Dugaanku Meleset
Sejujurnya, aku sempat mengira semuanya akan berubah setelah kejadian kemarin.
Semalaman aku sibuk membayangkan berbagai kemungkinan. Aku menduga ia akan menjaga jarak. Aku menduga tatapannya akan berbeda. Bahkan aku sempat menyiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa mungkin, mulai hari ini, kami akan kembali menjadi dua orang asing yang sama-sama memilih menghindari satu sama lain.
Namun ternyata dugaanku meleset.
Hari ini justru terasa berbeda.
Kalau selama ini aku sering merasa ia menyembunyikan banyak hal di balik sikap yang pura-pura biasa, hari ini aku melihat sesuatu yang lain. Ia tampak lebih sering berada dalam jangkauan pandangku. Beberapa kali kehadirannya begitu mudah kusadari, seolah ia tidak lagi terlalu khawatir apakah aku memperhatikannya atau tidak. Mungkin memang hanya kebetulan. Mungkin memang rutinitasnya seperti itu. Tetapi, sebagai seseorang yang sudah terlalu lama mengamati kebiasaan-kebiasaan kecilnya, aku merasakan ada perubahan yang sulit kujelaskan dengan kata-kata.
Yang jelas, kegelisahanku sejak kemarin perlahan mengendur.
Aku menghela napas lega.
Setidaknya, bayangan-bayangan buruk yang sempat kususun sepanjang akhir pekan tidak benar-benar terjadi. Tidak ada perubahan yang terasa begitu mencolok. Tidak ada jarak yang tiba-tiba menganga di antara kami. Dunia ternyata tetap berjalan seperti biasanya.
Meski begitu, ada satu hal yang masih sama.
Kami tetap tidak saling menyapa.
Aku masih menunggu.
Ia pun, setidaknya dari apa yang tampak di mataku, juga belum mengambil langkah itu.
Lucu, ya.
Seolah-olah kami sama-sama berani berdiri di tepi jurang, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar berani melangkah lebih dulu.
Entah karena takut.
Entah karena ragu.
Atau mungkin karena kami sama-sama menyadari bahwa satu langkah kecil itu bisa mengubah terlalu banyak hal.
Sementara itu, aku sendiri diam-diam sudah mengambil keputusan lain.
Aku semakin mantap dengan rencana untuk meninggalkan tempat ini.
Bukan karena membencinya.
Justru sebaliknya.
Barangkali karena aku terlalu menyukainya.
Aku tidak ingin terus hidup di dalam kisah yang hanya bergerak di antara tatapan, kebetulan, dan dugaan. Ada saatnya seseorang harus berhenti menunggu jawaban dari keadaan yang tidak pernah benar-benar bertanya.
Karena itu, selama aku masih berada di sini, aku memilih menikmati hari-hari yang tersisa.
Aku memperhatikannya lebih lama daripada biasanya.
Bukan dengan tatapan yang berlebihan, bukan pula dengan keinginan untuk membuatnya sadar bahwa sedang diamati. Aku hanya ingin menyimpan wajahnya sedikit lebih lama di dalam ingatan, barangkali sebagai kenangan ketika nanti aku benar-benar pergi.
Aku juga tetap menjaga diriku.
Aku tidak ingin rasa suka ini berubah menjadi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Aku tidak ingin membuatnya merasa diawasi. Aku masih percaya bahwa menyukai seseorang juga berarti menghormati ruang yang dimilikinya.
Tetapi kalau ada satu hal yang tidak lagi ingin kupungkiri, itu adalah kenyataan bahwa aku memang menyukainya.
Sangat menyukainya.
Mungkin lebih daripada yang selama ini berani kuakui.
Dan justru karena itulah aku merasa harus belajar melepaskan.
Sebab tidak semua orang yang berhasil membuat kita jatuh hati adalah orang yang memang ditakdirkan untuk kita miliki.
Kadang, mereka hanya datang untuk mengingatkan bahwa hati kita masih mampu berdebar, masih mampu menunggu, masih mampu diam-diam tersenyum hanya karena melihat seseorang lewat beberapa langkah di depan.
Kalau nanti benar aku pergi, mungkin yang paling kurindukan bukanlah kemungkinan memiliki dirinya.
Melainkan sore-sore sederhana seperti hari ini, ketika kami tetap menjadi dua orang yang tidak saling menyapa, tetapi entah bagaimana selalu berhasil saling menyadari keberadaan masing-masing.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!