aku tidak harus hidup selamanya sebagai korban dari perlakuan itu.

Mungkin sekarang yang ingin kulakukan sederhana saja.

Bukan melupakan.

Bukan membalas.

Bukan membuktikan sesuatu kepada siapa-siapa.

Aku hanya ingin berjalan lagi.

Pelan-pelan saja.

Karena ternyata berdamai dengan diri sendiri bukan berarti mengatakan bahwa hidupku baik-baik saja.

Kadang-kadang berdamai hanya berarti aku akhirnya berhenti bertanya, “Kenapa semua ini terjadi kepadaku?”

Lalu mulai bertanya:

“Setelah semua ini terjadi, aku ingin menjadi orang seperti apa?”

Comments

Popular Posts