Aku Jatuh Cinta Lagi Ketika Melihatnya Bersama Anak Kecil

 


Mungkin aku memang mudah jatuh cinta kepadanya.

Setidaknya, begitulah yang kurasakan sore itu.

Bukan karena dia sedang mencariku. Bukan karena dia berdiri di dekatku, melirik ke arahku, atau melakukan tingkah-tingkah kecil yang selama ini sering membuatku salah tingkah. Kali ini aku justru melihatnya dari jauh, ketika dia sedang bersama seorang anak perempuan kecil yang sering bermain di kantor.

Di kantorku memang diperbolehkan membawa anak kecil. Hanya saja, mereka tidak boleh terlalu lama berada di dalam ruangan karena bisa mengganggu pekerjaan. Biasanya menjelang sore memang mulai banyak anak kecil datang. Ada yang baru pulang kursus, ada yang mungkin selesai mengaji, lalu menunggu orang tuanya menyelesaikan pekerjaan.

Anak-anak itu biasanya hanya bermain sebentar.

Tapi entah kenapa, sore itu perhatianku justru tertuju kepadanya.

Aku melihat bagaimana dia memperlakukan anak kecil itu.

Ada sesuatu yang berbeda dari cara dia bersikap.

Dia terlihat begitu akrab. Tidak canggung. Tidak seperti orang dewasa yang sekadar ikut bermain karena kebetulan ada anak kecil di dekatnya. Ada kelembutan yang muncul begitu saja dari caranya menyentuh dan memperlakukan anak itu.

Ketika menggendongnya, misalnya.

Dia tidak sekadar mengangkat tubuh kecil itu. Tangannya seperti otomatis mencari posisi yang membuat si anak merasa aman. Cara dia memeluknya pun begitu hati-hati, seolah tubuh kecil yang ada dalam pelukannya adalah sesuatu yang harus dijaga.

Aku memperhatikannya diam-diam.

Dan tiba-tiba aku melihat sesuatu yang selama ini mungkin tidak pernah benar-benar kusadari.

Dia punya sifat keibuan.

Bukan karena dia sedang menjadi seorang ibu. Bukan pula karena ada sesuatu yang secara terang-terangan menunjukkan hal itu.

Tapi dari caranya mengayomi anak kecil.

Dari cara dia membuat anak itu nyaman.

Dari caranya memeluk tanpa terlihat berlebihan, menggendong tanpa membuat anak itu merasa terpaksa, dan memperlakukannya seperti seseorang yang harus dijaga.

Ada kelembutan yang tidak dibuat-buat.

Dan anehnya, justru itu yang membuat dadaku kembali berantakan.

Aku yang beberapa hari ini mulai sering merasa sebal kepadanya, mendadak seperti lupa alasan mengapa kemarin aku ingin menghindarinya.

Aku kembali melihatnya sebagai seseorang yang berbeda.

Bukan perempuan yang suka mencari perhatianku.

Bukan perempuan yang kadang membuatku jengkel karena tingkahnya.

Bukan pula seseorang yang membuatku sibuk menebak-nebak apakah dia menyukaiku atau tidak.

Tapi seorang perempuan yang, entah mengapa, terlihat begitu nyaman ketika sedang mengayomi anak kecil.

Dan aku menyukai pemandangan itu.

Terlalu menyukainya.

Mungkin karena ada sesuatu dalam diriku yang memang tertarik pada kelembutan seperti itu. Ada rasa hangat ketika melihat seseorang mampu membuat anak kecil merasa aman hanya dengan pelukan dan cara memperlakukannya.

Aku tidak tahu apakah kesimpulanku benar.

Mungkin aku hanya sedang mengarang makna dari sebuah pemandangan sederhana.

Mungkin dia memang terbiasa dengan anak kecil.

Mungkin memang begitulah sifatnya kepada siapa saja.

Tapi bukankah cinta memang sering bermula dari hal-hal yang tidak masuk akal?

Dari sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi tiba-tiba menjadi sangat berarti bagi kita.

Kemarin aku sempat merasa jenuh melihatnya.

Hari ini, hanya karena melihat bagaimana dia memeluk seorang anak kecil, perasaanku seperti kembali ke tempat semula.

Aku jatuh cinta lagi.

Dan lucunya, dia bahkan tidak melakukan apa pun kepadaku.

Dia tidak melihatku.

Dia tidak mencariku.

Dia tidak mencoba menarik perhatianku.

Dia hanya menggendong seorang anak kecil.

Dan aku, dari kejauhan, justru kembali jatuh hati kepadanya.

Comments

Popular Posts