Tak Akan Lagi Sama
Sepertinya, setelah sore itu, semuanya tidak akan sama lagi.
Setidaknya begitulah dugaanku sejak semalam. Entah benar atau tidak, pikiranku terus memutar kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum tentu terjadi. Satu kejadian singkat di jalan tiba-tiba terasa mampu mengubah seluruh arah cerita yang selama berbulan-bulan hanya bergerak di tempat.
Aku terus bertanya-tanya.
Bagaimana jika ia memang melihatku dengan jelas?
Bagaimana jika ia sempat mengenali siapa yang kubonceng?
Dan bagaimana jika, dalam hitungan beberapa detik itu, ia menyimpulkan sesuatu tentangku yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataannya?
Aku tidak tahu.
Tetapi justru karena tidak tahu, pikiranku terus bekerja tanpa henti.
Aku mencoba menempatkan diriku pada posisi yang kubayangkan sedang dialaminya. Jika aku setiap hari memikirkan seseorang, diam-diam berharap bisa lebih dekat dengannya, lalu suatu sore melihat orang itu pergi bersama perempuan lain, apa yang akan kurasakan?
Mungkin kecewa.
Mungkin biasa saja.
Mungkin aku akan berpikir, "Oh, ternyata selama ini aku salah mengartikan."
Atau mungkin aku akan memilih berhenti berharap.
Namun semua itu hanyalah bayanganku sendiri. Aku tidak benar-benar tahu bagaimana ia memaknai kejadian itu, atau bahkan apakah ia memaknainya sama sekali. Bisa jadi peristiwa itu tidak meninggalkan kesan apa pun baginya, sementara aku justru menghabiskan satu malam penuh untuk memikirkannya.
Begitulah rumitnya cerita yang dibangun di atas dugaan.
Hari ini hari Minggu.
Ada jeda yang terasa lebih panjang daripada biasanya.
Dan justru jeda itulah yang membuat pikiranku semakin berisik.
Aku membayangkan hari Senin.
Apakah semuanya masih akan sama?
Apakah ia masih akan berada di tempat-tempat yang biasanya kulihat?
Apakah ia masih akan sesekali melintas di sekitar pandanganku?
Ataukah justru akan menjaga jarak lebih jauh daripada sebelumnya?
Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya.
Yang membuatku semakin gelisah adalah kenyataan bahwa aku sendiri pernah mengalami sesuatu yang mirip, meskipun dalam bentuk yang jauh lebih kecil.
Aku masih ingat bagaimana caraku memandangnya pernah berubah hanya karena melihat satu hal kecil di media sosial yang menurutku memiliki makna tertentu. Padahal belum tentu memang demikian. Hanya sebuah petunjuk yang bahkan tidak pernah dikonfirmasi, tetapi cukup untuk membuatku menahan diri dan mempertanyakan kembali semua dugaanku.
Kalau hal sekecil itu saja bisa mengubah cara pandangku, bagaimana jika seseorang benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri orang yang selama ini ia perhatikan sedang bersama orang lain?
Pikiran itulah yang terus menghantuiku.
Namun setelah semalaman membiarkan semua kemungkinan itu berputar di kepala, aku mulai menyadari sesuatu.
Selama ini, hampir seluruh cerita kami hidup di dalam tafsir.
Aku menafsirkan tatapan.
Aku menafsirkan kedekatan.
Aku menafsirkan kebetulan.
Dan sekarang aku juga sedang menafsirkan apa yang mungkin ia pikirkan setelah melihatku.
Padahal kenyataannya, aku tidak benar-benar tahu.
Mungkin Senin nanti ia akan bersikap sama seperti biasanya.
Mungkin ia akan sedikit berbeda.
Mungkin juga tidak ada perubahan apa-apa, dan semua kegelisahan ini hanyalah hasil dari pikiranku sendiri yang selalu ingin menemukan makna di balik setiap peristiwa.
Aku belum punya jawabannya.
Karena itu, untuk pertama kalinya, aku ingin mencoba datang pada hari Senin tanpa membawa terlalu banyak skenario. Bukan berarti aku berhenti peduli, tetapi karena aku mulai sadar bahwa ada terlalu banyak hal yang tidak bisa kutentukan sendiri.
Kalau memang satu kejadian di jalan itu mengubah sesuatu, waktulah yang akan memperlihatkannya.
Kalau ternyata tidak mengubah apa-apa, berarti aku telah menghabiskan satu akhir pekan untuk memikirkan sesuatu yang hanya hidup di dalam kepalaku.
Apa pun yang terjadi nanti, setidaknya aku akan melihatnya dengan mata sendiri, bukan hanya dengan ketakutan-ketakutan yang kubangun sebelum hari itu benar-benar datang.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!