Jangan Salah Sangka, Cerita Cinta Itu Bukan Kisah Saya


Saya kayaknya perlu menjelaskan ini sekali lagi, karena ternyata masih ada yang mengira cerita-cerita cinta melankolis yang sering saya posting adalah kisah pribadi saya.

Padahal, bukan.

Saya sudah pernah menjelaskan soal ini sebelumnya. Cerita-cerita tentang cinta yang hilang, seseorang yang pergi, perasaan yang tidak tersampaikan, mantan yang kembali, atau kisah dua orang yang saling mencintai tetapi tidak bisa bersama itu sebagian besar memang karangan.

Saya menulisnya karena ternyata ada pembaca yang suka.

Awalnya saya hanya iseng menulis satu-dua cerita. Ternyata responsnya lumayan. Ada yang membaca sampai selesai, ada yang ikut terbawa suasana, bahkan ada yang kemudian DM saya.

"Mas, lanjutannya mana?"

"Kapan tokohnya ketemu lagi?"

"Mas, bikin cerita seperti yang kemarin lagi dong."

Bahkan beberapa pembaca mengirim pesan lewat Instagram dan Facebook hanya untuk meminta saya melanjutkan cerita tertentu.

Ya sudah.

Saya akhirnya menulis lagi.

Dan karena pembaca ternyata suka cerita yang agak melankolis, ya saya ikuti saja. Kadang saya sendiri heran, kok bisa-bisanya setiap hari menulis tentang orang yang patah hati, ditinggalkan, merindukan seseorang, atau gagal bersama.

Padahal kehidupan saya sendiri sudah tidak berada di fase itu.

Saya sudah selesai dengan kisah cinta saya sendiri.

Sudah menikah. Sudah punya anak. Bahkan sekarang sedang menunggu anak kedua.

Jadi kalau setiap hari saya menulis tentang seseorang yang masih merindukan mantan, bukan berarti malam sebelumnya saya sedang duduk di depan jendela sambil memandangi hujan dan mengingat seseorang dari masa lalu. 

Tidak begitu.

Kadang memang saya hanya sedang duduk, membuka laptop, kemudian berpikir:

"Hari ini pembaca saya minta cerita apa?"

Lalu jadilah cerita.

Ada kalanya saya mengambil ide dari percakapan orang lain. Kadang dari kejadian yang saya lihat. Kadang dari imajinasi sendiri. Kadang juga hanya dari satu kalimat yang tiba-tiba muncul di kepala.

Jadi kalau kemudian ada tulisan saya yang terasa sangat personal, sangat sedih, atau seolah-olah saya sedang mengalami patah hati yang luar biasa...

belum tentu itu saya.

Bisa saja saya hanya sedang memainkan karakter.

Saya rasa ini penting saya sampaikan karena beberapa kali ada yang membaca tulisan saya kemudian menghubungkannya dengan kehidupan pribadi.

Ada yang mungkin berpikir saya sedang mengalami masalah dengan seseorang.

Ada yang mungkin mengira saya sedang mengenang masa lalu.

Atau jangan-jangan ada yang berpikir saya masih mencari-cari cinta. 

Lho...

Saya sudah punya keluarga. Mau mencari cinta ke mana lagi?

Apalagi kalau benar-benar setiap tulisan cinta saya dianggap pengalaman pribadi, berarti hidup saya ini terlalu dramatis. Hari ini patah hati, besok ditinggalkan, lusa CLBK, minggu depan gagal menikah. 

Padahal ya cuma tulisan.

Saya memang suka menulis cerita seperti itu karena saya menikmati proses membangun suasana dan perasaan tokohnya. Saya suka membayangkan bagaimana seseorang bisa merasa kehilangan, rindu, kecewa, atau akhirnya memilih melepaskan.

Bukan berarti saya sedang mengalami semuanya.

Mungkin justru karena saya tidak sedang mengalaminya, saya bisa menulisnya dengan lebih bebas.

Jadi buat teman-teman yang selama ini membaca tulisan-tulisan cinta saya, jangan salah sangka, ya.

Kalau ceritanya sedih, belum tentu saya sedang sedih.

Kalau tokohnya rindu seseorang, belum tentu saya sedang rindu seseorang.

Kalau tokohnya gagal move on, belum tentu saya juga gagal move on.

Kadang saya hanya sedang memenuhi permintaan pembaca.

Dan selama masih ada yang DM,

"Mas, lanjut ceritanya..."

ya mungkin saya akan tetap menulisnya.

Cerita boleh penuh luka.
Penulisnya belum tentu sedang terluka.

Comments

Popular Posts