Setelah 11 Tahun Menunggu, Akhirnya Dua Garis Biru Itu Datang


 Hari ini saya ingin berbagi cerita untuk teman-teman yang sedang menjadi pejuang dua garis biru. Bukan sebagai dokter, bukan pula sebagai orang yang merasa paling tahu tentang program kehamilan. Saya hanya ingin bercerita tentang apa yang kami alami dan beberapa hal yang kebetulan kami lakukan sebelum akhirnya mendapatkan kabar yang sangat kami tunggu-tunggu.

Anak pertama kami lahir pada 2016.

Setelah itu, sebenarnya kami tidak terlalu berpikir untuk menambah anak. Bukan karena tidak mau, tetapi saat itu rasanya satu anak sudah cukup. Kami juga tidak menjalani program KB atau menggunakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan.

Jadi, ya sudah...

Kalau ingin ya ingin. Kalau kemudian Tuhan memberikan kehamilan, kami terima dengan bahagia. Kalau belum diberi, kami juga tidak terlalu memikirkannya.

Namun, semakin lama, keinginan untuk memiliki anak lagi ternyata muncul juga.

Masalahnya, waktu berjalan begitu saja.

Satu tahun.

Dua tahun.

Lima tahun.

Sampai akhirnya tidak terasa sudah 11 tahun sejak kelahiran anak pertama, tetapi kehamilan berikutnya belum juga datang.

Sementara itu, saya melihat kakak, adik, saudara, teman, bahkan orang-orang di sekitar kami sudah memiliki anak lagi. Ada yang sudah dua kali, tiga kali, bahkan lebih.

Saya tentu ikut bahagia melihat mereka.

Tetapi sebagai manusia, kadang ada juga perasaan yang sulit dijelaskan.

"Kapan giliran kami?"

Pertanyaan seperti itu kadang muncul begitu saja.

Pada 2026 ini kami akhirnya mulai lebih serius memikirkan program kehamilan. Bukan lagi sekadar berkata, "Kalau diberi ya alhamdulillah," tetapi mulai mencoba melakukan beberapa hal yang menurut kami bisa mendukung ikhtiar.

Dan ternyata, perjalanan kecil itu membawa kami pada sebuah kabar yang sampai sekarang masih membuat saya mengucapkan Alhamdulillah berkali-kali.

Mulai lebih aktif berolahraga

Salah satu perubahan yang saya lakukan adalah mulai rutin berolahraga.

Saya ikut gym dan saat tulisan ini dibuat, sudah sekitar enam bulan saya menjalani latihan. Istri juga sempat ikut gym, meskipun hanya sekitar dua bulan kemudian berhenti.

Di awal latihan, saya menggunakan jasa personal trainer untuk belajar gerakan-gerakan dasar. Maklum, sebelumnya saya tidak terlalu paham bagaimana menggunakan alat-alat gym dengan benar.

Sekarang pun saya belum bisa disebut jago. Bentuk badan masih jauh dari kata atletis. Masih setengah jadi, kalau kata saya sendiri.

Tetapi setidaknya saya mulai menikmati prosesnya.

Saya juga mulai memperhatikan latihan kaki dan bokong. Dalam seminggu biasanya saya menjadwalkannya dua kali, Rabu dan Sabtu.

Awalnya saya berpikir, buat apa repot-repot latihan kaki?

Ternyata semakin lama saya justru memahami bahwa latihan kekuatan tubuh secara keseluruhan memang penting. Saya juga pernah membaca bahwa latihan fisik dan menjaga kebugaran dapat mendukung kesehatan metabolisme serta kesehatan reproduksi pria.

Jadi, daripada hanya mengejar dada dan lengan supaya kelihatan bagus di depan kaca, saya mulai belajar bahwa kaki juga harus diajak bekerja.

Mulai memperhatikan asupan

Selain olahraga, kami juga mulai memperhatikan beberapa suplemen.

Untuk saya sendiri, karena memang sedang rutin gym, saya mengonsumsi beberapa suplemen seperti omega-3, zinc, vitamin C, vitamin D3 dan K2, magnesium, kreatin, serta whey protein.

Sedangkan istri mengonsumsi asam folat 1.200 mcg, glutathione 1.000 mg, dan zinc plus.

Awalnya beberapa suplemen tersebut kami beli sendiri melalui Shopee. Saat itu kami belum berkonsultasi dengan dokter.

Namun setelah mulai mengonsumsinya, kami kemudian memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan.

Ini bagian yang menurut saya penting untuk saya ceritakan, pengalaman kami bukan berarti semua orang harus mengikuti jenis dan dosis suplemen yang sama.

Kondisi setiap pasangan tentu berbeda. Jadi, kalau memang sedang menjalani program kehamilan, menurut saya pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter tetap merupakan langkah yang lebih aman.

Dalam kasus kami, setelah berkonsultasi, dokter justru meminta istri melanjutkan beberapa yang memang sedang dikonsumsi.

Dan kemudian datanglah sesuatu yang sama sekali tidak kami sangka.

Tidak sampai satu bulan setelah konsultasi...

Istri hamil.

Saya masih ingat bagaimana rasanya ketika mengetahui kabar itu.

Ada bahagia.

Ada tidak percaya.

Ada rasa haru.

Dan mungkin juga ada sedikit rasa takut karena setelah sekian lama akhirnya doa yang selama ini seperti kami simpan diam-diam mendapatkan jawaban.

Alhamdulillah.

Setelah 11 tahun, akhirnya kami kembali melihat dua garis.

Saya tidak berani mengatakan bahwa kehamilan itu terjadi karena gym, karena suplemen, atau karena hal tertentu yang kami lakukan.

Saya juga tidak ingin membuat cerita kami seolah-olah menjadi resep bagi pasangan lain.

Sebab mungkin memang waktunya sudah tiba.

Mungkin ikhtiar kami hanya bagian kecil dari perjalanan panjang yang sudah Tuhan atur.

Tetapi dari pengalaman pribadi ini, saya belajar satu hal, kalau masih memiliki harapan, tidak ada salahnya terus berusaha.

Bagi teman-teman yang saat ini sedang menjadi pejuang dua garis biru, saya tahu mungkin perjalanan kalian tidak mudah.

Ada yang sudah mencoba berbulan-bulan.

Ada yang bertahun-tahun.

Ada yang setiap kali melihat orang lain hamil, diam-diam bertanya dalam hati, "Kapan saya?"

Saya pernah berada di posisi menunggu itu.

Dan sekarang, setelah akhirnya mendapatkan kabar yang kami tunggu, saya hanya ingin bilang:

Semoga teman-teman yang sedang berjuang segera mendapatkan kabar baik.

Tetap berusaha sebisanya. Jaga kesehatan. Kalau perlu, periksa dan konsultasikan dengan dokter. Jangan malu mencari bantuan ketika memang dibutuhkan.

Dan tentu saja, jangan lupa berdoa.

Karena pada akhirnya, setelah semua usaha yang bisa kita lakukan, ada bagian yang memang harus kita serahkan kepada Tuhan.

Semoga segera menyusul dua garis birunya. Aamiin.

Comments

Popular Posts