Selalu Ada Alasan untuk Menunda Menyatakan Perasaan

 


Aku memang menangkap kesan bahwa dia sedang berusaha mendekat. Bahkan sampai sore kemarin pun, rasanya usaha itu masih terlihat. Entah aku sedang membaca tanda dengan benar atau hanya kembali menafsirkan sesuatu sesuai dengan apa yang ingin kupercaya, tetapi ada bagian dari diriku yang merasa dia memang sedang mencoba mencari jalan agar lebih dekat denganku. Dia sudah beberapa kali berada di sekitar, mencari kesempatan untuk terlihat, seolah menunggu sesuatu dariku. Dan mungkin justru karena aku menyadarinya, aku menjadi semakin defensif.

Aku melihatnya, tetapi memilih diam. Aku tahu dia ada, tetapi berpura-pura sibuk. Ada kesempatan untuk sekadar menyapa, tetapi aku membiarkannya lewat begitu saja. Seolah-olah dengan tidak memberikan respons, aku sedang menjaga sesuatu dalam diriku agar tidak kembali terlalu jauh. Padahal mungkin dari sudut pandangnya, sikapku justru terlihat seperti penolakan. Dia sudah berusaha mendekat, sementara aku hanya memberinya tatapan singkat tanpa pernah benar-benar membuka pintu.

Itulah sebabnya beberapa kali aku merasa kasihan kepadanya.

Aku bisa membayangkan betapa membingungkannya berada di posisi itu. Ingin mendekat tetapi orang yang dituju terus memasang dinding. Ingin membaca respons tetapi yang didapat hanya sikap datar. Mungkin dia juga akhirnya bertanya-tanya, sebenarnya aku menginginkannya atau tidak.

Lucunya, di tengah semua itu, justru aku yang berkali-kali berpikir untuk mengatakan perasaanku.

Sudah beberapa kali aku membayangkan akan memanggilnya, mencari tempat yang agak sepi, lalu mengatakan apa yang selama ini kusimpan. Tetapi lagi-lagi aku mengulur waktu. Selalu ada alasan untuk menunda. Besok saja. Nanti saja. Tunggu suasana yang lebih tepat. Tunggu ketika dia tidak bersama teman-temannya. Tunggu ketika aku benar-benar yakin. Dan tanpa sadar, nanti itu terus berpindah menjadi nanti yang berikutnya.

Mungkin sebenarnya aku bukan tidak berani. Aku hanya belum siap menerima konsekuensi dari keberanian itu.

Sebab kalau aku mengatakan semuanya, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi di balik tatapan dan dugaan. Aku harus menerima jawabannya, apa pun itu. Kalau ternyata dia memang memiliki perasaan yang sama, hidupku mungkin akan berubah. Kalau ternyata tidak, aku juga harus menerima kenyataan bahwa selama ini aku terlalu jauh membaca tanda-tanda.

Dan mungkin itulah yang paling kutakuti.

Aku selalu menghindar karena dengan menghindar aku masih bisa mempertahankan semua kemungkinan. Selama belum ada percakapan, aku masih bisa mengatakan kepada diriku sendiri bahwa mungkin dia menyukaiku. Mungkin dia hanya malu. Mungkin dia menunggu aku. Mungkin kami hanya sama-sama takut. Semua kemungkinan itu masih hidup karena tidak pernah ada yang benar-benar mengujinya.

Tapi aku juga tahu, tidak mungkin selamanya seperti ini.

Aku manusia biasa. Sebagai laki-laki, aku juga punya keinginan untuk dekat, untuk mendapatkan kepastian, untuk merasakan bahwa rasa yang selama ini kupendam tidak berjalan sendirian. Ada saat-saat ketika keinginan itu begitu kuat sampai aku sendiri takut suatu hari pertahananku runtuh. Bukan karena aku tidak bisa mengendalikan diri, tetapi karena terlalu lama menahan sesuatu juga melelahkan.

Jadi mungkin sekarang aku hanya sedang mengulur waktu.

Entah sampai kapan.

Sampai aku benar-benar berani mengatakannya, atau sampai perasaan ini perlahan habis dengan sendirinya.

Dan yang paling membuatku bingung, aku tidak tahu mana yang akan datang lebih dulu.

Comments

Popular Posts