Apakah Semua Ini Salahku?


 Mungkin yang membuat pikiranku kembali berisik justru karena sore tadi aku tidak benar-benar bertemu dengannya. Kalau melihatnya, meski hanya sebentar, biasanya ada sesuatu yang bisa kubawa pulang. Tatapan, gerakan kecil, keberadaannya di sudut ruangan, atau sekadar memastikan bahwa dia memang ada di sana. Tapi ketika tidak bertemu sama sekali, pikiranku seperti kehilangan bahan untuk berhenti bertanya. Lalu mulailah bermunculan dugaan-dugaan yang sebenarnya tidak punya jawaban.

Jangan-jangan dia mulai lelah.

Jangan-jangan beberapa hari terakhir aku terlalu mencuekkannya. Dia sudah berusaha mendekat, beberapa kali mencoba mencari perhatianku, tetapi aku tetap bertahan dengan prinsipku, tidak membuka akses lebih jauh kepadanya sebelum dia sendiri berani mengambil langkah. Aku melihatnya, menyadari usahanya, bahkan kadang merasa kasihan, tetapi tetap saja aku tidak memberikan jalan yang mudah untuk mendekat.

Lalu sore tadi dia tidak muncul, dan entah kenapa pikiranku langsung menghubungkan semuanya. Jangan-jangan karena aku terlalu dingin? Jangan-jangan dia akhirnya menyerah? Jangan-jangan selama ini dia memang sedang mencoba mendekat, tetapi aku justru membuatnya merasa tidak diinginkan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya lucu. Karena aku sendiri yang memilih diam, tetapi ketika dia ikut diam, aku yang gelisah.

Aku jadi bertanya, apakah semua ini salahku?

Mungkin sebagian memang iya. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dia karena tidak berani mendekat jika setiap kali dia mencoba, aku justru memasang tembok. Aku ingin dia menyapa lebih dulu, tetapi aku juga tidak memberikan tanda yang cukup jelas bahwa sapaan itu akan diterima dengan baik. Aku ingin dia lebih berani, tetapi aku sendiri sering menghindar ketika jarak kami mulai terlalu dekat.

Bukankah itu agak tidak adil?

Aku meminta keberanian darinya, sementara aku sendiri masih bersembunyi di balik gengsi, rasa malu, dan pengalaman tentang pesan yang pernah tidak dibalas. Aku ingin dia membuka pintu, tetapi aku tetap berdiri di belakang pintu sambil berkata dalam hati, ayo, ketuk dulu.

Mungkin dia juga bingung.

Mungkin dia berpikir aku tidak tertarik.

Mungkin dia sudah mencoba berkali-kali dan sekarang sedang menunggu apakah aku akan melakukan sesuatu.

Atau mungkin, dan ini yang paling menyebalkan, semua dugaan itu hanya cerita yang kubangun sendiri karena aku terlalu terbiasa mencari makna dari setiap gerakannya.

Aku tidak tahu.

Dan mungkin memang itu masalah utama dari kisah ini, terlalu banyak kemungkinan, terlalu sedikit kepastian.

Tapi kalau aku boleh jujur kepada diriku sendiri, aku sebenarnya tidak ingin dia berhenti mendekat. Aku hanya belum siap menjadi orang yang lebih dulu membuka pintu. Aku masih ingin dia berusaha sedikit lagi, bukan karena aku ingin menyiksanya dengan penantian, tetapi karena aku membutuhkan kepastian bahwa yang kulihat selama ini bukan sekadar salah tafsir.

Jadi, apakah semua ini salahku?

Comments

Popular Posts