Antara Kasihan dan Ego
Kadang aku merasa kasihan kepadanya karena sudah membiarkannya menunggu terlalu lama. Entah dia benar-benar sedang menunggu sesuatu dariku atau tidak, tetapi kalau melihat semua yang terjadi selama ini, rasanya tidak mungkin dia sama sekali tidak kebingungan. Mungkin dia juga sedang berada di tempat yang sama denganku, ingin mendekat, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana, ingin mengatakan sesuatu, tetapi takut salah membaca keadaan, ingin menjauh karena lelah dengan ketidakjelasan, tetapi setiap kali melihatku justru kembali berada di sekitarku. Kalau memang seperti itu yang sedang terjadi di dalam dirinya, aku bisa membayangkan betapa melelahkannya. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang sebenarnya ingin dibuka, tetapi tangan sendiri tidak pernah benar-benar berani memutar gagangnya.
Aku bahkan kadang bertanya-tanya, apakah semua ini sesuatu yang baru baginya. Maksudku, bukan sekadar rasa suka biasa, tetapi perasaan yang sampai membuat seseorang bingung terhadap dirinya sendiri. Perasaan yang membuat seseorang tiba-tiba memperhatikan hal-hal kecil tentang orang lain, mencari keberadaan seseorang di dalam ruangan, berharap mendapat tatapan, kemudian pura-pura tidak peduli ketika tatapan itu benar-benar datang. Perasaan yang membuat seseorang ingin mendekat sekaligus ingin bersembunyi pada saat yang sama. Aku tidak tahu apakah dia pernah mengalami sesuatu seperti ini sebelumnya. Aku hanya bisa menebak dari cara dia bersikap ketika berada di dekatku.
Mungkin itulah yang sedang terjadi dalam hidupnya ketika berhadapan denganku. Dia ingin mendekat, tetapi aku terlalu pasif. Dia mungkin berharap aku membuka jalan, tetapi aku justru semakin banyak diam. Dia ingin menjauh karena mungkin merasa tidak mendapatkan respons yang cukup, tetapi anehnya dia tetap saja muncul di sekelilingku. Seolah-olah ada sesuatu yang menariknya kembali setiap kali dia mencoba mengambil jarak. Dan aku, yang sebenarnya melihat semua itu, justru memilih berdiri di tempat yang sama sambil menunggu dia melakukan sesuatu lebih dulu.
Di situlah rasa kasihan itu muncul.
Bukan kasihan karena aku merasa lebih tahu tentang perasaannya. Aku juga tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di kepalanya. Bisa saja semua tafsirku keliru. Bisa saja dia tidak seserius yang kubayangkan. Bisa saja semua yang kulihat hanyalah kebiasaan yang kebetulan terus berulang. Tetapi jika dugaanku benar, aku merasa tidak tega juga membuat seseorang terus hidup dalam ketidakpastian hanya karena aku terlalu takut untuk membuka sedikit saja pintu yang selama ini kututup.
Namun kemudian aku kembali teringat pada satu hal yang sampai sekarang masih menjadi ganjalan dalam diriku, pesanku yang belum dibalas.
Entah kenapa, hal sesederhana itu masih berhasil menahan langkahku sejauh ini. Aku masih menyimpan semacam luka kecil di sana. Bagiku, pesan yang tidak mendapat jawaban terasa seperti sebuah penolakan yang tidak pernah benar-benar diucapkan. Karena itu aku mempertahankan egoku. Kalau aku sudah pernah mencoba mendekat dan tidak mendapatkan respons, kenapa sekarang aku harus kembali menjadi orang yang memulai?
Mungkin memang ego.
Mungkin juga harga diri.
Atau mungkin hanya rasa takut untuk kembali dipermalukan oleh harapan sendiri.
Jadilah kami seperti sekarang, sama-sama berada di sekitar satu sama lain, sama-sama mungkin merasakan sesuatu, sama-sama memberi tanda, tetapi tidak ada yang benar-benar berani membuka percakapan.
Aku kasihan kepadanya.
Tetapi anehnya, aku juga kasihan kepada diriku sendiri.
Karena ternyata dua orang yang sama-sama ingin mendekat bisa sama-sama membuat satu sama lain menunggu begitu lama hanya karena sebuah pesan yang tidak pernah terjawab dan sebuah keberanian yang tidak kunjung datang.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!