Menyesal Sekaligus Bersyukur

 


Aku masih berada di antara dua perasaan yang aneh, menyesal sekaligus bersyukur. Menyesal karena kemarin aku kembali mengurungkan niat untuk mengatakan apa yang sebenarnya sudah berhari-hari ingin kusampaikan. Bersyukur karena, pada saat terakhir, aku masih mampu menahan diriku sendiri agar tidak mengikuti keinginan sesaat. Padahal beberapa hari sebelumnya aku begitu yakin dengan satu pikiran sederhana, lebih baik mengatakan daripada suatu hari menyesal karena tidak pernah mengungkapkan apa yang ada di hati. 

Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana caranya mencari kesempatan ketika dia sedang tidak bersama teman-temannya, memanggilnya sebentar, lalu mengatakan semuanya dengan singkat. Tidak perlu panjang. Tidak perlu dramatis. Cukup agar dia tahu bahwa selama ini ada sesuatu yang kusimpan.

Kesempatan itu sebenarnya ada. Bahkan mungkin lebih banyak daripada yang kusadari. Ada saat-saat ketika dia tidak dikelilingi teman-temannya. Ada ruang untuk mendekat, ada waktu untuk memanggilnya, bahkan mungkin ada kesempatan untuk berdiri cukup dekat dan membisikkan kalimat yang selama ini hanya berputar di kepalaku. Kalau aku benar-benar mau, mungkin semuanya bisa terjadi. Aku tinggal mengambil satu langkah kecil. Tetapi lucunya, justru ketika kesempatan itu benar-benar datang, keberanianku seperti kehilangan alasan untuk muncul.

Aku bertemu dengannya dan tiba-tiba aku tidak ingin mengatakan apa-apa.

Bukan karena takut seperti biasanya. Bukan juga karena tidak punya kata-kata. Rasanya lebih aneh dari itu. Seolah-olah pada saat melihatnya langsung, aku tidak menemukan perasaan yang cukup kuat untuk membuatku harus mengutarakan semuanya. Aku hanya ingin melihatnya. Menikmati keberadaannya sebentar. Membiarkan hubungan aneh ini tetap berada dalam bentuknya yang sekarang. Tidak jelas, tidak bernama, tetapi justru membuatku penasaran.

Dan dari situlah aku mulai mempertanyakan niatku sendiri.

Benarkah aku ingin hubungan ini menjadi jelas?

Atau sebenarnya aku hanya ingin tahu apakah dia juga merasakan sesuatu?

Sebab mungkin dua hal itu berbeda.

Aku bisa saja mengatakan perasaanku, kemudian dia membalasnya. Kami bisa saja akhirnya tahu apa yang selama ini sebenarnya terjadi. Tetapi setelah itu, apa? Apakah aku akan lebih bahagia? Apakah semuanya akan menjadi lebih indah setelah sebuah perasaan diberi nama? Atau justru setelah semuanya jelas, permainan kecil yang selama ini membuatku berdebar akan hilang?

Aku sendiri tidak tahu.

Aneh memang. Selama ini aku mengeluh karena kisah kami tidak bergerak ke mana-mana. Aku sering merasa lelah dengan tatapan, kode, gerak-gerik, dan keberanian yang selalu berhenti setengah jalan. Tetapi ketika kesempatan untuk mengakhiri ketidakjelasan itu benar-benar terbuka, aku justru memilih mempertahankannya.

Mungkin karena aku masih menyukai kebebasan.

Aku belum tentu menginginkan sebuah ikatan. Aku bahkan tidak yakin ingin memiliki hubungan yang kemudian menuntutku untuk menjelaskan banyak hal, menjaga banyak perasaan, dan kehilangan ruang untuk menjadi diriku sendiri. Mungkin yang kusukai bukan hanya dirinya, tetapi juga sensasi berada di antara kemungkinan. Ada pertanyaan yang belum terjawab. Ada rasa penasaran. Ada permainan kecil dalam membaca gerakannya. Ada kegembiraan ketika dia melakukan sesuatu yang kemudian kutafsirkan sendiri.

Dan mungkin justru ketidakjelasan itulah yang membuat semuanya tetap menarik.

Jadi untuk sekarang, aku tidak tahu apakah keputusan kemarin adalah sebuah kesalahan atau justru bentuk kewarasan yang masih tersisa dalam diriku.

Aku hanya tahu satu hal, aku belum siap mengubah sesuatu yang selama ini membuatku bertanya-tanya menjadi sesuatu yang sudah memiliki jawaban.

Barangkali aku masih ingin menikmati pertanyaannya.

Meski kadang pertanyaan yang terlalu lama dibiarkan juga bisa menjadi cara paling halus untuk menyakiti diri sendiri.

Comments

Popular Posts