Hanya Melihatnya Sekilas Ternyata Cukup untuk Membuatku Tersenyum Semalaman


 Mungkin memang sesederhana itu, hanya melihatnya sekilas ternyata cukup untuk membuatku tersenyum semalaman. Kemarin sore kami bertemu lagi, dan seperti biasa, aku datang dengan wajah yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku pura-pura biasa saja, pura-pura tidak terlalu peduli, seakan keberadaannya tidak memberikan pengaruh apa pun kepadaku. Padahal kalau saja dia tahu isi kepalaku saat itu, mungkin dia akan tertawa. Karena di balik wajah datar yang sengaja kupasang, sebenarnya ada perasaan lega yang sulit kusembunyikan. Setelah beberapa hari hanya bisa menebak-nebak keberadaannya, akhirnya aku melihatnya lagi. Tidak lama. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada kejadian besar. Hanya sebuah pertemuan singkat yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi entah kenapa cukup untuk membuat malamku terasa lebih ringan.

Aku memang selalu begitu dengannya. Semakin bahagia, semakin keras pula aku berusaha menyembunyikannya. Ada ego yang aneh dalam diriku, semacam keinginan untuk tidak memberinya kepuasan bahwa keberadaannya berhasil membuatku senang. Jadi aku memilih diam, menjaga ekspresi, pura-pura sibuk, sesekali melihat lalu segera mengalihkan pandangan. Padahal sebenarnya aku ingin melihatnya lebih lama. Aku ingin menikmati momen itu tanpa harus berpura-pura. Dan lucunya, aku merasa dia pun melakukan hal yang kurang lebih sama. Berkali-kali dia mencari cara untuk mendekat, mencari posisi agar terlihat, seperti masih ingin memastikan bahwa mataku menangkap keberadaannya. Sampai detik-detik terakhir ketika aku bersiap pulang pun, sepertinya masih ada usaha kecil darinya. Entah benar begitu atau lagi-lagi aku yang terlalu pandai membuat cerita dari gerakan sederhana.

Tapi memang ada satu masalah besar dalam diriku, aku bukan orang yang mudah merespons sesuatu secara spontan. Aku tipe yang harus memikirkan semuanya lebih dulu. Ada semacam jalur yang sudah tersusun di kepala. Kalau sesuatu terjadi di luar rencana, otakku seperti membutuhkan waktu untuk memahami apa yang harus dilakukan. Apalagi kalau menyangkut dia. Semakin mendadak momennya, semakin besar kemungkinan aku justru diam, mematung, atau melakukan sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang sebelumnya sudah kurencanakan. Di dalam kepala aku bisa menjadi orang yang sangat berani. Bisa membayangkan menghampirinya, menyapanya, bahkan mengatakan sesuatu yang selama ini kusimpan. Tetapi begitu kesempatan itu benar-benar datang, semuanya mendadak hilang seperti tulisan yang terkena hujan.

Padahal kemarin sebenarnya aku bisa tinggal lebih lama. Mungkin masih ada kesempatan untuk melihatnya lebih banyak. Mungkin juga ada sesuatu yang bisa terjadi. Tetapi urusan di rumah membuatku harus pulang lebih dahulu. Kali ini aku tidak bisa memperpanjang waktu hanya demi menunggu sebuah kemungkinan. Aku harus pergi, meskipun sebenarnya masih ada bagian kecil dalam diriku yang ingin tetap tinggal.

Namun anehnya, aku tidak terlalu kecewa.

Mungkin karena pertemuan kemarin sudah cukup.

Hanya sekilas melihatnya, beberapa kali menangkap keberadaannya, melihat usahanya mencari perhatian, lalu pulang membawa semua itu dalam ingatan, ternyata sudah bisa menjadi semacam hadiah kecil untuk malamku.

Aku tidak mendapatkan apa-apa darinya kemarin.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada pengakuan.

Tidak ada kepastian.

Tetapi aku pulang dengan perasaan yang entah kenapa terasa penuh.

Mungkin memang begitulah kisah ini bekerja. Tidak membutuhkan kejadian besar untuk membuatku bahagia. Kadang cukup satu sosok yang muncul sebentar di hadapan mata, lalu menghilang lagi sebelum sempat benar-benar kupahami.

Dan malamnya, tanpa sadar, aku tersenyum sendiri.

Mungkin karena akhirnya aku bertemu dengannya.

Atau mungkin karena untuk beberapa jam, aku tidak perlu merindukannya.

Comments

Popular Posts