Ternyata, Menjadi Introvert Tidak Selalu Seburuk yang Orang Kira


Saya dulu sering berpikir, mungkin ada yang salah dengan diri saya karena saya tidak terlalu suka banyak bicara.

Kalau ada acara yang ramai, saya lebih sering mencari tempat yang agak tenang. Kalau sudah terlalu lama bertemu banyak orang, rasanya ingin cepat pulang. Dan setelah sampai rumah, saya bisa menikmati waktu sendirian tanpa merasa sedang kehilangan sesuatu.

Anehnya, bagi sebagian orang, kebiasaan seperti itu kadang dianggap aneh.

Pendiam dibilang tidak percaya diri.

Tidak banyak bergaul dianggap sombong.

Lebih suka sendiri dianggap kesepian.

Lama-lama saya belajar bahwa mungkin memang cara saya menjalani hidup sedikit berbeda. Bukan berarti lebih baik, juga bukan berarti lebih buruk. Saya hanya punya cara sendiri untuk mengatur energi dan menghadapi banyak hal.

Saya memang tidak suka terburu-buru mengambil keputusan

Kalau ada sesuatu yang harus saya putuskan, saya biasanya membutuhkan waktu.

Kadang orang mengira saya ragu.

Padahal sebenarnya saya sedang berpikir.

Saya ingin melihat kemungkinan-kemungkinannya terlebih dahulu. Apa akibatnya kalau saya memilih ini? Bagaimana kalau ternyata keputusan saya salah?

Mungkin karena terlalu banyak berpikir, saya memang kadang terlihat lambat mengambil keputusan.

Tetapi belakangan saya justru merasa, tidak semua keputusan memang harus dibuat dengan tergesa-gesa.

Ada keputusan yang lebih baik dibiarkan mengendap sebentar di kepala.

Saya ternyata nyaman sendirian

Ini mungkin salah satu hal yang paling sering disalahpahami.

Saya bisa menikmati waktu sendirian.

Tidak harus selalu ada orang di sekitar saya. Tidak harus selalu ada percakapan. Bahkan kadang saya merasa cukup dengan duduk sendiri, membaca, menulis, atau sekadar memikirkan banyak hal.

Dulu saya sempat merasa aneh dengan kebiasaan itu.

Sekarang tidak lagi.

Saya mulai memahami bahwa sendirian dan kesepian adalah dua hal yang berbeda.

Saya bisa sendirian tanpa merasa kesepian.

Justru dari kesendirian itu kadang saya mendapatkan kembali energi yang hilang setelah terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain.

Saya lebih sering mendengarkan

Dalam sebuah percakapan, saya tidak selalu menjadi orang yang paling banyak bicara.

Kadang saya lebih suka mendengarkan.

Bukan karena tidak punya sesuatu untuk dikatakan.

Saya hanya merasa tidak semua hal harus langsung saya komentari.

Ada kalanya saya lebih nyaman mendengarkan cerita seseorang sampai selesai, memperhatikan cara dia bercerita, kemudian baru memberikan respons.

Mungkin bagi orang lain saya terlihat terlalu diam.

Tetapi bagi saya, mendengarkan juga merupakan bentuk perhatian.

Saya tidak membutuhkan banyak teman

Saya pernah berpikir bahwa punya banyak teman mungkin berarti kehidupan sosial kita baik.

Sekarang saya tidak terlalu memikirkannya.

Saya lebih nyaman memiliki beberapa orang yang benar-benar saya kenal dan percaya daripada memiliki banyak kenalan tetapi tidak benar-benar dekat dengan siapa pun.

Saya tidak terlalu membutuhkan banyak orang untuk bercerita.

Beberapa orang yang bisa diajak berbicara dengan nyaman sudah cukup.

Saya suka memperhatikan hal-hal kecil

Karena saya tidak terlalu banyak bicara, mungkin saya justru lebih banyak memperhatikan.

Saya bisa memperhatikan perubahan kecil dalam ekspresi seseorang.

Nada bicara yang berubah.

Cara seseorang tiba-tiba menjadi diam.

Atau sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak terlalu penting.

Kadang saya sendiri tidak tahu apakah ini kelebihan atau malah membuat saya terlalu banyak berpikir.

Tetapi saya memang sering menangkap hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang lain.

Kalau sedang tertekan, saya biasanya diam dulu

Saya bukan tipe orang yang langsung meluapkan semuanya ketika sedang menghadapi masalah.

Biasanya saya mundur sebentar.

Diam.

Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

Kadang membutuhkan waktu cukup lama sampai saya tahu harus berkata atau melakukan apa.

Mungkin dari luar terlihat seperti pasif.

Padahal di dalam kepala saya justru sedang ramai sekali.

Saya hanya tidak ingin memberikan respons ketika emosi sedang berada di puncaknya.

Saya lebih suka menunggu sampai kepala agak dingin.

Dan saya cukup sering melakukan refleksi diri

Mungkin ini bagian yang paling melelahkan sekaligus paling berguna.

Saya sering memikirkan kembali sesuatu yang sudah terjadi.

Apa yang tadi salah?

Mengapa saya mengatakan itu?

Mengapa saya bereaksi seperti itu?

Apa yang seharusnya bisa saya lakukan dengan lebih baik?

Kadang refleksi seperti ini membantu saya belajar.

Tetapi kadang juga bisa berubah menjadi overthinking. 

Jadi saya masih belajar membedakan antara merenung untuk memahami diri dan memikirkan sesuatu berulang-ulang tanpa menemukan jalan keluar.

Pada akhirnya, saya mulai berdamai dengan kenyataan bahwa saya memang seperti ini.

Saya tidak selalu nyaman berada di tengah keramaian.

Saya tidak selalu punya sesuatu untuk dikatakan.

Saya membutuhkan waktu sendiri.

Saya lebih suka hubungan yang tidak terlalu banyak tetapi terasa dekat.

Dan saya membutuhkan waktu untuk memahami banyak hal sebelum akhirnya berbicara atau mengambil keputusan.

Dulu mungkin saya menganggap semua itu sebagai kekurangan.

Sekarang saya melihatnya sedikit berbeda.

Mungkin saya bukan orang yang paling ramai di sebuah ruangan.

Tetapi saya bisa menjadi orang yang memperhatikan.

Saya mungkin tidak cepat berbicara.

Tetapi saya berusaha berpikir sebelum bicara.

Saya mungkin tidak punya banyak teman.

Tetapi saya menghargai orang-orang yang memang dekat dengan saya.

Dan saya mungkin sering membutuhkan kesendirian.

Tetapi ternyata, di dalam kesendirian itulah saya justru sering menemukan diri saya sendiri.

Comments

Popular Posts