Keterhubungan Hati

 


Ini tentang sebuah kalimat sederhana yang entah kenapa terus mengganggu pikiranku.

Aku sendiri tidak tahu dari mana asal keyakinan itu. Bukan dari buku yang kutandai sebagai referensi, bukan pula dari penelitian yang bisa kupercaya begitu saja. Hanya sebuah tulisan yang lewat begitu saja di linimasa media sosial. Barangkali sama seperti ratusan kutipan lain yang setiap hari muncul lalu hilang tanpa sempat diingat.

Anehnya, yang satu ini tidak ikut menghilang.

Ia menetap.

Terus berputar di dalam kepalaku.

Katanya...

Kalimat itu dimulai dengan kata yang sederhana, tetapi justru membuatku berhenti menggulir layar.

Katanya, jika kita terus-menerus memikirkan seseorang, bisa jadi pada saat yang sama orang itu juga sedang memikirkan kita.

Aku membaca kalimat itu sekali.

Lalu dua kali.

Kemudian menutup ponselku sambil mengernyitkan dahi.

Benarkah?

Atau hanya kalimat manis yang sengaja dibuat agar orang-orang sepertiku memiliki alasan untuk terus berharap?

Aku benar-benar tidak tahu.

Sampai sekarang pun aku belum percaya sepenuhnya.

Namun, anehnya, aku juga belum bisa mengabaikannya.

Sejak membaca kalimat itu, pikiranku seperti menemukan pertanyaan baru yang tidak kunjung selesai.

Bagaimana kalau memang ada semacam keterhubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika?

Bukan sesuatu yang ajaib.

Bukan pula hal-hal mistis seperti yang sering diceritakan orang.

Melainkan perasaan yang entah bagaimana membuat dua orang sesekali hadir di benak masing-masing tanpa pernah saling memanggil.

Aku bahkan kesulitan mencari istilah yang tepat.

Seolah ada benang yang tidak terlihat, menghubungkan dua hati yang sedang berjalan di jalan masing-masing. Benang itu tidak menarik dengan paksa, tidak pula mengikat. Ia hanya membuat seseorang sesekali menoleh ke arah yang sama, memikirkan nama yang sama, atau tiba-tiba terdiam karena wajah yang sama kembali muncul di dalam kepala.

Mungkin terdengar terlalu puitis.

Mungkin juga terlalu naif.

Aku sendiri tidak yakin.

Yang kutahu hanyalah, akhir-akhir ini pikiranku terlalu sering berlabuh padanya.

Saat bekerja, tiba-tiba aku teringat caranya berbicara.

Saat makan sendirian, aku bertanya-tanya apakah ia juga sedang beristirahat.

Saat pulang, tanpa sadar mataku mencari tempat-tempat yang biasanya pernah kulewati bersamanya, atau setidaknya tempat yang mengingatkanku pada keberadaannya.

Bahkan sebelum tidur, ketika ruangan sudah gelap dan tidak ada lagi yang harus kukerjakan, namanya sering kali menjadi pikiran terakhir yang mampir sebelum mataku benar-benar terpejam.

Aku tidak pernah sengaja memanggilnya.

Ia hanya datang.

Kadang pelan.

Kadang begitu saja.

Dan aku tidak tahu mengapa.

Mungkin memang beginilah cara rindu bekerja.

Bukan dengan suara yang keras, melainkan dengan kehadiran yang berulang-ulang.

Namun di sisi lain, aku juga berusaha menjaga diriku agar tidak terlalu mudah mempercayai hal-hal yang belum tentu benar.

Bisa saja semua ini bukan karena ada "keterhubungan hati" seperti yang ditulis orang-orang di media sosial.

Bisa jadi penjelasannya jauh lebih sederhana.

Ketika kita menyukai seseorang, otak kita memang cenderung sering kembali kepada sosok itu. Ia menjadi bagian dari kebiasaan berpikir. Sama seperti lagu yang terus terngiang setelah berkali-kali diputar, atau aroma tertentu yang tiba-tiba mengingatkan kita pada sebuah tempat.

Mungkin hanya itu.

Dan mungkin memang tidak perlu dicari penjelasan yang terlalu rumit.

Tetapi, harus kuakui, ada bagian kecil di dalam diriku yang diam-diam masih bertanya.

Bagaimana kalau, di suatu sore yang biasa saja, ketika aku tanpa sengaja memikirkannya...

ia juga sedang berhenti sejenak dari pekerjaannya, lalu tanpa alasan yang jelas mengingatku?

Aku tidak tahu.

Dan mungkin, aku memang tidak akan pernah tahu.

Karena beberapa pertanyaan dalam hidup tidak selalu membutuhkan jawaban. Ada yang hanya datang untuk menemani seseorang tetap berharap, sambil perlahan belajar menerima bahwa tidak semua rasa harus bisa dijelaskan.

Comments

Popular Posts