Malu aku Malu
Aku malu. Sungguh, malu sekali. Sampai sekarang aku sendiri masih bertanya-tanya, tadi sebenarnya setan apa yang merasukiku sampai tiba-tiba aku berani mendekatinya. Padahal selama ini aku selalu punya seribu alasan untuk menghindar setiap kali jarak kami mulai terlalu dekat. Tapi tadi entah bagaimana, kakiku justru membawaku mendekat. Dia sedang membelakangiku, dan tanpa sempat berpikir panjang, tanganku terangkat begitu saja, menepuk punggungnya pelan. Hanya itu. Tidak ada kalimat pembuka. Tidak ada sapaan. Tidak ada kata-kata yang selama berhari-hari sudah kususun di kepala.
Dia langsung berbalik. Wajahnya mengarah kepadaku, lalu dengan nada yang mungkin sebenarnya biasa saja, dia bertanya, “Ada apa?”
Dan di situlah seluruh keberanianku mendadak hilang.
Aku hanya tersenyum. Entah senyum macam apa. Mungkin senyum orang yang baru sadar bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti sendiri. Setelah itu aku malah memalingkan muka. Tidak menjawab. Tidak mengatakan apa-apa. Seolah-olah tadi bukan aku yang menghampirinya. Seolah-olah tangan yang menepuk punggungnya juga bukan tanganku sendiri.
Padahal beberapa menit sebelumnya aku sempat berpikir, hari ini aku harus mengatakannya.
Aku sudah berkali-kali membayangkan percakapan itu. Aku ingin mengatakan bahwa aku menyukainya. Aku ingin berhenti bermain dalam wilayah yang penuh dugaan ini. Aku ingin sekali tahu apa sebenarnya yang ada di kepalanya setiap kali dia mencari perhatianku, setiap kali tatapan kami bertemu, setiap kali dia sengaja berada di sekitarku. Rasanya sudah cukup lama aku menyimpan semuanya.
Ternyata ketika kesempatan itu benar-benar datang, aku bahkan tidak mampu mengatakan satu kalimat pun.
Aku hanya menepuk punggungnya.
Betapa memalukannya.
Sekarang aku malah sibuk memikirkan pertemuan berikutnya. Kalau nanti bertemu lagi, aku harus bagaimana? Apakah aku harus bersikap biasa saja? Menyapanya? Tersenyum? Atau pura-pura tidak terjadi apa-apa? Masalahnya, aku sendiri tahu bahwa sesuatu memang sudah terjadi. Kecil sekali, memang. Hanya sebuah tepukan di punggung dan pertanyaan sederhana, “Ada apa?” Tetapi bagiku, itu seperti sebuah kesalahan kecil yang terus diputar ulang oleh kepala.
Mungkin dia juga bertanya-tanya.
Maksudnya apa?
Dan aku tidak punya jawaban yang cukup masuk akal.
Padahal mungkin sebenarnya jawabannya sederhana: aku ingin mendekat, tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi keberanianku hanya cukup untuk menyentuh pundaknya. Aku ingin membuka pintu, tetapi begitu pintunya benar-benar terbuka, aku sendiri yang bingung harus masuk atau mundur.
Selama ini aku begitu mudah menyebutnya pengecut. Dia yang hanya berani mendekat tetapi tidak pernah menyapa. Dia yang memberi tanda tetapi tidak pernah mengatakan apa-apa. Dia yang membuatku terus menunggu.
Ternyata hari ini aku melihat cermin yang agak menyebalkan.
Aku ternyata sama saja.
Aku berani dalam pikiranku. Berani menyusun skenario, berani membayangkan percakapan, bahkan berani mengakui bahwa aku mencintainya. Tetapi ketika dia benar-benar berdiri di depanku dan bertanya, “Ada apa?”, semua kalimat itu menguap entah ke mana.
Yang tersisa hanya senyum gugup, muka yang berpaling, dan tepukan kecil di punggungnya.
Mungkin memang begitulah aku.
Bukan tidak punya perasaan.
Bukan tidak ingin mengatakan.
Hanya saja, keberanianku ternyata selalu lebih besar di dalam kepala daripada ketika harus berhadapan langsung dengannya.
Dan sekarang aku harus hidup dengan rasa malu itu sampai entah kapan.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!