Bukan Tidak Suka Orang, Aku Hanya Cepat Lelah oleh Keramaian


 Aku dulu sering merasa aneh dengan diriku sendiri.

Kenapa aku bisa baik-baik saja ketika sendirian, tetapi justru cepat lelah ketika harus terlalu lama berada di tengah banyak orang?

Kadang setelah bertemu banyak orang, aku hanya ingin pulang, masuk kamar, menutup pintu, lalu menikmati kesunyian. Tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa. Bahkan membalas pesan pun rasanya seperti membutuhkan tenaga tambahan.

Dulu aku sempat mengira ada yang salah denganku.

Barangkali aku terlalu pendiam. Barangkali aku kurang pandai bergaul. Atau jangan-jangan aku memang tidak menyukai orang lain.

Tapi semakin dewasa, aku mulai memahami bahwa mungkin aku hanya seorang introvert.

Bukan berarti aku antisosial. Bukan pula berarti aku membenci pergaulan. Aku hanya punya cara yang berbeda dalam menghabiskan energi.

1. Aku cepat lelah kalau terlalu lama bersama banyak orang

Aku sebenarnya bisa bersosialisasi.

Aku bisa berbicara, bercanda, menghadiri acara, bahkan menikmati pertemuan dengan orang lain. Masalahnya, ada batas tertentu yang sulit kujelaskan.

Setelah terlalu lama berada di tengah banyak orang, energiku seperti habis.

Aku pulang bukan karena acaranya buruk. Kadang justru acaranya menyenangkan.

Tetapi setelahnya aku membutuhkan waktu untuk kembali menjadi diriku sendiri.

Mungkin orang lain mendapatkan energi dari keramaian. Aku justru menghabiskan energi di sana.

2. Aku memang menikmati kesendirian

Ada kebahagiaan sederhana ketika aku sendirian.

Tidak ada suara yang harus kuikuti. Tidak ada percakapan yang harus kujawab. Tidak ada keharusan untuk terlihat baik-baik saja.

Aku bisa membaca, menulis, menonton sesuatu, bekerja, atau sekadar duduk diam.

Dan anehnya, aku tidak merasa kesepian.

Justru terkadang dalam kesendirian itulah aku merasa paling nyaman.

Aku tidak perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

3. Temanku tidak banyak, tetapi bukan berarti aku tidak punya teman

Aku pernah merasa bersalah karena tidak memiliki banyak teman.

Melihat orang lain punya kelompok pertemanan yang besar, saling mengunjungi, sering berkumpul, membuatku sempat bertanya-tanya apakah kehidupan sosialku terlalu sedikit.

Tapi kemudian aku sadar, mungkin aku memang tidak membutuhkan banyak orang.

Aku lebih nyaman dengan satu atau dua orang yang benar-benar kukenal dan kupercaya.

Aku lebih suka percakapan yang jujur dengan seseorang daripada puluhan obrolan yang sebenarnya tidak meninggalkan apa-apa.

Dan mungkin memang begitu caraku membangun hubungan.

Sedikit, tetapi dekat.

4. Aku ternyata cukup sering memikirkan diriku sendiri

Bukan dalam arti egois.

Aku hanya sering berbicara dengan diriku sendiri di dalam kepala.

Memikirkan keputusan yang sudah kuambil. Mengingat percakapan yang terjadi. Bertanya apakah aku sudah melakukan sesuatu dengan benar. Memikirkan apa yang sebenarnya kuinginkan.

Kadang terlalu banyak berpikir juga melelahkan.

Tetapi dari sana aku mulai mengenal diriku sendiri.

Aku mulai tahu apa yang kusukai, apa yang membuatku tidak nyaman, siapa yang membuatku merasa aman, dan lingkungan seperti apa yang membuatku bisa menjadi diriku sendiri.

5. Aku mudah kehilangan fokus ketika terlalu banyak hal terjadi sekaligus

Keramaian terkadang bukan hanya melelahkan, tetapi juga membuat pikiranku berantakan.

Banyak suara.

Banyak orang.

Banyak percakapan.

Banyak hal yang terjadi bersamaan.

Aku sering merasa sulit berkonsentrasi ketika berada dalam situasi seperti itu.

Karena itulah aku lebih menyukai tempat yang tenang ketika sedang mengerjakan sesuatu. Aku membutuhkan ruang untuk berpikir tanpa terlalu banyak gangguan.

Mungkin bagi sebagian orang suasana seperti itu terasa sepi.

Bagi aku, justru terasa menenangkan.

Semakin mengenal diriku, aku mulai berhenti memaksa diri untuk menjadi seperti orang lain.

Aku tidak harus selalu ikut berkumpul.

Aku tidak harus memiliki banyak teman.

Aku tidak harus selalu berbicara.

Aku juga tidak harus merasa bersalah hanya karena membutuhkan waktu sendirian.

Aku tetap membutuhkan orang lain. Aku tetap ingin dicintai, dihargai, dan memiliki orang-orang yang bisa kupercaya.

Hanya saja, aku mungkin membutuhkan mereka dengan cara yang berbeda.

Aku tidak membenci keramaian.

Aku hanya tidak bisa tinggal terlalu lama di dalamnya.

Aku tidak membenci manusia.

Aku hanya lebih nyaman dekat dengan beberapa orang yang benar-benar membuatku merasa aman.

Dan mungkin, akhirnya aku tidak perlu lagi bertanya apakah ada yang salah denganku.

Barangkali memang begini caraku menjalani hidup.

Lebih tenang.

Lebih sedikit orang.

Lebih banyak berpikir.

Dan sesekali, menikmati kesendirian tanpa harus merasa bersalah karenanya.

Comments

Popular Posts