street-smart
Ada satu hal yang mungkin belum pernah kuceritakan dengan utuh.
Sebelum semua kisah ini menjadi seruwet sekarang—sebelum setiap pertemuan terasa penuh tanda tanya, sebelum aku sibuk memikirkan arti tatapan, jarak, dan diam yang berkepanjangan—aku bukan orang yang mudah menganggap setiap perhatian sebagai pertanda.
Justru sebaliknya.
Aku termasuk orang yang cukup lama menahan diri sebelum berani menyimpulkan apa pun.
Banyak orang mungkin mengira aku terlalu berlebihan dalam menafsirkan keadaan. Aku bisa memahami anggapan itu. Kalau hanya membaca kisah-kisah yang kutulis sekarang, memang mudah sekali menyimpulkan bahwa aku sedang merangkai cerita dari potongan-potongan kejadian yang belum tentu saling berhubungan.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Aku terbiasa mengamati.
Mungkin istilah yang paling mendekati adalah street-smart. Bukan berarti aku selalu benar membaca orang, tetapi pengalaman membuatku terbiasa memperhatikan pola-pola kecil dalam perilaku manusia. Bukan berdasarkan teori psikologi yang kubaca di buku, melainkan dari pengalaman berinteraksi dengan banyak orang selama bertahun-tahun.
Ada kalanya seseorang berkata "tidak apa-apa", tetapi bahasa tubuhnya mengatakan sebaliknya.
Ada kalanya seseorang tidak mengucapkan apa pun, tetapi sikapnya justru berbicara jauh lebih banyak daripada kata-kata.
Tentu saja, intuisi seperti itu bukan jaminan bahwa dugaanku selalu tepat. Intuisi tetap bisa keliru. Karena itulah aku berusaha berhati-hati. Aku tidak ingin mengubah dugaan menjadi kepastian hanya karena aku merasa yakin.
Itulah sebabnya aku tidak langsung berpikir macam-macam ketika semua ini bermula.
Aku membiarkannya berjalan.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Bahkan berbulan-bulan.
Aku mengamati lebih banyak daripada bertindak. Aku memilih diam lebih sering daripada mengambil kesimpulan. Ada proses yang panjang sebelum akhirnya aku mengakui kepada diriku sendiri bahwa ada sesuatu yang terasa berbeda dibanding pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Benar atau salah, aku belum tahu.
Tetapi setidaknya aku tidak tiba di titik ini dalam semalam.
Sayangnya, ada satu keputusan yang sampai hari ini masih sering kusesali.
Aku terlalu cepat mengambil langkah.
Aku lebih dulu mengikuti akun media sosialnya.
Aku lebih dulu mengirimkan pesan.
Saat itu niatku sederhana. Aku hanya ingin memecahkan kecanggungan yang selama ini kurasakan ketika kami sering berpapasan. Kupikir, mungkin percakapan singkat akan membuat semuanya menjadi lebih mudah.
Ternyata tidak.
Pesan itu tidak pernah benar-benar berkembang menjadi sebuah komunikasi.
Dan justru langkah kecil itulah yang kini sering menjadi beban di dalam pikiranku.
Aku merasa seperti kehilangan posisi.
Kalau suatu hari nanti aku memilih bertanya secara langsung, aku selalu membayangkan kemungkinan terburuk. Bagaimana jika ia berkata bahwa selama ini tidak pernah ada apa-apa? Bagaimana jika semua yang kurasakan ternyata hanya hidup di dalam kepalaku?
Dalam bayanganku, akulah yang akan tampak sebagai orang yang sejak awal mengejar. Bukti-buktinya pun seolah sudah ada: aku yang lebih dulu mengikuti akunnya, aku yang lebih dulu mengirim pesan, aku yang lebih dulu membuka jalan.
Padahal cerita yang terjadi di dalam kepalaku jauh lebih panjang daripada itu.
Mungkin karena itulah sekarang aku memilih lebih banyak diam.
Bukan karena keberanianku habis.
Melainkan karena aku merasa setiap langkah yang kuambil akan selalu dibayangi oleh keputusan yang pernah kubuat di awal.
Aneh memang.
Satu tindakan yang waktu itu terasa begitu sederhana, kini seperti menjadi simpul yang mengikat semua keberanianku.
Aku tidak tahu apakah sikapku ini benar atau justru terlalu hati-hati.
Yang kutahu hanya satu: aku tidak lagi ingin memaksa sebuah jawaban lahir dari dugaan. Kalau suatu hari nanti memang ada kejelasan, aku berharap kejelasan itu datang dari percakapan yang jujur, bukan semata-mata dari tafsir yang kubangun sendiri.
Sampai saat itu tiba, mungkin yang bisa kulakukan hanyalah menerima bahwa intuisi bisa menjadi petunjuk, tetapi bukan bukti. Dan di antara keduanya, masih ada ruang yang harus kuisi dengan kesabaran.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!