Dia Menjadi Bagian dari Fantasi Liarku
Sebagai seorang pria biasa, aku tidak bisa memungkiri bahwa pernah ada saat-saat ketika dia menjadi bagian dari fantasi liarku.
Tidak terlalu sering.
Bahkan mungkin hanya beberapa kali.
Tapi pernah.
Dan setiap kali menyadarinya, ada bagian dari diriku yang merasa tidak nyaman.
Aku merasa bersalah karena seseorang yang selama ini hanya berani kupandang dari kejauhan, seseorang yang bahkan tidak berani kusapa dengan leluasa, ternyata bisa masuk begitu jauh ke dalam pikiranku.
Kadang aku bertanya-tanya, kenapa harus dia?
Kenapa kehadirannya bisa sejauh itu memengaruhiku?
Padahal di dunia nyata, aku bahkan tidak melakukan apa-apa.
Aku hanya melihatnya.
Kadang mencuri pandang.
Kadang berharap dia melihatku.
Kadang sengaja pura-pura tidak melihatnya ketika sebenarnya seluruh perhatianku tertuju kepadanya.
Tetapi ternyata apa yang tidak kulakukan di dunia nyata justru bisa berkembang begitu jauh di dalam kepala.
Bahkan pernah dia muncul dalam mimpiku.
Dan yang lebih membuatku gila, ketika membayangkan kemungkinan bahwa suatu hari kami benar-benar bersama, pikiranku pun kadang bergerak ke arah yang sama.
Saat itulah aku biasanya seperti ingin menertawakan diriku sendiri.
Gila.
Aku semakin gila hanya karena kehadirannya.
Seseorang yang bahkan belum tentu memiliki perasaan yang sama kepadaku sudah mampu memenuhi ruang di kepalaku sedemikian rupa.
Mungkin ini yang membuatku mulai berpikir bahwa aku harus melakukan sesuatu.
Bukan karena aku ingin mendapatkan sesuatu darinya.
Bukan pula karena aku ingin memaksa perasaan ini menjadi sebuah hubungan.
Aku hanya ingin berhenti hidup dalam dugaan.
Selama ini aku terus menebak-nebak.
Apakah dia menyukaiku?
Apakah tatapannya memang memiliki arti?
Apakah sikapnya memang ditujukan kepadaku?
Atau jangan-jangan semua itu hanya cara pikiranku sendiri yang terlalu ingin menemukan tanda?
Aku tidak pernah benar-benar tahu.
Dan ketidakpastian itulah yang mungkin membuat semuanya semakin besar.
Karena ketika tidak ada jawaban, imajinasi punya ruang yang tidak terbatas.
Aku bisa membayangkan apa saja.
Aku bisa membuat berbagai kemungkinan.
Aku bisa menjadikannya seseorang yang semakin sempurna di dalam pikiranku, padahal aku sendiri belum tentu mengenalnya sedalam itu.
Mungkin karena itu aku mulai bertanya:
Haruskah aku mengatakan kepadanya bahwa aku menyukainya?
Bukan untuk menuntut jawaban.
Bukan untuk membuatnya merasa harus membalas.
Tetapi sekadar mengatakan sesuatu yang selama ini hanya berputar-putar di kepalaku.
Mungkin dengan mengatakannya, semuanya menjadi lebih nyata.
Kalau dia ternyata tidak memiliki perasaan yang sama, setidaknya aku tahu.
Aku bisa berhenti menerka-nerka.
Berhenti membaca terlalu banyak dari sebuah tatapan.
Berhenti menjadikan setiap pertemuan sebagai bahan untuk membangun cerita baru di kepalaku.
Dan mungkin, yang paling penting, aku bisa berhenti menjadikannya sekadar seseorang yang hidup dalam fantasi.
Tetapi di sisi lain, aku juga takut.
Bagaimana kalau setelah aku mengatakannya, semuanya berubah?
Bagaimana kalau dia menjauh?
Bagaimana kalau aku justru kehilangan sesuatu yang selama ini terasa begitu menyenangkan?
Atau bagaimana kalau ternyata selama ini aku hanya jatuh cinta kepada versi dirinya yang kubentuk sendiri?
Itulah yang membuatku terus diam.
Aku ingin kejelasan, tetapi takut pada jawabannya.
Aku ingin mendekat, tetapi ketika dia ada di depan mata, aku justru mundur.
Aku ingin mengatakan bahwa aku menyukainya, tetapi kata-kata itu selalu terdengar jauh lebih mudah ketika dia tidak berada di hadapanku.
Dan mungkin aku harus jujur kepada diriku sendiri:
Yang sebenarnya membuatku lelah bukan hanya karena aku menyukainya.
Aku lelah karena terlalu lama menyimpan semuanya sendiri.
Perasaan itu akhirnya mencari jalan keluar melalui lamunan, mimpi, khayalan, dan berbagai kemungkinan yang kubangun seorang diri.
Mungkin karena di sana tidak ada risiko ditolak.
Tidak ada wajah yang berubah.
Tidak ada hubungan yang menjadi canggung.
Tidak ada jawaban yang harus kuterima.
Hanya ada aku dan pikiranku sendiri.
Tapi sampai kapan?
Mungkin suatu hari aku memang harus memilih antara terus membiarkan dia tinggal di kepalaku, atau membawanya keluar ke dunia nyata, dengan segala kemungkinan yang mungkin menyakitkan.
Sebab mungkin ketenangan tidak selalu datang setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
Kadang ketenangan datang setelah kita akhirnya mengetahui kenyataan.
Dan mungkin itu yang sebenarnya kucari.
Bukan memilikinya.
Bukan memastikan dia mencintaiku.
Aku hanya ingin tahu apakah selama ini semua yang kurasakan punya tempat di dunia nyata, atau memang hanya akan menjadi cerita yang terus hidup di dalam kepalaku.
Karena kalau terus seperti ini, aku takut suatu hari nanti aku tidak lagi tahu mana perasaan yang sebenarnya, mana harapan, dan mana fantasi yang terlalu lama kubiarkan tumbuh.
Dan sekali lagi aku bertanya kepada diriku sendiri,
Mungkin aku memang harus mengatakan bahwa aku menyukainya.
Atau mungkin, seperti biasanya, besok ketika bertemu dengannya aku akan kembali hanya memandang dari kejauhan, lalu berpura-pura tidak melihat.





Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!