Emotional Baggage
Belakangan ini aku mengenal satu istilah yang rasanya cukup dekat dengan kehidupan banyak orang: emotional baggage, atau beban emosional.
Awalnya aku mengira luka dari masa lalu akan selesai dengan sendirinya setelah waktu berjalan. Kupikir, kalau sudah cukup lama berlalu, berarti aku sudah sembuh.
Ternyata tidak selalu begitu.
Ada luka yang memang tidak lagi terasa setiap hari, tetapi diam-diam masih ikut berjalan bersama kita. Ia bisa muncul ketika kita bertemu seseorang yang baru, ketika seseorang tidak membalas pesan, ketika sikapnya berubah sedikit, atau ketika ada sesuatu yang mengingatkan kita pada pengalaman yang pernah membuat kita kecewa.
Kadang aku sendiri tidak sadar bahwa reaksiku terhadap seseorang hari ini sebenarnya bukan sepenuhnya tentang dia.
Bisa jadi ada bagian dari masa lalu yang ikut bereaksi.
Aku bisa menjadi terlalu waspada.
Ketika seseorang tidak segera membalas pesan, pikiranku mulai ke mana-mana. Bukan karena ada bukti bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi, tetapi karena pengalaman masa lalu membuatku tahu betapa menyakitkannya ketika seseorang tiba-tiba berubah.
Akhirnya, aku bukan hanya berhadapan dengan orang yang ada di depanku.
Aku juga sedang berhadapan dengan bayangan seseorang dari masa lalu.
Dan itu melelahkan.
Aku juga mulai memahami bagaimana luka lama bisa membuat seseorang ingin mengontrol hubungan.
Mungkin awalnya hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja.
Lalu berubah menjadi ingin tahu terlalu banyak.
Ingin memastikan pasangan tidak dekat dengan orang tertentu.
Ingin tahu mengapa dia melakukan sesuatu.
Ingin mendapatkan kepastian terus-menerus.
Bukan selalu karena tidak percaya kepada pasangan, tetapi karena ada ketakutan yang belum selesai di dalam diri sendiri.
Aku pernah berpikir, kalau semuanya bisa kukendalikan, mungkin aku tidak akan terluka lagi.
Padahal justru di situlah masalahnya.
Hubungan tidak pernah bisa sepenuhnya dikendalikan.
Ada orang yang bisa berubah.
Ada orang yang bisa pergi.
Ada kemungkinan seseorang mengecewakan kita.
Dan aku tidak mungkin menghilangkan semua kemungkinan itu hanya dengan memastikan segala sesuatu berada di bawah kendaliku.
Hal lain yang juga sulit adalah melepaskan seseorang dari masa lalu.
Kadang seseorang sudah tidak lagi hadir dalam kehidupan kita, tetapi masih tinggal di kepala.
Bukan selalu karena masih mencintainya.
Bisa jadi karena ada sesuatu yang belum selesai.
Ada pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Ada perlakuan yang belum bisa dipahami.
Ada perasaan yang dulu tidak sempat disampaikan.
Atau mungkin hanya ada satu bagian dari diri kita yang masih bertanya:
“Kenapa waktu itu harus terjadi seperti itu?”
Aku mulai mengerti bahwa closure tidak selalu datang dari orang lain.
Kadang kita harus menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban.
Tidak semua orang akan meminta maaf.
Tidak semua hubungan akan berakhir dengan percakapan yang indah.
Dan mungkin, pada akhirnya, aku harus belajar membuat penutup versiku sendiri.
Aku juga menyadari bahwa luka lama kadang membuat emosi menjadi tidak stabil.
Hari ini aku bisa merasa sangat yakin dengan seseorang.
Besok tiba-tiba aku ingin menjauh.
Hari ini aku merasa hubungan ini adalah sesuatu yang indah.
Besok muncul ketakutan bahwa semuanya akan berakhir buruk.
Kadang aku sendiri bingung dengan perasaanku.
Aku bertanya-tanya:
“Sebenarnya aku menginginkan hubungan ini atau aku hanya takut kehilangan?”
Mungkin keduanya bisa terjadi bersamaan.
Aku ingin dekat, tetapi takut terluka.
Aku ingin percaya, tetapi takut dibohongi.
Aku ingin dicintai, tetapi pada saat yang sama ada bagian dari diriku yang selalu bersiap untuk ditinggalkan.
Dan semakin kupikirkan, mungkin itulah salah satu bentuk emotional baggage.
Bukan berarti aku rusak.
Bukan berarti aku tidak mampu mencintai.
Mungkin aku hanya membawa terlalu banyak pengalaman yang belum benar-benar selesai kuproses.
Karena itu, sekarang aku sedang belajar mengenali diriku sendiri.
Ketika aku tiba-tiba merasa takut, aku mencoba bertanya:
“Ini benar-benar terjadi sekarang, atau aku sedang mengingat sesuatu yang pernah terjadi?”
Ketika aku mulai curiga, aku mencoba membedakan antara fakta dan ketakutanku sendiri.
Ketika aku ingin mengontrol sesuatu, aku mencoba bertanya:
“Apakah aku sedang menjaga hubungan ini, atau sebenarnya sedang berusaha melindungi luka lamaku?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu ternyata cukup membuatku berhenti sejenak.
Aku juga mulai belajar bahwa menyembuhkan luka bukan berarti menghapus masa lalu.
Aku tidak mungkin menghapus apa yang pernah terjadi.
Aku tidak bisa mengubah orang-orang yang pernah menyakitiku.
Aku tidak bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua keputusan yang pernah kubuat.
Yang mungkin bisa kulakukan adalah menerima bahwa semua itu memang pernah menjadi bagian dari hidupku.
Dan sekarang, aku tidak ingin terus membawa semuanya ke mana-mana.
Aku ingin belajar meletakkannya sedikit demi sedikit.
Bukan untuk mereka.
Untuk diriku sendiri.
Mungkin aku juga tidak harus memaksa diri mengatakan, “Aku sudah sembuh.”
Barangkali lebih jujur kalau aku mengatakan:
“Aku masih belajar sembuh.”
Ada hari ketika aku baik-baik saja.
Ada hari ketika luka lama tiba-tiba muncul lagi.
Ada hari ketika aku merasa sudah selesai, lalu sesuatu mengingatkanku dan semuanya terasa dekat kembali.
Tidak apa-apa.
Mungkin penyembuhan memang tidak selalu berjalan lurus.
Yang penting, aku mulai bisa mengenali mana luka lama dan mana kenyataan yang sedang kuhadapi hari ini.
Aku tidak ingin orang baru membayar kesalahan orang lama.
Aku juga tidak ingin hubungan yang baru harus terus-menerus menjadi tempat pembuktian bahwa masa lalu tidak akan terulang.
Aku ingin belajar percaya tanpa menjadi naif.
Mencintai tanpa kehilangan diri sendiri.
Menjaga seseorang tanpa harus mengendalikannya.
Dan yang paling penting, aku ingin bisa mengatakan kepada diriku sendiri:
“Apa yang pernah terjadi memang menyakitkan. Tetapi aku tidak harus membawa rasa sakit itu selamanya.”
Mungkin itu yang sedang aku pelajari sekarang.
Bukan bagaimana melupakan masa lalu.
Tetapi bagaimana hidup di masa sekarang tanpa terus-menerus dihantui olehnya.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!