Membiarkan Harga Diri Berbicara Lebih Keras Daripada Keberanian
Masih ada satu pertanyaan yang sampai hari ini belum pernah benar-benar terjawab.
Mungkin pertanyaan itu sederhana.
Mengapa aku tetap tidak pernah menyapanya?
Padahal kesempatan itu ada. Berkali-kali.
Aku sendiri tahu jawabannya, meskipun kadang malu mengakuinya.
Egoku masih terlalu besar.
Atau mungkin bukan ego. Mungkin lebih tepat disebut harga diri yang pernah merasa ditolak.
Aku masih mengingat pesan yang tak pernah mendapat balasan. Bagi orang lain mungkin itu hanya percakapan yang terlewat. Hal kecil yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Tetapi bagiku, diam itu terasa seperti sebuah jawaban. Bukan jawaban yang diucapkan, melainkan jawaban yang kutafsirkan sendiri.
Sejak saat itu, aku seperti membuat perjanjian diam-diam dengan diriku sendiri.
Kalau pesan sederhana saja tidak memperoleh balasan, mengapa aku harus menjadi orang yang terus membuka percakapan?
Mengapa aku harus terus melangkah sementara langkah sebelumnya bahkan tidak pernah disambut?
Maka aku memilih diam.
Bukan karena sudah berhenti menyukai.
Justru karena masih menyukai.
Diam terasa lebih aman daripada harus menanggung kemungkinan ditolak untuk kedua kalinya.
Lalu anehnya, ketika aku mulai benar-benar mempertimbangkan untuk pergi, justru banyak hal terasa berubah.
Setidaknya begitulah yang tampak di mataku.
Aku merasa ia lebih sering berada dalam jangkauan pandangku. Lebih mudah kusadari. Lebih sering muncul di saat-saat yang tidak kuduga. Bisa jadi semua itu hanya kebetulan. Bisa jadi hanya pikiranku yang sedang merangkai pola. Namun apa pun kenyataannya, aku merasakan ada perubahan dibandingkan beberapa bulan yang lalu.
Dan untuk pertama kalinya, aku berhenti memalingkan wajah.
Selama ini aku selalu menjaga jarak dengan cara berpura-pura tidak melihat. Aku melakukannya bukan karena tidak ingin memandangnya, melainkan karena takut rasa sukaku terlihat terlalu jelas.
Sekarang aku mulai membiarkan diriku melihat lebih lama.
Lebih sering.
Lebih leluasa.
Bukan untuk menantang.
Bukan pula untuk memberi isyarat.
Melainkan karena aku sadar waktuku di tempat ini mungkin tinggal sebentar lagi.
Kalau memang benar akhir bulan ini aku pergi, setidaknya aku ingin pulang dengan kenangan yang tidak dipenuhi penyesalan karena terlalu sering berpaling.
Kadang aku bahkan tertawa sendiri.
Kalau memang ia menyadari tatapanku, mungkin ia akan merasa berhasil. Mungkin ia akan merasa menang karena akhirnya mampu membuatku memperhatikannya lebih lama daripada biasanya.
Dan anehnya, aku tidak keberatan.
Biarlah begitu.
Ada kemenangan-kemenangan kecil yang tidak perlu diperebutkan.
Kalau itu membuat seseorang merasa lebih percaya diri, apa ruginya bagiku?
Lagi pula, aku sudah mengambil keputusan yang jauh lebih besar.
Aku memilih pergi.
Keputusan itu lahir bukan karena aku berhenti menyukai, melainkan karena aku mulai menyadari bahwa perasaan saja tidak cukup untuk membuat dua orang saling mendekat. Selama semuanya hanya hidup di dalam dugaan, seseorang pada akhirnya harus berhenti menunggu.
Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah aku kejam?
Apakah aku keterlaluan karena membiarkannya, atau mungkin hanya membiarkan dugaanku tentangnya, tetap menggantung, sementara aku diam-diam sudah mempersiapkan perpisahan?
Aku tidak tahu.
Mungkin bukan kejam.
Mungkin hanya terlambat jujur.
Atau mungkin kami berdua sama-sama terlalu takut mengambil satu langkah yang sederhana, berbicara.
Kalau memang ada penyesalan dalam cerita ini, mungkin bukan karena kami tidak saling memiliki.
Melainkan karena kami terlalu lama membiarkan harga diri berbicara lebih keras daripada keberanian.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!