Dia adalah Standar Kesempurnaan di Mataku


Kamu tahu hal yang paling menyedihkan?

Ketika sedang scrolling media sosial, hampir semua perempuan yang lewat di layar tiba-tiba mengingatkanku kepadanya.

Entah karena bentuk wajahnya. Senyumnya. Cara seseorang mengikat rambut. Tatapan mata yang kebetulan mirip. Bahkan kadang hanya karena seseorang berdiri dengan cara tertentu, pikiranku sudah lebih dulu membawa namanya.

Aku tidak pernah berniat membandingkan.

Tapi entah bagaimana, aku selalu melakukannya.

Orang-orang yang kutemui, perempuan yang kulihat di media sosial, bahkan orang asing yang hanya lewat beberapa detik di depanku, selalu saja ada bagian dari mereka yang membuatku berpikir tentang dia.

Lalu tanpa sadar aku membuat perbandingan.

Cantik, tapi tidak seperti dia.

Menarik, tapi tetap berbeda.

Senyumnya bagus, tetapi entah mengapa senyumnya tidak membuatku berhenti seperti senyum dia.

Mungkin ini yang paling berbahaya dari menyukai seseorang terlalu dalam. Kita tidak lagi sekadar menyukai orang itu. Kita mulai menjadikannya ukuran.

Dia menjadi standar kecantikan.

Standar ketertarikan.

Standar kesempurnaan yang sebenarnya bahkan tidak pernah dia minta untuk menjadi seperti itu.

Padahal aku tahu, dia juga manusia biasa. Pasti punya kekurangan. Pasti ada hal-hal yang mungkin tidak kusukai kalau aku mengenalnya lebih dekat.

Tapi karena aku tidak pernah benar-benar memilikinya, pikiranku justru bebas menciptakan versi dirinya yang sempurna.

Dan mungkin karena itulah aku semakin sulit berhenti.

Lucunya, kepada orang lain aku bisa bersikap biasa.

Aku bisa melihat mereka tanpa merasa gugup.

Aku bisa tersenyum kepada orang yang baru kukenal.

Aku bahkan bisa berbicara dengan orang lain tanpa terlalu banyak berpikir.

Tapi ketika berhadapan dengannya, keberanianku seperti menghilang entah ke mana.

Aku tidak berani menyapanya.

Tidak berani memulai percakapan.

Tidak berani menanyakan hal sederhana yang sebenarnya bisa saja kutanyakan kepada siapa pun.

Aku hanya berani melihatnya dari kejauhan.

Itu pun dengan cara yang menyedihkan.

Aku harus pura-pura tidak melihat ketika sebenarnya mataku sedang mencarinya.

Kalau dia lewat, aku justru mengalihkan pandangan.

Kalau mata kami hampir bertemu, aku buru-buru melihat ke tempat lain.

Seolah-olah dengan berpura-pura tidak memperhatikannya, aku bisa menyembunyikan betapa besar sebenarnya perhatianku kepadanya.

Padahal mungkin dia tahu.

Mungkin dia tidak tahu.

Aku sendiri tidak pernah benar-benar yakin.

Dan mungkin itulah bagian paling ironis dari semuanya.

Seseorang yang diam-diam kujadikan standar dari kecantikan dan kesempurnaan justru menjadi satu-satunya orang yang tidak mampu kusapa dengan sederhana.

Aku bisa membandingkan seluruh dunia dengannya.

Tetapi untuk sekadar berkata, "Hai," kepadanya saja aku masih harus mengumpulkan keberanian.

Barangkali memang begitulah perasaan bekerja.

Kita bisa begitu berani di dalam kepala sendiri.

Membayangkan percakapan.

Membayangkan kedekatan.

Membayangkan berbagai kemungkinan.

Tetapi ketika orangnya benar-benar berdiri beberapa meter di depan mata, kita kembali menjadi pengecut.

Dan aku masih seperti itu.

Masih memandangnya dari kejauhan.

Masih pura-pura tidak melihat.

Sementara diam-diam, hampir setiap kali melihat orang lain, aku selalu mencari sedikit bagian darinya.

Seolah-olah tanpa kusadari, dia sudah menjadi ukuran yang dipakai pikiranku untuk mengenali sesuatu yang indah.

Padahal dia sendiri mungkin tidak pernah tahu bahwa seseorang pernah melihatnya sejauh itu.

Comments

Popular Posts