Bingkisan untuk Dia dari Bali
Aku melihatnya dari kejauhan, atau lebih tepatnya aku melihat sesuatu yang lebih dulu muncul sebelum tubuhnya benar-benar terlihat. Sebuah tangan dengan botol minuman mungil yang muncul di depan pintu. Hanya tangan dan botol itu, belum wajahnya, belum seluruh tubuhnya. Tapi entah kenapa aku langsung tahu siapa yang akan muncul setelahnya. Refleksku bekerja lebih cepat daripada pikiranku. Aku segera pura-pura sibuk melakukan sesuatu, seolah-olah ada pekerjaan yang tiba-tiba menjadi sangat penting untuk dikerjakan saat itu. Seolah aku sama sekali tidak sedang menunggu siapa pun. Padahal kenyataannya, sejak tadi aku memang menunggunya. Aku hanya terlalu malu untuk terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu kedatangan orang tertentu.
Kemudian dia masuk sepenuhnya. Aku melihatnya mengambil tempat seperti biasa. Tidak ada sapaan. Tidak ada percakapan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar istimewa. Hanya sebuah kedatangan sederhana yang sebenarnya sudah kutunggu sejak tadi. Tetapi entah mengapa, melihatnya muncul di depan pintu saja sudah cukup membuat suasana di dalam kepalaku berubah. Aku mencoba tetap biasa saja. Mungkin terlalu biasa, sampai-sampai aku sendiri merasa seperti sedang memainkan peran yang sebenarnya sudah terlalu sering kumainkan.
Setelah dia benar-benar masuk dan menempati tempatnya, aku kemudian kembali ke kendaraan. Ada satu hal yang sejak Sabtu lalu masih kusimpan di sana. Oleh-oleh yang sebenarnya sudah kusiapkan untuknya, tetapi batal kuberikan karena hari itu dia tidak datang. Jajanan khas Bali dan sebuah gelang benang khas Bali. Benda-benda sederhana. Tidak mahal. Tidak pula terlalu istimewa. Tetapi karena sejak awal memang ada niat untuk memberikannya kepadanya, benda-benda itu kemudian terasa memiliki arti yang sedikit berbeda.
Aku mengambilnya dari kendaraan, lalu membawanya masuk.
Sampai di tempatku, aku meletakkannya di atas meja.
Bukan di tangannya.
Bukan pula dengan memanggil namanya dan berkata, "Ini buat kamu."
Aku tidak berani melakukan itu.
Entah kenapa memberikan sesuatu secara langsung kepadanya terasa jauh lebih rumit daripada membeli benda itu sendiri. Kami tidak punya hubungan yang jelas. Tidak ada status yang bisa kujadikan alasan. Tidak ada kedekatan yang membuat pemberian oleh-oleh terasa sebagai sesuatu yang wajar. Kalau tiba-tiba aku datang membawa jajanan dan gelang lalu memberikannya langsung, aku sendiri mungkin akan bingung harus menjelaskan apa.
Jadi biarlah benda itu berada di sana.
Kalau dia mengambilnya, berarti dia mengambilnya.
Kalau tidak, ya sudah.
Aku tidak ingin memaksakan makna pada sesuatu yang bahkan belum tentu memiliki makna baginya.
Tapi, tentu saja, bagian paling menyebalkan dari semua ini adalah pikiranku sendiri.
Besok aku pasti akan memperhatikan pergelangan tangannya.
Bukan terang-terangan. Tentu saja tidak. Aku akan mencari cara seperti biasanya, sekilas, dari jauh, melalui pantulan kaca, atau mungkin ketika dia sedang sibuk dengan sesuatu. Aku ingin tahu apakah gelang itu sudah berpindah dari meja ke pergelangan tangannya.
Apakah dia mengambilnya?
Apakah dia menyukainya?
Apakah dia memakainya?
Atau jangan-jangan benda itu tetap saja tergeletak di sana dan besok sudah tidak ada karena seseorang memindahkannya?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin justru ketidaktahuan itulah yang membuatku penasaran.
Lucu juga. Aku tidak berani memberikan gelang itu langsung kepadanya, tetapi sekarang aku justru akan menunggu tanda kecil dari pergelangan tangannya.
Sebuah gelang benang.
Sesederhana itu.
Tapi besok, mungkin benda kecil itu akan menjadi jawaban atas pertanyaan yang bahkan tidak pernah berani kuucapkan.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!