Metafora dan Fatamorgana Cinta


 Mungkin justru ketika perasaan sedang menggebu-gebu, pikiran menjadi tempat paling sulit untuk ditertibkan. Saat berada dalam ruangan yang sama dengannya, aku bisa saja pura-pura sibuk, pura-pura tidak melihat, bahkan berusaha meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Tetapi begitu berjauhan seperti sekarang, anehnya pikiranku justru lebih mudah kembali kepadanya. Ada saja celah kecil yang membuat ingatan tentangnya muncul. Sedang mengerjakan pekerjaan, tiba-tiba teringat wajahnya. Sedang diam, terbayang tingkahnya. Sedang menjalani rutinitas biasa, entah bagaimana pikiranku bisa berbelok lagi kepadanya. Seolah-olah otakku sudah memiliki jalan pintas menuju satu nama yang sama.

Tentu tidak setiap saat. Aku masih bekerja, masih mengurus tugas kantor, masih berbicara dengan orang lain, masih menjalani hari sebagaimana mestinya. Hidup tidak berhenti hanya karena aku sedang menyukai seseorang. Tetapi aku mulai menyadari betapa mudahnya perhatianku teralihkan. Sedikit saja ada ruang kosong dalam pikiran, dia bisa muncul lagi. Kadang hanya sebentar, kadang cukup lama sampai aku sendiri bertanya-tanya, kenapa lagi-lagi dia?

Dan mungkin di situlah pikiran liarku mulai bekerja. Bukan selalu tentang sesuatu yang harus diwujudkan, tetapi lebih seperti fantasi tentang kedekatan, tentang bagaimana jadinya jika kami benar-benar tidak lagi saling menjaga jarak, tentang kemungkinan-kemungkinan yang selama ini hanya berani hidup di kepala. Semakin besar rasa sukaku, semakin banyak pula skenario yang dibuat pikiranku sendiri. Kadang terasa begitu nyata, sampai aku harus mengingatkan diri bahwa semua itu hanya terjadi di dalam kepala.

Lalu aku kembali pada satu pertanyaan yang sejak beberapa waktu terakhir menggangguku, benarkah ketika kita terus-menerus memikirkan seseorang, orang itu juga sedang memikirkan kita?

Aku ingin mempercayainya.

Ada sesuatu yang terasa indah dalam gagasan bahwa dua orang yang saling menyukai bisa sama-sama memikirkan satu sama lain meski sedang berjauhan. Seolah ada benang tipis yang menghubungkan dua kepala, dua hati, dua tempat yang tidak sedang berdekatan. Aku sedang memikirkannya di sini, lalu mungkin, entah bagaimana, dia juga sedang mengingatku di sana.

Tapi kalau aku mau jujur, aku tahu itu belum tentu benar.

Pikiran tentang seseorang lebih banyak berbicara tentang kita daripada tentang orang tersebut. Ketika aku terus memikirkannya, itu membuktikan bahwa dia sedang memenuhi pikiranku. Itu belum menjadi bukti bahwa pikirannya juga sedang dipenuhi olehku. Perasaan bisa terasa seperti pertukaran sinyal, padahal mungkin hanya satu arah yang sedang sangat kuat.

Dan mungkin itulah yang membuatku penasaran sekaligus takut.

Bagaimana jika semua ini memang hanya terjadi di kepalaku?

Bagaimana jika dia memang memikirkanku juga, tetapi aku tidak pernah tahu?

Atau jangan-jangan kami berdua sama-sama memikirkan satu sama lain, tetapi sama-sama terlalu takut untuk memastikan?

Aku tidak tahu.

Mungkin memang ada keterhubungan yang belum bisa kujelaskan. Mungkin juga aku hanya sedang membuat sebuah metafora terasa seperti kenyataan karena aku ingin percaya bahwa perasaanku tidak berjalan sendirian.

Untuk sekarang, aku memilih menyebutnya sebagai kemungkinan saja.

Sebab kalau aku menganggapnya sebagai kebenaran, aku takut akan semakin tenggelam.

Dan kalau ternyata itu hanya fatamorgana, aku tidak ingin suatu hari tersadar bahwa selama ini aku mengejar sesuatu yang sebenarnya hanya diciptakan oleh pikiranku sendiri.

Comments

Popular Posts