Jangan-Jangan Lagu Perselingkuhan Ikut Membentuk Cara Kita Memandang Perselingkuhan?
Aku kok kepikiran sesuatu.
Belakangan ini rasanya semakin sering kita mendengar cerita tentang perselingkuhan. Di media sosial, di lingkungan sekitar, bahkan kadang dari orang-orang yang tidak pernah kita sangka.
Lalu tiba-tiba aku teringat lagu-lagu yang dulu sering kita dengarkan.
Sekitar sepuluh tahun lalu, bahkan lebih, banyak sekali lagu yang bercerita tentang perselingkuhan. Ada yang menjadi lagu patah hati, ada yang bercerita tentang seseorang yang mencintai pasangan orang lain, ada pula yang justru membuat kisah perselingkuhan terdengar begitu romantis.
Dulu kita mungkin mendengarkannya sambil lalu.
Menikmati melodinya.
Menghafalkan liriknya.
Bahkan ikut menyanyikannya tanpa pernah berpikir terlalu jauh tentang isi ceritanya.
Tapi kemudian aku berpikir...
Jangan-jangan sesuatu yang terus-menerus kita dengarkan selama bertahun-tahun bisa ikut memengaruhi cara kita melihat sesuatu?
Bukan berarti aku mengatakan orang berselingkuh karena mendengarkan lagu perselingkuhan.
Tidak sesederhana itu.
Perselingkuhan tentu punya banyak sebab. Bisa karena masalah dalam hubungan, kesempatan, ketidakpuasan, karakter pribadi, lingkungan, atau keputusan buruk yang memang dibuat seseorang.
Tapi aku penasaran dengan satu hal.
Bagaimana kalau lagu, film, cerita, dan budaya populer yang kita konsumsi terus-menerus sejak dulu secara perlahan membuat sesuatu yang sebenarnya salah menjadi terasa biasa?
Dulu mungkin kita mendengar cerita perselingkuhan dan merasa, "Wah, ini tragis."
Lama-lama menjadi, "Ya namanya juga cinta."
Kemudian muncul cerita bahwa seseorang rela menunggu bertahun-tahun demi kekasih orang lain.
Ada yang menggambarkan hubungan terlarang sebagai cinta yang begitu besar sampai tidak bisa dilawan.
Ada pula lagu yang membuat menjadi "orang ketiga" terdengar seperti posisi yang romantis dan menyedihkan sekaligus.
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, di balik cerita romantis itu ada seseorang yang mungkin sedang dikhianati.
Aku tidak tahu apakah benar ada hubungan antara semua itu dengan maraknya perselingkuhan sekarang.
Ini masih dugaan saya.
Dan mungkin juga dugaan yang terlalu sederhana.
Sebab manusia tidak bekerja seperti komputer yang memasukkan lagu lalu otomatis menghasilkan perilaku.
Tetapi aku tetap merasa menarik untuk memikirkannya.
Barangkali yang bekerja bukan lagunya secara langsung, melainkan normalisasi yang berulang-ulang.
Ketika sesuatu terus muncul dalam lagu, film, sinetron, media sosial, dan cerita sehari-hari, lama-lama kita menjadi terbiasa melihatnya.
Yang awalnya terasa asing menjadi familiar.
Yang awalnya terasa tabu menjadi bahan hiburan.
Dan sesuatu yang sudah terlalu sering kita lihat mungkin tidak lagi terasa seaneh dulu.
Mungkin bukan karena lagu mengajarkan kita untuk berselingkuh.
Mungkin karena lagu hanya menjadi salah satu bagian kecil dari lingkungan budaya yang membuat kita semakin akrab dengan cerita tentang perselingkuhan.
Entahlah.
Aku juga tidak ingin sok tahu soal ini.
Tetapi semakin kupikirkan, semakin menarik pertanyaannya:
Apakah apa yang kita dengarkan, tonton, dan ulang-ulang selama bertahun-tahun diam-diam ikut membentuk cara kita memandang cinta, kesetiaan, dan pengkhianatan?
Kalau iya, mungkin selama ini kita terlalu sering menganggap hiburan hanya sebagai hiburan.
Padahal bisa jadi, tanpa kita sadari, ada nilai-nilai tertentu yang ikut masuk bersama lagu yang kita nyanyikan.
Sekali lagi, ini hanya pikiranku malam ini.
Bukan kesimpulan. Bukan penelitian. Cuma sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!