Memelihara Cinta yang Tidak Jelas Bisa Menyakiti Diri Sendiri

 


Dia tidak memakai gelangnya.

Aku melihat pergelangan tangannya dan mendapati sesuatu yang sebenarnya sudah kuduga mungkin akan terjadi. Tidak ada gelang benang khas Bali itu di sana. Tidak melingkar di pergelangan tangannya. Tidak terlihat sama sekali.

Aku tidak tahu harus menafsirkan apa.

Mungkin dia memang tidak mengambilnya. Mungkin mengambil, tetapi tidak memakainya. Mungkin tidak suka. Mungkin lupa. Mungkin baginya gelang itu hanya benda kecil yang kebetulan kutinggalkan di meja. Atau mungkin memang tidak ada makna apa-apa di balik semua itu.

Aku bisa membuat seribu kemungkinan kalau mau.

Dan justru itulah masalahnya.

Aku terlalu sering hidup di antara kemungkinan.

Kemungkinan dia menyukaiku. Kemungkinan dia sedang mencari perhatianku. Kemungkinan tatapan itu memang berarti sesuatu. Kemungkinan gerak-geriknya bukan sekadar kebetulan. Kemungkinan suatu hari dia akan berani menyapa. Kemungkinan hubungan yang selama ini hanya berjalan lewat tatapan dan isyarat kecil itu akhirnya akan menjadi sesuatu yang lebih jelas.

Ternyata aku sendiri sudah lelah dengan kata "mungkin".

Jadi mungkin sekarang saatnya aku melakukan sesuatu yang sebenarnya sejak lama sudah kupikirkan: skip.

Bukan karena aku tiba-tiba tidak menyukainya.

Bukan pula karena perasaanku berubah dalam satu malam hanya gara-gara sebuah gelang yang tidak dipakai.

Aku masih menyukainya. Mungkin masih sangat menyukainya. Bahkan kalau besok dia kembali melakukan hal-hal kecil yang selama ini membuatku jatuh hati, aku tahu hatiku bisa kembali oleng. Aku sudah mengenal pola itu. Aku bisa saja mengatakan hari ini ingin berhenti, lalu besok hanya karena melihat senyumnya atau cara dia menata rambutnya, semua keputusan itu mendadak terasa tidak pernah ada.

Tapi aku juga mulai mengerti bahwa menyukai seseorang tidak selalu berarti harus terus menunggunya.

Kadang rasa suka justru perlu diberi jarak agar tidak berubah menjadi sesuatu yang menghabiskan diri sendiri.

Aku tidak ingin terus memelihara perasaan yang hanya hidup karena dugaan. Aku tidak ingin setiap gerakannya menjadi teka-teki yang harus kupecahkan. Aku tidak ingin sebuah gelang, sebuah tatapan, sebuah langkah mendekat, atau bahkan sebuah kebetulan kecil kembali menjadi alasan bagiku untuk berharap selama berhari-hari.

Kalau dia memang ragu dengan perasaannya, biarlah keraguan itu menjadi miliknya.

Aku tidak perlu ikut tinggal di dalamnya.

Dan kalau ternyata dia memang memiliki perasaan yang sama, mungkin suatu hari dia akan menemukan keberaniannya sendiri. Aku tidak perlu terus-menerus membuka jalan untuknya.

Untuk sekarang, aku ingin belajar melewatkannya.

Bukan membencinya.

Bukan menghapusnya.

Hanya melewatkannya.

Kalau bertemu, biarkan bertemu.

Kalau melihat, biarkan sekilas.

Kalau hati berdebar, biarkan sebentar lalu kembali pada hidupku.

Aku tidak ingin lagi menjadikan kehadirannya sebagai pusat dari hari-hariku.

Sebab pada akhirnya, aku harus mengakui sesuatu yang mungkin sejak awal sudah kutahu: mencintai seseorang itu indah, tetapi memelihara cinta yang tidak jelas terlalu lama bisa menjadi bentuk lain dari menyakiti diri sendiri.

Mungkin sekarang aku memang harus mulai skip.

Bukan karena aku sudah tidak berharap.

Justru karena aku masih berharap.

Dan aku tahu, kalau terus kubiarkan, harapan itu akan tumbuh lebih jauh daripada yang sanggup kutanggung.

Comments

Popular Posts