Menunggu Saat yang Tepat
Sebenarnya kasihan juga melihatnya sendirian selama dua hari ini.
Aku tidak tahu ke mana teman-temannya. Biasanya dia tidak sendirian seperti sekarang. Selalu ada saja orang-orang di sekitarnya. Dan mungkin, ketika bersama teman-temannya, dia punya lebih banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuatku sadar akan keberadaannya.
Tingkah kecil.
Gerak-gerik yang sedikit nakal.
Cara berdiri di tempat tertentu.
Atau sekadar melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu, tetapi entah bagaimana selalu berhasil membuat mataku tertuju kepadanya.
Tapi dua hari ini berbeda.
Dia sendirian.
Dan mungkin karena tidak ada teman-temannya, dia juga tidak punya banyak ruang untuk melakukan semua itu.
Meski begitu, aku masih melihatnya beberapa kali mencoba mencari perhatianku.
Hanya saja tidak sebanyak biasanya.
Lebih sederhana.
Lebih diam.
Seperti seseorang yang sebenarnya ingin diperhatikan, tetapi tidak punya banyak cara untuk membuat dirinya terlihat.
Aku melihatnya.
Tentu saja aku melihatnya.
Tetapi aku tidak berani mendekat.
Padahal sebenarnya, kalau dipikir-pikir, inilah kesempatan yang selama ini mungkin kutunggu.
Dia sedang sendiri.
Aku juga punya kesempatan.
Tidak ada teman-temannya yang mungkin membuat suasana menjadi canggung. Tidak ada orang yang harus kami hiraukan. Bahkan kalau aku mau, mungkin aku bisa mendekat dan membisikkan tiga kata itu kepadanya.
Tiga kata yang sudah berkali-kali kusiapkan.
Tiga kata yang bahkan dalam mimpi sudah berhasil kuucapkan.
I love you.
Tapi aku tidak melakukannya.
Aku tidak tega.
Entah kenapa, aku justru merasa ada sesuatu yang tidak pantas kalau aku melakukannya sekarang.
Mungkin karena hari ini dia tidak banyak memberiku alasan untuk mendekat.
Tidak ada tingkah kecil yang biasanya membuatku yakin bahwa dia sedang mencari perhatianku.
Tidak ada momen yang terasa seperti sebuah celah.
Dia hanya sendirian.
Dan aku tidak ingin membuat kesendirian itu tiba-tiba berubah menjadi keterkejutan.
Aku ingin menangkapnya pada saat dia sedang benar-benar mencariku.
Bukan ketika dia sedang diam.
Bukan ketika dia sedang sendirian.
Aku ingin suatu saat melihatnya melakukan sesuatu yang jelas-jelas membuatku sadar, dia sedang ingin aku melihatnya.
Dan ketika saat itu tiba, mungkin aku akan mendekat.
Tidak perlu banyak bicara.
Tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
Mungkin cukup berdiri di dekatnya, menatapnya sebentar, lalu membisikkan tiga kata yang selama ini terus berputar di kepalaku.
Aku ingin pengakuan itu terjadi ketika dia memang sedang membuka sedikit ruang untukku.
Bukan ketika aku mengambil keuntungan dari keadaan.
Mungkin itu sebabnya aku tidak tega melihatnya sendirian seperti ini.
Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang yang biasanya begitu sibuk mencari perhatian tiba-tiba hanya berdiri sendiri, tanpa banyak tingkah.
Rasanya seperti melihat sisi dirinya yang lebih rapuh.
Dan anehnya, justru ketika dia tidak banyak melakukan apa-apa, aku semakin ingin mendekatinya.
Tapi aku tetap menahan diri.
Bukan karena aku tidak ingin.
Justru karena aku terlalu ingin.
Aku takut kalau tiba-tiba datang dan membisikkan tiga kata itu ketika dia sama sekali tidak menduganya, dia akan terkejut.
Aku tidak ingin wajah terkejut itu menjadi jawaban pertama yang kuterima.
Aku ingin melihat matanya ketika dia sadar bahwa aku akhirnya benar-benar mendekat.
Aku ingin dia tahu bahwa aku datang bukan karena kebetulan.
Bukan karena dia sedang sendirian.
Tetapi karena pada saat itu, aku benar-benar memilih untuk datang kepadanya.
Jadi untuk sementara, biarlah dia sendiri.
Dan biarlah aku tetap menunggu.
Mungkin kesempatan yang tepat memang bukan ketika dia tidak punya siapa-siapa.
Mungkin kesempatan yang tepat adalah ketika, di tengah banyak orang sekalipun, dia masih menemukan satu cara untuk mencari mataku.
Dan ketika itu terjadi...
semoga kali ini aku tidak kembali menjadi pengecut.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!