Merindu dan Menunggu Sore Datang


Sekarang justru aku yang sangat merindukannya. Sangat. Sampai rasanya siang dan malamku dipenuhi orang yang sama, padahal dia bahkan tidak ada di hadapanku. Aku sempat berpikir, bukankah seharusnya wajar jika sesekali kami tidak bertemu? Bukankah kami memang tidak punya hubungan apa-apa yang membuat kami harus saling mencari setiap hari? Tetapi ternyata hati tidak selalu mau mengikuti logika. Ada hari ketika aku bisa biasa saja. Ada pula hari seperti sekarang, ketika ketidakhadirannya terasa seperti sesuatu yang terlalu besar.

Aku sampai melakukan hal yang sebenarnya agak konyol, memutar ulang video yang dulu pernah kusimpan dari tangkapan layar story orang lain. Video yang sebenarnya sudah berbulan-bulan tersimpan dan mungkin tidak pernah kubuka lagi kalau bukan karena hari-hari seperti ini. Aku memutarnya bukan karena ada sesuatu yang baru di sana. Justru karena tidak ada yang baru. Aku hanya ingin melihat wajahnya sekali lagi, mendengar suaranya kalau kebetulan terdengar, mengingat gerakannya, sekadar memberi sedikit makanan kepada rasa rindu yang tidak tahu harus pergi ke mana.

Dan setelah video itu selesai, aku malah semakin merindukannya.

Bodoh, memang.

Seharusnya melihat sesuatu tentang dirinya bisa membuatku sedikit lega. Tetapi ternyata rindu punya cara sendiri untuk bekerja. Kadang ia seperti haus: semakin diberi sedikit, semakin terasa bahwa yang sebenarnya kita inginkan tidak ada di sana.

Lalu pertanyaan-pertanyaan itu datang lagi.

Apakah dia sedang menghindariku?

Atau justru dia malu setelah kejadian tepukan di bahu itu?

Apakah dia sedang sibuk dengan urusannya sendiri?

Ataukah sebenarnya dia sengaja tidak datang karena tidak ingin bertemu denganku lagi?

Aku tidak punya jawaban untuk semua itu. Dan karena tidak ada jawaban, pikiranku mulai mengisi kekosongan dengan kemungkinan-kemungkinan yang paling aneh. Satu kemungkinan membuatku lega, kemungkinan lain membuatku gelisah. Beberapa menit kemudian aku bisa yakin bahwa dia hanya sedang punya urusan. Tak lama setelah itu, aku kembali berpikir jangan-jangan dia memang sudah berubah.

Begitulah overthinking bekerja ketika bertemu rindu, keduanya seperti saling menyiram bensin.

Aku mencoba mengerjakan aktivitas seperti biasa, tetapi pikiranku mudah sekali berbelok kepadanya. Sedang melakukan sesuatu, tiba-tiba teringat. Sedang diam, bertanya-tanya. Menjelang sore, mulai memperhatikan waktu. Lalu muncul pertanyaan yang sama lagi, hari ini dia datang atau tidak?

Aku bahkan sudah membayangkan kemungkinan ketika pintu terbuka nanti. Barangkali dia muncul seperti biasanya. Barangkali aku melihatnya dari kejauhan. Barangkali hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat seluruh kekhawatiran yang sejak pagi berputar di kepala tiba-tiba menguap.

Atau mungkin tidak.

Mungkin hari ini aku kembali tidak menemukannya.

Dan aku harus pulang lagi dengan membawa pertanyaan yang sama.

Entahlah.

Yang paling aneh dari semua ini adalah aku sebenarnya tidak meminta banyak. Aku tidak meminta dia menyapaku. Tidak meminta dia menjelaskan perasaannya. Bahkan tidak meminta sesuatu terjadi di antara kami.

Aku hanya ingin melihatnya.

Sekilas saja.

Tapi ternyata, ketika seseorang sudah terlalu jauh masuk ke dalam pikiran, sekilas pun bisa terasa seperti kebutuhan.

Dan sekarang aku hanya bisa menunggu sore datang sambil bertanya-tanya, apakah hari ini akhirnya aku akan bertemu dengannya, ataukah sekali lagi aku harus belajar menerima ketidakhadirannya tanpa tahu alasan apa pun?

Comments

Popular Posts