Sebab Mungkin Jatuh Cinta Memang Seperti Itu....
Kadang aku merasa kasihan kepadanya. Bukan karena aku menganggap apa yang dilakukannya lucu atau berlebihan, tetapi justru karena aku bisa melihat betapa kerasnya dia berusaha hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dariku. Dari cara dia mencari-cari kesempatan agar berada di sekitar tempatku, mencuri-curi pandang ketika merasa aku sedang tidak melihat, sampai berusaha mendekat meskipun pada akhirnya seperti kehabisan keberanian ketika jarak kami sudah terlalu dekat. Ada saja caranya. Kadang begitu halus sampai aku sendiri harus berpikir ulang apakah itu memang disengaja atau hanya kebetulan. Tetapi kadang juga terlalu kentara untuk disebut kebetulan. Dan aku, yang sudah berkali-kali melihat pola yang sama, tentu saja bisa membaca sebagian dari gerak-geriknya.
Kadang aku ingin tertawa. Bukan menertawakan dirinya dalam arti merendahkan, tetapi lebih seperti menahan senyum ketika melihat seseorang yang sedang jatuh cinta namun tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaannya sendiri. Ada sesuatu yang menggemaskan dari orang yang berusaha terlihat biasa saja padahal seluruh gerak tubuhnya justru mengatakan sebaliknya. Dia mungkin ingin aku melihatnya, tetapi ketika aku benar-benar melihat, dia malah pura-pura sibuk. Dia mungkin ingin mendekat, tetapi ketika kesempatan itu terbuka, dia justru mencari alasan untuk berbelok. Seolah-olah ada dua orang yang hidup di dalam dirinya, satu ingin maju, satu lagi buru-buru menariknya mundur. Dan entah kenapa, aku merasa keadaan itu tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dalam diriku sendiri.
Mungkin dia memang sedang kasmaran. Mungkin juga ini pengalaman yang belum terlalu dikenalnya. Aku tidak tahu. Aku hanya menebak-nebak dari apa yang kulihat. Bisa jadi aku salah membaca semuanya. Bisa jadi seluruh cerita yang selama ini kususun di kepalaku hanya kumpulan potongan kecil yang kebetulan saling berdekatan. Tetapi kalau memang benar dia sedang mengalami sesuatu yang baru, aku tidak ingin menjadi orang yang membuatnya malu karena perasaannya sendiri. Aku tidak ingin menegurnya ketika dia berusaha menarik perhatianku. Aku juga tidak ingin menertawakannya ketika keberaniannya hanya berhenti beberapa langkah sebelum sampai kepadaku.
Biarkan saja.
Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta kepada seseorang yang bahkan belum tentu tahu harus dibawa ke mana perasaan itu. Biarkan dia merasakan debar kecil ketika melihatku datang. Biarkan ada rasa berbunga-bunga ketika tanpa sengaja kami berada dalam ruangan yang sama. Biarkan dia merasa kehilangan sesuatu ketika hari berlalu tanpa melihatku. Kalau memang ada rindu di sana, biarlah rindu itu tumbuh dengan caranya sendiri. Aku tidak perlu mengatur semuanya.
Aku hanya akan menunggu.
Bukan menunggu dalam arti mengejar atau memaksanya mengakui sesuatu. Aku hanya ingin melihat sejauh mana keberaniannya membawa perasaan itu. Aku sudah cukup terbiasa menghadapi orang-orang yang pemalu, ragu, bahkan takut pada kemungkinan ditolak. Aku tahu bagaimana rasanya ketika seseorang ingin mengatakan sesuatu tetapi lidahnya justru memilih diam. Aku juga tahu bagaimana seseorang bisa mengirim begitu banyak tanda hanya karena tidak sanggup mengucapkan satu kalimat sederhana.
Jadi biarlah.
Untuk sementara, aku akan membiarkannya menikmati masa kasmarannya. Membiarkannya mencari perhatianku, mencuri pandangan, mendekat lalu mundur lagi. Aku tidak akan mempermalukannya. Aku tidak akan membongkar dramanya di hadapannya.
Aku hanya akan melihat dari jauh, sambil sesekali tersenyum sendiri.
Sebab mungkin jatuh cinta memang seperti itu, dua orang sama-sama ingin mendekat, tetapi sama-sama terlalu takut untuk menjadi orang pertama yang benar-benar melangkah.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!