Bimbang karena Cinta

 


Aku bimbang lagi sekarang. Padahal kemarin aku sudah merasa yakin sekali bahwa aku harus pergi. Pindah, mungkin bahkan resign, karena aku mulai merasa pikiranku terlalu penuh olehnya. Seolah-olah ke mana pun aku pergi, selalu ada bagian dari kepalaku yang kembali kepadanya. Aku mulai takut bahwa perasaan ini bukan lagi sekadar sesuatu yang menyenangkan, tetapi sudah berubah menjadi sesuatu yang mengikat. Aku ingin memutus jaraknya, menjauh sebentar, memberi kesempatan kepada diriku sendiri untuk bernapas tanpa harus terus-menerus menunggu kehadirannya. Kemarin keputusan itu terasa begitu masuk akal. Begitu bulat. Aku bahkan sempat berpikir, mungkin inilah akhir dari cerita yang selama berbulan-bulan hanya berputar di tempat yang sama.

Tapi kemudian aku melihatnya lagi.

Dan anehnya, keyakinanku mulai goyah hanya karena melihat bagaimana dia semakin berani. Dia memang belum juga mengatakan apa-apa secara langsung. Tidak ada pengakuan, tidak ada percakapan serius, bahkan sapaan sederhana pun kadang masih terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh baginya. Tetapi sikapnya akhir-akhir ini seperti semakin sulit disembunyikan. Dia semakin berani berada di sekitarku, semakin sering mencari kesempatan untuk masuk ke dalam radar pandanganku, semakin terang-terangan melakukan hal-hal kecil yang menurutku memang ditujukan agar aku memperhatikannya. Entah aku benar atau tidak. Entah semua itu memang tentang aku atau hanya kebetulan yang terlalu sering berulang. Tetapi setiap kali melihatnya melakukan itu, aku selalu kembali pada perasaan yang sama: aku menyukainya.

Aku menikmati momen ketika dia seperti sedang flirting di depanku, meskipun kami bahkan tidak benar-benar berbicara. Ada semacam permainan kecil yang tidak pernah kami sepakati, tetapi terus saja berlangsung. Dia melakukan sesuatu, aku memperhatikan. Aku membalas dengan tatapan, lalu berpura-pura tidak peduli. Dia mencoba muncul lagi di sekitar tempatku, sementara aku pura-pura sibuk dengan urusanku sendiri. Kadang aku merasa kami seperti dua orang yang sama-sama tahu sedang memainkan permainan yang sama, tetapi tidak satu pun mau mengakui bahwa permainan itu memang sedang terjadi.

Dan aku menyukai itu.

Aku menyukai ketika dia berusaha keras agar terlihat olehku. Aku menyukai cara dia mencuri-curi pandang, lalu seolah tidak pernah melihatku ketika aku balik memandang. Aku menyukai momen-momen kecil yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, tetapi entah kenapa bisa membuatku menyimpan senyum sendiri setelahnya. Bahkan ketika dia hanya berdiri di sekitar tempatku tanpa melakukan sesuatu yang benar-benar penting, keberadaannya saja sudah cukup membuat suasana hatiku berubah.

Aku bahkan menyukai tubuhnya ketika dia sedang berusaha menggodaku dengan gerak-geriknya. Ada sesuatu dari caranya bergerak, caranya berdiri, caranya membawa dirinya sendiri, yang membuatku kembali tertarik. Aku tidak tahu apakah aku jatuh cinta kepada dirinya secara utuh atau sedang jatuh cinta kepada potongan-potongan kecil yang selama ini kulihat. Mungkin aku menyukai semuanya. Mungkin juga aku hanya sedang mengumpulkan serpihan-serpihan tentang dirinya, lalu menyusunnya menjadi seseorang yang begitu sempurna di dalam kepalaku.

Itulah yang membuatku kembali bimbang.

Kemarin aku ingin pergi karena takut terlalu jauh. Hari ini aku justru ingin tinggal sedikit lebih lama karena dia semakin berani menunjukkan dirinya. Aku ingin menjauh, tetapi ketika dia mendekat, aku ingin tetap berada di sana. Aku ingin memutus semuanya, tetapi ketika melihatnya kembali mencari perhatianku, ada bagian kecil dalam diriku yang berkata, jangan sekarang.

Aku menyukainya.

Aku mencintainya.

Setidaknya, begitulah yang bisa kukatakan saat ini.

Aku menyukai cara dia hadir, cara dia membuatku menunggu, cara dia membuatku penasaran, bahkan cara dia membuatku kesal karena tidak pernah benar-benar berani mengatakan apa yang mungkin sebenarnya ingin dia katakan.

Aku suka semua hal tentangnya.

karena itulah aku kembali takut pada keputusanku sendiri.

ternyata meninggalkan seseorang yang belum pernah benar-benar menjadi milik kita jauh lebih sulit daripada yang kukira.

Comments

Popular Posts