Apa yang Ada dalam Pikirannya?

 


Entah kenapa, sampai hari ini pikiranku masih terus kembali pada kejadian kemarin sore.

Padahal peristiwanya hanya berlangsung beberapa detik. Sangat singkat. Namun justru hal-hal yang singkat sering kali meninggalkan gema paling panjang di dalam kepala.

Aku masih terus mengingat momen ketika ia melihatku membonceng seorang perempuan.

Sejak semalam aku mencoba menyusun berbagai kemungkinan. Bukan tentang diriku, melainkan tentang apa yang mungkin dipikirkannya saat itu. Lalu setiap kali pikiranku mulai melangkah terlalu jauh, aku mengingatkan diri sendiri bahwa semua itu hanyalah dugaan. Aku tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan. Bisa jadi kejadian itu sama sekali tidak berarti baginya. Bisa jadi ia hanya melihat sekilas, lalu melanjutkan harinya seperti biasa.

Namun hati memang gemar menyusun cerita.

Apalagi jika sebelumnya semuanya terasa begitu berbeda.

Sebelum kami pulang, kami sempat berada sangat dekat. Sedekat itu hingga untuk pertama kalinya aku tidak perlu lagi mencuri-curi pandang seperti biasanya. Aku bisa melihatnya lebih lama, lebih jelas, memperhatikan gerak-geriknya tanpa harus berpura-pura sedang melihat ke arah lain.

Lucunya, justru saat kesempatan itu datang, aku tidak merasa gugup.

Aku hanya menikmati momen itu.

Sesekali aku sengaja mengalihkan pandangan agar ia tidak merasa terus-menerus diperhatikan. Aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman. Aku tahu rasanya menjadi orang yang merasa sedang diamati. Karena itulah aku mencoba memberi jeda, memberi ruang, seolah mengatakan dalam hati, "Tenang saja, aku tidak akan membuatmu malu."

Saat itu semuanya terasa begitu biasa.

Begitu tenang.

Tidak ada firasat bahwa beberapa menit kemudian akan terjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah masuk ke dalam skenario yang kususun selama ini.

Lalu kami keluar.

Dan di situlah semuanya berubah.

Ia melihatku bersama perempuan lain.

Sejak saat itu aku terus bertanya-tanya. Bukan karena aku tahu apa yang ia pikirkan, melainkan karena aku sadar, seandainya aku berada di posisi yang kubayangkan, mungkin aku pun akan mulai menyusun berbagai kesimpulan. Padahal kesimpulan sering kali lahir jauh lebih cepat daripada penjelasan.

Aku tersenyum pahit memikirkan semua itu.

Betapa mudahnya sebuah pemandangan singkat berubah menjadi cerita panjang di dalam kepala seseorang.

Namun, semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa aku mungkin sedang melakukan hal yang sama seperti yang selama ini kulakukan: mengisi ruang kosong dengan dugaan.

Aku membayangkan ia terkejut.

Aku membayangkan ia kecewa.

Aku membayangkan ia akan menjaga jarak.

Padahal semua itu hanya ada di dalam pikiranku.

Yang benar-benar terjadi hanyalah: kami saling melihat di jalan, lalu masing-masing melanjutkan perjalanan.

Sisanya adalah cerita yang kutulis sendiri.

Mungkin karena itulah aku merasa begitu gelisah.

Bukan karena kejadian kemarin.

Melainkan karena aku sadar, selama ini begitu banyak bagian dari kisah kami yang hidup di dalam tafsir, bukan percakapan.

Dan mungkin, kalau ada satu hal yang paling membuatku sedih hari ini, bukanlah kemungkinan bahwa ia akan salah paham.

Melainkan kenyataan bahwa jika memang benar terjadi salah paham, kami bahkan tidak memiliki hubungan yang cukup dekat untuk saling menjelaskan.

Itulah yang membuat jarak terasa jauh.

Bukan langkah kami.

Melainkan diam yang terlalu lama kami pelihara.

Dan besok senin kita akan bertemu lagi. Aku harus bersikap seperti apa?

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)