Sesuai Dugaan, Dia Tidak Datang


 Sesuai dugaan, dia tidak datang.

Aku sudah berkali-kali mengecek. Setiap kali melihat teman-temannya mulai berdatangan, entah kenapa mataku otomatis mencari satu orang yang sebenarnya tidak pernah kukatakan sedang kucari. Satu per satu mereka muncul, tetapi dia tidak ada. Aku sempat menunggu sedikit lebih lama, barangkali datang belakangan. Lalu menunggu lagi, sekadar memberi kesempatan kepada kemungkinan yang sebenarnya semakin kecil.

Tetap tidak ada.

Ya sudah.

Sejak awal aku memang sudah tahu bahwa hari Sabtu seperti ini bukan waktu yang terlalu bisa diandalkan untuk bertemu dengannya. Dia memang jarang datang, dan aku seharusnya tidak terlalu banyak berharap. Hanya saja, setelah beberapa hari kami tidak bertemu, aku sempat membuat dugaan kecil di dalam kepala, mungkin kali ini dia akan datang. Mungkin setelah beberapa hari tidak melihatku, dia juga ingin melihatku lagi. Mungkin dia akan kembali melakukan kebiasaan-kebiasaannya yang selama ini membuatku diam-diam tersenyum, beredar di sekitar pandanganku, mencari-cari kesempatan agar terlihat, atau sekadar menciptakan momen kecil yang entah sengaja atau kebetulan.

Mungkin.

Kata itu memang menyenangkan sekaligus menyebalkan.

Ia bisa membuatku berharap tanpa memberikan kepastian apa-apa.

Dan hari ini, ternyata "mungkin" itu tidak terjadi.

Yang agak lucu, aku datang membawa sesuatu untuknya. Oleh-oleh dari perjalanan beberapa hari kemarin. Tidak besar, tidak istimewa, bahkan mungkin kalau kuberikan pun dia akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Tetapi sejak berangkat kemarin, benda itu sudah kusimpan dengan pikiran sederhana, nanti kalau bertemu, akan kuberikan.

Sesederhana itu.

Ternyata sampai aku pulang, benda itu masih tersimpan.

Tidak jadi keluar dari tas.

Tidak jadi berpindah tangan.

Mungkin memang belum waktunya.

Atau mungkin aku yang terlalu cepat membuat skenario tentang seseorang yang bahkan belum tentu datang.

Aku sempat tersenyum sendiri ketika menyadari hal itu. Betapa mudahnya aku menyusun adegan di dalam kepala, bertemu, melihatnya, mungkin saling memperhatikan sebentar, lalu entah bagaimana menemukan kesempatan untuk menyerahkan oleh-oleh itu. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana. Dia tidak datang, dan seluruh skenario itu selesai bahkan sebelum dimulai.

Jadi sekarang oleh-oleh itu kembali bersamaku.

Menunggu.

Entah sampai kapan.

Mungkin Senin.

Aku kembali menyimpan harapan kecil itu di tempat yang tidak terlalu terlihat. Senin masih ada. Masih ada kemungkinan kami bertemu lagi setelah beberapa hari yang terasa panjang ini. Dan kalau dia benar-benar datang nanti, mungkin aku akan kembali mengalami hal yang sama, berpura-pura biasa saja, padahal dalam hati sudah senang sejak pertama kali melihatnya.

Kalau ternyata Senin pun tidak bertemu?

Ya sudah.

Mungkin aku akan belajar lagi bahwa menunggu seseorang memang selalu seperti itu. Kita menyiapkan hati untuk sebuah pertemuan, tetapi tidak pernah benar-benar bisa memaksa pertemuan itu terjadi.

Untuk sekarang, aku hanya akan menyimpan oleh-oleh itu kembali.

Siapa tahu Senin dia datang.

Siapa tahu aku benar-benar bisa memberikannya.

Dan kalau tidak?

Mungkin oleh-oleh itu akan menjadi satu lagi benda kecil yang menyimpan cerita tentang seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa hari ini aku menunggunya.

Comments

Popular Posts