Terlambat Menyadari


 Aku selalu terlambat memahami maksudnya. Entah kenapa, kalau berhadapan langsung dengannya, otakku seperti kehilangan kemampuan membaca situasi. Semua terasa biasa saja ketika kejadian berlangsung, tetapi beberapa jam kemudian, atau bahkan keesokan paginya, barulah potongan-potongan kecil itu kembali muncul di kepala dan tiba-tiba terasa masuk akal. Seperti pagi ini. Aku baru sadar bahwa mungkin kemarin dia sebenarnya sedang menunggu sesuatu dariku.

Kemarin dia berdiri membelakangiku. Posisi itu sebenarnya aneh kalau dipikir-pikir lagi. Dia tidak benar-benar pergi, juga tidak sedang sibuk dengan sesuatu yang mengharuskannya berdiri di sana. Seolah-olah dia sengaja memberi waktu dan ruang, menunggu sesuatu yang entah apa. Mungkin sapaan. Mungkin ajakan. Mungkin hanya ingin melihat apakah kali ini aku akan melakukan sesuatu lebih dulu. Aku tidak tahu. Yang jelas, sekarang ketika mengingatnya kembali, rasanya seperti ada sebuah kesempatan yang kemarin berdiri tepat di depan mataku, tetapi justru kulewatkan begitu saja.

Dan yang paling menyebalkan, aku baru menyadarinya pagi ini.

Kenapa selalu begini?

Ketika momen itu berlangsung, aku malah sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku melihatnya, tetapi tidak benar-benar melihat. Aku menyadari keberadaannya, tetapi tidak menangkap kemungkinan bahwa keberadaannya di situ mungkin memang ditujukan kepadaku. Aku terlalu terbiasa menunggu dia melakukan sesuatu yang lebih jelas. Sebuah sapaan. Sebuah kalimat. Sebuah tindakan yang tidak bisa lagi kutafsirkan ke mana-mana. Padahal mungkin dia sendiri sedang menunggu keberanianku.

Mungkin dia berpikir, “Kalau dia memang ingin bicara, kali ini dia akan memulai.”

Dan aku? Aku malah diam.

Baru sekarang aku memutar ulang adegannya dalam kepala. Dia membelakangiku. Tidak pergi. Seperti menunggu. Aku berada di belakangnya. Sama-sama diam. Sama-sama mungkin berharap sesuatu terjadi. Tetapi akhirnya tidak ada apa-apa.

Dua orang yang mungkin sedang menunggu hal yang sama, tetapi tidak ada satu pun yang berani mengucapkannya.

Lucu sekaligus menyedihkan.

Dan ini bukan pertama kalinya aku seperti itu. Berkali-kali aku baru memahami maksud sebuah tatapan setelah momennya lewat. Baru menyadari sebuah gerakan setelah aku pulang. Baru mengerti bahwa mungkin ada kesempatan setelah kesempatan itu tidak bisa diulang lagi. Seolah-olah otakku membutuhkan waktu untuk memproses sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi di depan mata.

Aku memang payah dalam urusan seperti ini.

Mungkin karena aku terlalu banyak berpikir. Terlalu takut salah membaca. Terlalu takut menganggap sesuatu sebagai tanda cinta, padahal mungkin hanya kebetulan. Akhirnya aku memilih aman, diam, mengamati, lalu pulang membawa seribu pertanyaan.

Tetapi mungkin ada satu hal yang harus kupelajari dari kejadian kemarin, tidak semua kesempatan akan datang dalam bentuk yang jelas.

Kadang seseorang hanya berdiri membelakangimu.

Kadang dia hanya tinggal sedikit lebih lama.

Kadang dia tidak mengatakan apa-apa karena sedang menunggu kamu mengatakan sesuatu lebih dulu.

Dan mungkin, selama ini, bukan hanya dia yang pengecut.

Aku juga.

Bedanya, dia mungkin sudah berkali-kali mencoba memberi kesempatan.

Sedangkan aku selalu menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat.

Comments

Popular Posts