Bedanya Mengoreksi dan Mempermalukan Orang Jatuh

 


Tetap saja, saya kadang heran melihat manusia.

Ketika seseorang sedang terkena masalah, biasanya sudah cukup banyak hal yang harus dia hadapi. Pikiran kacau, perasaan berantakan, mungkin juga sedang malu, takut, atau bingung mencari jalan keluar.

Tetapi entah kenapa, hampir selalu ada saja orang yang datang.

Bukan untuk membantu.

Bukan untuk menenangkan.

Malah ikut masuk ke dalam masalah dan membuatnya semakin besar.

Ada yang membawa cerita tambahan.

Ada yang tiba-tiba mengeluarkan "bukti" lain.

Ada yang merasa perlu mengungkit kesalahan-kesalahan lama.

Ada juga yang seperti ingin ikut memberikan hukuman, seolah-olah dirinya mendapatkan mandat untuk menjadi hakim.

Saya kadang berpikir, sebenarnya apa yang mereka cari?

Kalau memang seseorang sudah melakukan kesalahan, bukankah masalah itu sudah cukup berat untuk dia hadapi?

Mengapa harus ditambah dengan kesalahan-kesalahan lain yang mungkin tidak ada hubungannya?

Mengapa harus ikut mempermalukan?

Mengapa harus menikmati saat seseorang sedang jatuh?

Saya bukan sedang mengatakan bahwa orang yang melakukan kesalahan tidak boleh dikritik. Tentu saja boleh. Ada kalanya kesalahan memang harus dibicarakan, terutama kalau ada orang lain yang dirugikan.

Tetapi ada perbedaan antara mengoreksi dengan mempermalukan.

Ada perbedaan antara membantu menyelesaikan masalah dengan sengaja membuat masalah menjadi tontonan.

Dan mungkin yang paling membuat saya tidak habis pikir adalah ketika seseorang datang membawa masalah baru hanya karena melihat orang lain sedang berada di titik terendahnya.

Seperti orang yang sudah jatuh, lalu bukannya dibantu berdiri, malah ditanya,

"Oh, ternyata kamu pernah jatuh di tempat lain juga, ya?"

Lalu dibawakan semua catatannya.

Saya kadang ingin bilang:

Sudahlah. Orang itu sedang jatuh.

Tidak perlu ikut menendang.

Karena saya percaya, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan giliran kita berada di posisi yang sama.

Hari ini mungkin kita berdiri sambil melihat orang lain jatuh.

Besok, belum tentu kita tetap berdiri.

Dan ketika suatu hari kita sendiri yang jatuh, mungkin baru terasa betapa menyakitkannya ketika orang-orang datang bukan untuk menolong, tetapi untuk memastikan kita semakin terpuruk.

Mungkin orang-orang yang gemar membesar-besarkan kesalahan orang lain memang belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh tertimpa tangga.

Atau mungkin pernah.

Hanya saja mereka lupa rasanya.

Saya sendiri semakin tua justru semakin belajar satu hal sederhana:

Kalau tidak bisa membantu seseorang bangkit, setidaknya jangan menjadi alasan dia semakin sulit berdiri.

Tidak semua masalah membutuhkan tambahan suara.

Tidak semua kesalahan membutuhkan hukuman dari kita.

Dan tidak semua cerita harus kita masuki.

Kadang, bentuk kemanusiaan yang paling sederhana adalah tahu kapan harus diam.

Karena kita tidak pernah tahu, suatu hari nanti mungkin kitalah yang sedang membutuhkan seseorang untuk tidak ikut menambah beban.

Comments

Popular Posts