Dia Selalu Punya Cara untuk Menarik Perhatianku
Aku kira yang paling melelahkan dari kisah ini bukan karena kita tidak bertemu, melainkan karena kita terus bertemu tanpa pernah benar-benar mengatakan apa-apa.
Dia selalu punya cara untuk menungguku, meskipun pertemuan itu sering kali hanya sebentar. Kadang bahkan hanya sekilas. Tapi entah bagaimana, selalu ada saja tingkah kecil yang membuatku sadar bahwa dia sedang berusaha menarik perhatianku. Dan justru hal-hal kecil semacam itulah yang membuatku semakin gamang.
Di satu sisi, aku menikmati semuanya. Aku menikmati melihat bagaimana dia berusaha terlihat di depanku, bagaimana dia mencari posisi yang membuat mataku menangkap keberadaannya, bagaimana dia seolah-olah melakukan sesuatu dengan santai padahal aku merasa ada maksud tertentu di baliknya. Ada kelucuan tersendiri melihat seseorang yang mungkin sedang berusaha keras tetapi tetap ingin terlihat seolah tidak sedang berusaha. Kadang aku ingin tertawa melihat tingkahnya. Tetapi di saat yang sama, ada bagian dalam diriku yang justru merasa sayang jika semua itu berhenti.
Karena aku menyukainya.
Itulah masalahnya.
Aku pura-pura mengabaikan bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku terlalu sadar bahwa aku peduli. Aku tahu kalau aku membalas semua perhatiannya dengan terlalu terbuka, mungkin aku sendiri yang akan semakin tenggelam dalam kisah yang selama ini tidak pernah memiliki nama. Maka aku memilih memasang jarak. Aku membiarkannya bertanya-tanya. Aku membiarkan dia mencari-cari celah untuk mendapatkan perhatianku, sementara aku pura-pura sibuk dengan duniaku sendiri.
Tetapi sampai kapan?
Kadang aku berpikir, mungkin sudah waktunya aku mengambil inisiatif. Bukan langsung mengungkapkan semuanya, tetapi setidaknya memperjelas apa sebenarnya yang sedang terjadi di antara kami. Aku ingin bertanya, dengan cara yang sederhana, tanpa drama, tanpa tuntutan, “Sebenarnya selama ini kamu sedang apa?”
Karena aku juga ingin tahu apakah semua yang kulihat selama ini memang punya makna, atau hanya aku yang terlalu jauh menafsirkannya.
Namun ada sesuatu yang membuatku ragu.
Kalau aku benar-benar bertanya, mungkin aku akan kehilangan sesuatu yang selama ini justru membuat kisah ini menarik. Aku akan kehilangan tingkah absurdnya. Kehilangan momen ketika dia pura-pura tidak melihatku padahal jelas-jelas ingin kulihat. Kehilangan adegan ketika dia berada di dekatku tanpa alasan yang jelas. Kehilangan permainan kecil yang membuat pertemuan beberapa detik terasa seperti sesuatu yang layak ditunggu sepanjang hari.
Selama semuanya belum dikatakan, aku masih bisa menikmati misterinya.
Tetapi misteri juga punya batas.
Sebab kalau aku terus mengabaikannya, mungkin suatu hari dia benar-benar lelah. Mungkin dia akan berhenti menunggu. Berhenti mencari perhatian. Berhenti melakukan hal-hal kecil yang selama ini diam-diam kusukai. Dan ketika itu terjadi, mungkin justru aku yang akan merasa kehilangan.
Aku seperti berdiri di tengah dua pilihan yang sama-sama membuatku takut.
Kalau aku maju, mungkin aku kehilangan permainan kecil ini.
Kalau aku tetap diam, mungkin aku kehilangan orangnya.
Dan yang paling ironis, selama ini aku berpura-pura tidak peduli agar tidak kehilangan dia, padahal bisa jadi sikap diamku justru perlahan-lahan membuatnya pergi.
Mungkin sudah waktunya aku berhenti bertanya siapa yang lebih pengecut.
Dia yang tidak berani menyapa?
Atau aku yang terus berharap dia menyapa, tetapi setiap kali dia mendekat, aku malah berpura-pura tidak melihat?
Entahlah.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!