Aku Suka Suaranya
Ada satu hal kecil tentang dirinya yang entah kenapa selalu berhasil tinggal lebih lama di kepalaku.
Suaranya.
Bukan karena ia sering berbicara denganku, justru hampir tidak pernah. Yang membuatku selalu mengingatnya adalah cara ia berbicara kepada orang lain. Ada nada yang lembut, sedikit manja, sedikit menggemaskan, yang setiap kali kudengar selalu berhasil membuatku menahan senyum.
Kemarin sore aku kembali mendengarnya.
Ia berada tepat di belakangku, sedang mengobrol dengan salah seorang temannya. Aku tidak ikut dalam percakapan itu. Bahkan namaku tidak pernah disebut. Aku hanya kebetulan berada cukup dekat hingga suara mereka terdengar jelas.
Lalu suara itu muncul lagi.
Nada yang sama seperti yang pernah beberapa kali kudengar sebelumnya. Ringan. Hangat. Sesekali terdengar seperti anak kecil yang sedang bercerita dengan penuh semangat. Entah mengapa, setiap kali mendengar cara bicaranya seperti itu, aku selalu merasa ingin tertawa kecil.
Bukan menertawakan dirinya.
Melainkan menertawakan diriku sendiri yang bisa begitu mudah merasa senang hanya karena mendengar beberapa kalimat sederhana yang bahkan tidak ditujukan kepadaku.
Aku sampai harus menahan senyum.
Aku takut jika ekspresiku terlalu kentara, teman-temannya akan menyadari bahwa ada seseorang di dekat mereka yang tiba-tiba tersenyum tanpa alasan yang jelas. Rasanya akan sangat memalukan jika mereka menghubungkan senyum itu dengan percakapan yang sedang mereka lakukan.
Maka aku memilih tetap sibuk dengan pekerjaanku.
Setidaknya berpura-pura sibuk.
Padahal sebagian pikiranku sedang diam-diam menikmati suara yang terus terdengar dari belakang.
Sore itu, seperti hari-hari sebelumnya, aku juga merasa ia beberapa kali berada dalam jangkauan pandangku. Entah memang kebetulan, entah memang sengaja, aku tidak pernah benar-benar tahu. Yang kutahu hanyalah, keberadaannya beberapa kali muncul di tempat-tempat yang membuatku mudah menyadarinya.
Aku tersenyum dalam hati.
Karena pola itu terasa begitu akrab.
Namun kali ini aku memilih lebih banyak menahan diri.
Aku tidak ingin rasa sukaku berubah menjadi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Aku tidak ingin terlalu sering memandang ke arahnya sampai ia merasa sedang diawasi. Aku tidak ingin kehadiranku menjadi alasan ia harus menjaga jarak.
Jadi, sebesar apa pun rasa yang masih kusimpan, aku mencoba memberinya ruang.
Kalau memang harus melihat, biarlah hanya sekilas.
Kalau memang harus mengagumi, biarlah secukupnya.
Aku mulai menyadari bahwa menyukai seseorang tidak selalu harus ditunjukkan melalui keberanian untuk mendekat. Kadang, bentuk paling sederhana dari rasa suka justru adalah menghormati batas yang dimiliki orang lain, meskipun hati kita sebenarnya ingin tinggal sedikit lebih lama.
Dan mungkin itulah yang sedang kupelajari sekarang.
Aku masih menikmati hal-hal kecil tentang dirinya, cara ia tertawa, cara ia berbicara, nada suaranya yang lembut, bahkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin tidak pernah ia sadari. Tetapi di saat yang sama, aku juga belajar untuk tidak menjadikan semua itu sebagai alasan untuk mengganggu ketenangannya.
Barangkali, jika suatu hari nanti kisah ini benar-benar selesai, yang paling lama akan kuingat bukan tatapan mata kami atau jarak yang tak pernah berhasil dipendekkan.
Melainkan suara itu.
Suara yang tidak pernah ditujukan kepadaku, tetapi entah bagaimana selalu berhasil membuat sore-soreku terasa sedikit lebih hangat.
Dan tulisan ini aku tulis sebelum tragedi kemarin.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!