Berakhir


Berakhir.

Kemarin adalah batas terakhir dari penantianku.

Dan mungkin yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan bukan ketika seseorang benar-benar pergi, melainkan ketika kita tahu bahwa hari terakhir itu sudah tiba, tetapi kita tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengatakan apa-apa.

Kemarin adalah hari terakhirku.

Aku tahu sejak pagi bahwa waktuku tinggal sedikit.

Entah kenapa, hari itu terasa berbeda. Ada perasaan seperti sedang menghitung waktu, meskipun aku sendiri tidak tahu sampai kapan harus menunggu. Aku menjalani hari seperti biasa, menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melakukan hal-hal yang selama ini memang kulakukan.

Tapi di dalam kepala, ada satu hal yang terus berputar.

Hari ini aku harus bertemu dengannya.

Setidaknya sekali.

Aku masih menyimpan harapan kecil itu.

Mungkin nanti dia datang.

Mungkin nanti kami berpapasan.

Mungkin ada kesempatan ketika kami hanya berdua.

Mungkin ada percakapan singkat yang akhirnya memberiku keberanian untuk mengatakan semuanya.

Aku sudah terlalu sering membayangkan bagaimana percakapan itu akan dimulai.

Bahkan kalimat-kalimatnya sudah beberapa kali kususun di kepala.

Tidak perlu dramatis.

Tidak perlu panjang.

Aku hanya ingin jujur.

Aku hanya ingin mengatakan bahwa selama ini ada sesuatu yang kurasakan, sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa kusampaikan.

Aku ingin mengatakannya sebelum semuanya benar-benar berakhir.

Karena setelah hari itu, semuanya akan berubah.

Aku akan pergi.

Tempat itu tidak lagi menjadi bagian dari keseharianku.

Dan dia tidak lagi menjadi seseorang yang bisa kutemui begitu saja seperti sebelumnya.

Itulah sebabnya kemarin terasa seperti sebuah kesempatan terakhir.

Aku menunggu.

Mungkin bukan dengan berdiri diam di satu tempat, tetapi dengan cara yang lebih sederhana, sesekali melihat ke arah yang biasanya membuatku berharap, memperhatikan siapa yang datang, bertanya dalam hati apakah hari itu akhirnya menjadi hari yang kutunggu-tunggu.

Setiap ada suara langkah, ada sedikit harapan.

Setiap ada seseorang yang muncul, ada sepersekian detik ketika pikiranku bertanya, jangan-jangan dia.

Tapi bukan.

Lalu waktu berjalan lagi.

Pagi bergeser menjadi siang.

Siang perlahan menuju sore.

Dan aku masih belum bertemu dengannya.

Aku mulai sadar bahwa kesempatan yang selama ini kupikir masih ada ternyata semakin sedikit.

Namun aku tetap menunggu.

Barangkali nanti.

Barangkali sebelum pulang.

Barangkali ada satu kebetulan kecil yang mempertemukan kami di penghujung hari.

Aku masih menyisakan harapan bahkan ketika waktu hampir habis.

Sampai akhirnya hari itu benar-benar berada di ujungnya.

Dan dia tetap tidak datang.

Aku tidak tahu sedang apa dia.

Aku tidak tahu kenapa belakangan ini dia tidak pernah datang lagi.

Aku tidak tahu apakah memang ada sesuatu yang terjadi, apakah semuanya hanya kebetulan, atau memang hidup sedang membawa kami ke arah yang berbeda.

Aku hanya tahu satu hal,

kemarin adalah hari terakhirku.

Dan aku tidak bertemu dengannya.

Sesederhana itu.

Tidak ada adegan terakhir seperti yang kubayangkan.

Tidak ada kesempatan untuk menghentikannya sebentar.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada pengakuan.

Tidak ada kalimat, “sebelum aku pergi, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.”

Tidak ada bahkan sebuah perpisahan yang layak disebut perpisahan.

Hari itu hanya selesai.

Dan bersamaan dengan berakhirnya hari, kesempatan yang selama ini kutunggu ikut menghilang.

Aku pulang membawa semua kalimat yang sudah kususun sendiri.

Kalimat-kalimat yang tidak pernah keluar dari mulutku.

Perasaan yang selama ini kusimpan masih tetap berada di tempatnya.

Tidak berkurang.

Tidak tersampaikan.

Hanya tidak lagi memiliki kesempatan yang sama untuk diucapkan.

Rinduku tidak bertemu.
Penantianku menjadi kelabu.
Perasaanku tetap tak terucapkan.

Menyesal?

Iya.

Tentu saja.

Ada bagian dari diriku yang masih bertanya-tanya, kenapa kemarin aku tidak bertemu dengannya?

Ada bagian lain yang menyalahkan diriku sendiri.

Seandainya aku lebih berani.

Seandainya aku tidak terlalu sibuk memikirkan momentum.

Seandainya aku tidak menunggu keadaan menjadi sempurna.

Seandainya aku bisa menciptakan sendiri kesempatan itu.

Mungkin semuanya akan berbeda.

Tapi sekarang semua itu hanya seandainya.

Dan aku mulai belajar bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan keberanian.

Kadang kita sudah menyiapkan kata-kata.

Sudah menyiapkan hati.

Sudah menyiapkan kemungkinan diterima maupun ditolak.

Tapi orang yang ingin kita temui justru tidak datang.

Dan pada akhirnya, kita hanya bisa menerima bahwa tidak semua cerita mendapatkan kesempatan untuk memiliki akhir yang kita inginkan.

Mungkin memang begini akhirnya.

Aku pernah berpikir bahwa aku harus mengatakan perasaanku supaya tidak menyesal.

Ternyata aku tetap harus menghadapi penyesalan itu.

Sedikit.

Mungkin cukup lama.

Tapi tidak apa-apa.

Aku akan membawanya sebagai bagian dari cerita yang pernah benar-benar kurasakan.

Karena mungkin tidak semua perasaan harus mendapatkan jawaban.

Tidak semua rindu harus berakhir pada pertemuan.

Tidak semua penantian harus berujung pada kepemilikan.

Ada cerita yang hanya datang untuk membuat kita merasakan sesuatu, kemudian berhenti sebelum sempat diberi nama.

Dan mungkin cerita ini adalah salah satunya.

Aku masih tidak tahu apakah ini benar-benar selesai.

Mungkin suatu hari nanti kami dipertemukan kembali.

Mungkin kehidupan akan membawa kami ke tempat yang sama, pada waktu yang berbeda.

Mungkin ada halaman lain yang belum sempat kutulis.

Atau mungkin memang cukup sampai di sini.

Aku tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin memaksa jawabannya.

Aku hanya ingin percaya bahwa Tuhan punya rencana yang baik untukku.

Mungkin semua kegagalan bertemu selama ini memang bukan sesuatu yang harus terus kulawan.

Mungkin ada sesuatu yang sedang dijauhkan dariku.

Mungkin ada sesuatu yang sedang dijaga.

Mungkin Tuhan tahu sesuatu yang belum aku tahu.

Aku tidak tahu apakah itu benar.

Tapi aku memilih untuk percaya.

Karena kalau kemarin memang benar-benar menjadi hari terakhirku, mungkin tugasku sekarang bukan lagi mencari kesempatan yang sudah hilang.

Melainkan belajar menerima bahwa kesempatan itu memang sudah selesai.

Jadi untuk sekarang, aku tutup ceritaku sampai di sini.

Tidak dengan kemarahan.

Tidak dengan kebencian.

Tidak juga dengan kepastian bahwa semuanya selesai untuk selamanya.

Hanya sebuah titik.

Aku tidak akan lagi mencari pertemuan yang tidak kunjung datang.

Aku tidak akan lagi menunggu seseorang yang mungkin memang tidak akan datang.

Kalau suatu hari nanti kehidupan ingin mempertemukan kami kembali, biarlah itu terjadi tanpa harus kukejar.

Tapi untuk sekarang, aku akan berjalan.

Kemarin adalah hari terakhirku.

Hari terakhir aku menunggu.

Hari terakhir aku berharap akan ada kesempatan.

Dan meskipun kesempatan itu tidak pernah datang, aku tetap ingin menganggap hari itu sebagai penutup yang diam-diam.

Tidak indah.

Tidak seperti yang kubayangkan.

Tapi nyata.

Setelah ini, ceritaku akan berganti.

Bukan tentang dia lagi.

Tentang aku.

Tentang hidupku setelah semua ini.

Tentang tempat-tempat baru, hari-hari baru, dan mungkin kebahagiaan yang selama ini tidak kusadari sedang menungguku di tempat lain.

Rinduku tidak bertemu.
Penantianku menjadi kelabu.
Perasaanku tetap tak terucapkan.

Dan mungkin memang begitulah satu cerita harus berakhir.

Bukan karena perasaannya tidak pernah ada.

Bukan karena aku tidak ingin memperjuangkannya.

Tetapi karena waktunya sudah selesai.

Kemarin adalah hari terakhirku.

Dan kali ini, aku benar-benar pergi.

Sampai di sini.

Comments

Popular Posts