Mungkin Aku Memang Keliru Membuka Pintu Itu Lagi
Sudah lama aku menutup semua aksesnya.
Bukan karena aku masih membencinya. Mungkin justru karena aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengan cerita lama itu.
Aku pernah dibohongi. Pernah ditinggalkan. Dan pada akhirnya aku memilih untuk menerima bahwa memang begitulah yang terjadi.
Tidak semua orang yang datang ke hidup kita ditakdirkan untuk tinggal.
Ada yang datang membawa cerita, kemudian pergi meninggalkan luka. Setelah itu, yang bisa kita lakukan hanyalah belajar.
Aku memilih melakukan itu.
Aku melanjutkan hidupku.
Aku menjalani pilihan-pilihanku. Dia juga menjalani pilihan-pilihannya. Kami sudah berada di dunia masing-masing. Setidaknya begitulah yang selama ini kupikirkan.
Karena itu, setelah waktu berjalan cukup lama, aku akhirnya membuka kembali aksesnya.
Bukan karena ingin kembali dekat.
Bukan karena ingin mencari tahu kehidupannya.
Bukan pula karena berharap sesuatu.
Aku hanya berpikir sederhana:
Sudahlah. Itu sudah lama sekali. Sepertinya dia juga sudah menjalani hidupnya sendiri.
Aku pikir membuka akses tidak akan mengubah apa-apa.
Ternyata aku salah.
Begitu pintu itu kubuka, dia muncul lagi.
Beberapa kali menghubungiku.
Aku tidak membalas.
Kupikir, kalau aku diam, dia akan mengerti.
Ternyata tidak.
Dia masih mencoba.
Kemudian muncul lagi melalui tanggapan terhadap postinganku. Memberikan komentar, merespons sesuatu yang kutulis, seolah-olah masih ada percakapan yang belum selesai di antara kami.
Padahal dalam pikiranku, cerita itu sudah selesai sejak lama.
Yang membuatku sedikit heran adalah dia seperti membaca postinganku sebagai sesuatu yang berkaitan dengannya.
Padahal tidak.
Aku menulis tentang hidupku.
Tentang pikiranku.
Tentang hal-hal yang sedang kupikirkan.
Tentang pengalaman yang sedang kualami.
Tidak semua tulisan yang bernada sedih adalah tentang masa lalu.
Tidak semua kalimat yang terdengar seperti kehilangan ditujukan kepada seseorang.
Tidak semua tulisan adalah kode yang harus diterjemahkan.
Kadang sebuah tulisan ya hanya sebuah tulisan.
Dan aku merasa agak lelah ketika seseorang dari masa lalu datang kembali dan seolah-olah ingin memasukkan dirinya ke dalam cerita yang sudah tidak lagi memuat namanya.
Aku tidak sedang menunggu dia
Mungkin ini yang ingin paling kutegaskan kepada diriku sendiri.
Aku tidak membuka akses itu karena masih berharap dia datang.
Aku tidak menulis karena ingin dia membaca.
Aku tidak mengunggah sesuatu supaya dia memberikan tanggapan.
Bahkan ketika dia menghubungiku, aku memilih tidak menjawab.
Bukan karena ingin membuatnya penasaran.
Aku hanya tidak tahu harus menjawab apa.
Apa yang harus dibicarakan?
Tentang masa lalu?
Tentang kebohongan yang pernah terjadi?
Tentang kenapa dia pergi?
Tentang kehidupannya sekarang?
Rasanya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Bukan karena aku tidak punya perasaan.
Justru karena aku sudah terlalu lama belajar berdamai dengan apa yang pernah terjadi.
Aku tidak ingin mengulangnya.
Mungkin dia merasa masih ada cerita yang tertinggal
Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya.
Mungkin dia ingin menjelaskan sesuatu.
Mungkin ingin bernostalgia.
Mungkin ingin mengetahui kehidupanku sekarang.
Mungkin juga hanya ingin kembali memiliki sedikit ruang dalam hidupku.
Aku tidak tahu.
Dan mungkin aku memang tidak perlu tahu.
Ada hal-hal yang dulu begitu penting untuk kupahami, tetapi sekarang tidak lagi perlu kucari jawabannya.
Dulu mungkin aku ingin tahu:
Kenapa dia melakukan itu?
Kenapa dia berbohong?
Kenapa dia pergi?
Kenapa setelah semua yang terjadi, aku yang harus menanggung akibatnya?
Sekarang aku sudah sampai pada satu titik:
Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban.
Kadang jawaban terbaik adalah menerima bahwa sesuatu memang terjadi dan kita tidak bisa mengubahnya.
Aku hanya tidak ingin masa lalu mengambil tempat lagi
Ini yang mungkin paling kutakutkan.
Bukan takut dia kembali sebagai seseorang.
Tetapi takut cerita lama itu kembali menjadi sesuatu yang harus kupikirkan.
Aku sudah membangun kehidupanku sendiri setelah semuanya.
Aku sudah memiliki rutinitasku.
Aku punya kesibukan.
Aku punya dunia yang berbeda.
Ada begitu banyak hal yang sekarang menjadi bagian dari hidupku yang tidak ada hubungannya dengan dia.
Lalu tiba-tiba seseorang dari masa lalu muncul dan mengetuk pintu berkali-kali.
Tentu saja aku menjadi bertanya-tanya.
Untuk apa?
Kenapa sekarang?
Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, sekecil apa pun, bisa membuat sesuatu yang sudah lama tenang kembali bergerak.
Padahal aku tidak ingin kembali ke sana.
Mungkin aku harus mengakui satu hal
Aku membuka akses karena mengira masa lalu sudah tidak memiliki kekuatan atas diriku.
Ternyata membuka pintu memang tidak selalu berarti kita ingin seseorang masuk.
Tetapi aku juga belajar bahwa aku berhak menutupnya kembali ketika kehadiran seseorang mulai mengganggu ketenanganku.
Tidak perlu marah.
Tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
Tidak perlu membalas semua pesan.
Tidak perlu membuat pengumuman bahwa aku sudah selesai.
Aku hanya perlu tahu apa yang kuinginkan.
Dan aku tahu satu hal:
Aku tidak ingin kembali.
Yang sudah terjadi, biarlah menjadi pengalaman.
Aku tidak perlu menghapusnya dari ingatan. Aku hanya tidak ingin menjadikannya bagian dari kehidupan yang sedang kujalani sekarang.
Mungkin memang ada orang-orang yang cukup kita kenang sebagai bagian dari masa lalu.
Bukan untuk dibenci.
Bukan untuk dicari.
Bukan untuk dijadikan musuh.
Hanya untuk diletakkan di tempat yang semestinya:
di belakang.
Dan kalau ternyata membuka kembali akses membuatnya datang lagi, mungkin aku tidak perlu merasa bersalah untuk menutupnya kembali.
Bukan karena aku masih terluka.
Bukan karena aku masih marah.
Tetapi karena akhirnya aku mengerti bahwa ketenangan yang sudah susah payah kubangun juga layak untuk dijaga.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!