Menunggu Hari Senin Tiba


 Setelah kejadian kemarin, aku jadi penasaran sendiri, kira-kira apa yang ada di kepalanya sekarang? Maksudku, tentang kejadian ketika aku sengaja menepuk bahunya lalu tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum dan kemudian memalingkan wajah. Sesederhana itu sebenarnya. Tapi karena selama ini aku terlalu terbiasa menyimpan banyak makna di balik gerakan-gerakan kecil kami, aku jadi bertanya-tanya apakah dia juga akan membacanya sebagai sesuatu.

Mungkin dia paham. Mungkin juga tidak sama sekali.

Bisa jadi, setelah aku pergi, dia malah berdiri sambil bertanya-tanya, “Tadi itu maksudnya apa?” Atau mungkin dia menganggapnya sebagai kejadian biasa dan tidak memikirkannya lagi. Aku tidak tahu. Dan justru ketidaktahuan itu yang membuatku penasaran. Sayangnya kemarin dia tidak datang, sehingga aku tidak punya kesempatan untuk melihat apakah ada sesuatu yang berubah setelah kejadian itu. Aku jadi tidak tahu apakah dia akan bersikap berbeda ketika kami bertemu lagi, atau justru kembali seperti biasanya: berputar-putar di sekitar jangkauan pandangku, mencari alasan agar terlihat, mencuri-curi perhatian, lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa ketika aku melihatnya.

Kalau Senin nanti semuanya masih sama, mungkin aku harus mengakui bahwa satu tepukan di bahu memang terlalu samar untuk menerjemahkan sesuatu yang selama ini bahkan kami sendiri kesulitan mengatakannya. Aku ingin dia tahu, tetapi anehnya aku juga masih ingin menyisakan ruang untuk ketidakjelasan. Seolah-olah aku ingin mengirim pesan, tetapi tidak ingin menuliskan kalimatnya secara lengkap. Aku ingin dia membaca isi kepalaku dari sebuah gerakan kecil, padahal siapa yang bisa membaca hati hanya dari sebuah tepukan?

Kadang aku ingin tertawa memikirkan kelakuanku sendiri. Berbulan-bulan aku menunggu dia lebih berani. Berbulan-bulan aku mengeluh karena dia hanya memberi tanda tanpa pernah benar-benar mengatakan apa-apa. Lalu ketika akhirnya aku mencoba mengambil sedikit langkah, yang keluar justru sebuah tepukan di bahu. Bukan pengakuan. Bukan percakapan. Bahkan bukan sapaan yang normal.

Mungkin memang beginilah bahasa kami, terlalu banyak gerakan, terlalu sedikit kata.

Dan kalau Senin nanti dia masih melakukan hal yang sama, aku mungkin tidak perlu lagi menaikkan “tensi” tepukannya. Bisa-bisa bukannya hatinya yang tertembus, malah bahunya yang protes.  Yang sebenarnya ingin kuhantam bukan tubuhnya, tentu saja, melainkan dinding ketidakjelasan di antara kami.

Aku ingin sekali dia mengerti bahwa tepukan itu bukan tanpa maksud. Bahwa ada sesuatu yang sebenarnya ingin kukatakan tetapi gagal keluar. Bahwa di balik senyum kikuk dan wajah yang berpaling itu ada seseorang yang sedang berusaha mengumpulkan keberanian.

Tapi mungkin kali ini aku harus sedikit lebih jujur kepada diriku sendiri, kalau aku benar-benar ingin tidak ada salah paham, tepukan di bahu mungkin tidak cukup.

Sebab semakin lama kami berbicara lewat isyarat, semakin banyak kemungkinan yang bisa salah diterjemahkan.

Dan mungkin Senin nanti aku tidak membutuhkan pukulan yang lebih telak.

Aku hanya membutuhkan beberapa kata.

Comments

Popular Posts